KERAMAT BUKAN TOLAK UKUR KEWALIAN
BOJONEGORO — Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Rifki menekankan pentingnya memahami konsep tasawuf secara proporsional, khususnya terkait fenomena keramat atau karomah yang kerap dikaitkan dengan derajat kewalian seseorang. Dalam Kitab al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari Ustadz Rifki mengingatkan bahwa tasawuf yang benar ialah tasawuf yang memadukan syariat dan hakikat. “Syariat itu tetap dijalankan, namun hati menyadari bahwa segala perbuatan dan kejadi
BOJONEGORO
— Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Rifki
menekankan pentingnya memahami konsep tasawuf secara proporsional, khususnya
terkait fenomena keramat atau karomah yang kerap dikaitkan dengan derajat kewalian
seseorang.
Dalam
Kitab al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari Ustadz Rifki
mengingatkan bahwa tasawuf yang benar ialah tasawuf yang memadukan syariat dan
hakikat. “Syariat itu tetap dijalankan, namun hati menyadari bahwa segala
perbuatan dan kejadian adalah atas kehendak Allah,” ujarnya, Jum’at (31/10/25).
Mengutip
pandangan Ibnu Atha’illah, Ustdaz Ridki menegaskan bahwa tidak setiap orang
yang diberi keramat otomatis memiliki hati yang bersih dan sepenuhnya terbebas
dari dorongan nafsu. “Kadang seseorang yang hatinya belum sepenuhnya ikhlas
justru diberi keramat oleh Allah. Karena itu, keramat tidak bisa dijadikan
ukuran ketinggian derajat spiritual,” tuturnya.
Ia
menambahkan, tanda-tanda lahiriah seperti wajah bercahaya atau kemampuan melakukan
hal-hal di luar kebiasaan dalam tradisi tasawuf dipahami sebagai karomah, tidak
selalu mencerminkan kejernihan batin seseorang. “Ada kalanya cahaya batin
dipindah ke wajah seseorang, sehingga wajahnya tampak bercahaya, padahal
hatinya masih gelap,” katanya.
Selanjutnya,
Ustadz Rifki menyebut bahwa keramat kerap diberikan kepada hamba tertentu untuk
tiga tujuan: menguatkan semangat ibadah, menjadi ujian, dan menambah keyakinan.
Dalam konteks ini, keramat dipahami bukan sebagai prestasi spiritual, melainkan
sarana pendidikan ilahiah.
“Keramat
bisa menjadi cara Allah menambah keyakinan seorang hamba yang imannya belum
mantap. Ibarat seorang anak yang diberi mainan agar berhenti menangis, begitu
pula sebagian hamba diberi keramat agar lebih teguh menjalani agama,” paparnya
seraya menukil kisah Sahl at-Tusturi.
Ustadz
Ridki menjelaskan mengapa para sahabat Nabi, meskipun derajat keimanan mereka
sangat tinggi, jarang dikisahkan memiliki keramat yang mencolok sebagaimana
dikisahkan pada sebagian wali generasi setelahnya.
“Iman
para sahabat sudah kokoh. Mereka tidak membutuhkan peneguhan lewat keramat.
Karena itu, yang tampak pada mereka adalah keteguhan amal, bukan
keistimewaan-keistimewaan lahiriah,” katanya.
Sebaliknya,
beberapa wali pada masa berikutnya justru kerap diberi karomah karena kualitas
keyakinan umat pada masa itu tidak sekuat generasi sahabat. Keramat menjadi
sarana untuk meneguhkan keyakinan masyarakat terhadap ajaran yang dibawa para
ulama.
Di
akhir kajian, Ustadz Rifki menegaskan bahwa derajat wali sejati bukan diukur
dari banyaknya keramat, tetapi pada kemampuan menjaga istiqamah lahir dan
batin. “Keramat sejati adalah istiqamah. Wali yang paling tinggi derajatnya
bukan yang bisa berjalan di atas air atau menempuh jarak jauh sekejap mata,
melainkan yang mampu menjaga ketaatan di setiap helaan napas,” ujarnya.
Kajian kemudian ditutup dengan doa dan salawat. Para jamaah membubarkan diri selepas matahari meningkat, sembari membawa pesan utama pagi itu: bahwa spiritualitas tidak selalu tampak dari keajaiban, melainkan dari keteguhan hati menjaga hubungan dengan Allah.
