Detail Berita

Kesempurnaan Iman dan Akhlak Rumah Tangga

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bersama Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memperdalam pemahaman tentang kesempurnaan iman yang tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi juga dari akhlak, terutama dalam kehidupan rumah tangga, Sabtu (14/3/2026).

Ceramah Jum'at

Kajian rutin kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro bersama Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memperdalam pemahaman tentang kesempurnaan iman yang tidak hanya diukur dari ibadah, tetapi juga dari akhlak, terutama dalam kehidupan rumah tangga, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan diawali dengan pembacaan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, ulama, serta tokoh-tokoh yang berjasa dalam penyebaran ilmu agama, termasuk KH Maimun Zubair dan para pendiri masjid.

Dalam penyampaian materi, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengutip hadis riwayat Abu Hurairah RA yang menyebutkan bahwa “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” Ia menegaskan bahwa akhlak tidak hanya terbatas pada hubungan antar manusia, tetapi juga mencakup hubungan dengan Allah SWT.

“Akhlak kepada Allah itu seperti menjalankan salat, zakat, tidak sombong, dan ikhlas. Sedangkan kepada sesama manusia, termasuk kepada orang tua, guru, tetangga, dan pasangan,” jelasnya.

Ia juga membedakan antara konsep akhlak dan adab. Menurutnya, akhlak merupakan sifat batin yang bersifat umum, sedangkan adab adalah bentuk nyata dari akhlak yang sudah diaplikasikan dalam perilaku sehari-hari.

Dalam konteks rumah tangga, Ustadz Rifki menekankan pentingnya memperlakukan pasangan dengan baik. Ia mengingatkan bahwa indikator kebaikan seseorang dapat dilihat dari bagaimana ia bersikap kepada istrinya.

“Jangan sampai kepada orang lain lembut, tapi kepada istri justru kasar. Orang terbaik adalah yang paling baik kepada istrinya,” ujarnya.

Kajian juga menyinggung relasi suami-istri dalam Islam, termasuk hak dan kewajiban masing-masing. Ia menjelaskan bahwa laki-laki dalam Al-Qur’an disebut sebagai pemimpin (qawwam) dalam keluarga karena tanggung jawabnya dalam memberi nafkah dan melindungi keluarga.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa kepemimpinan tersebut bukan bentuk superioritas mutlak, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab dan keadilan.

“Laki-laki punya kelebihan dalam aspek tertentu, tapi perempuan juga punya kelebihan seperti empati dan kepekaan. Ini adalah bentuk keseimbangan yang diciptakan Allah,” tambahnya.

Selain itu, perempuan yang salehah digambarkan sebagai pribadi yang taat kepada Allah dan suami (selama tidak dalam kemaksiatan), serta mampu menjaga kehormatan diri dan keluarganya, termasuk tidak membuka aib rumah tangga.

Dalam pembahasan lain, Ustadz Rifki juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan pemenuhan hak dalam hubungan suami-istri. Ia menyinggung hadis tentang kewajiban istri memenuhi ajakan suami, namun juga menekankan bahwa suami harus memahami kondisi istri dan tidak bersikap egois.

“Kalau suami benar-benar menyayangi istrinya, maka ia juga harus peka terhadap kondisi istrinya, tidak memaksakan kehendak,” jelasnya.

Di akhir kajian, jamaah diingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, sebagaimana hadis “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi.”

Kajian ini menjadi bagian dari upaya Masjid Agung Darussalam Bojonegoro dalam membangun pemahaman Islam yang seimbang, tidak hanya dalam aspek ibadah ritual, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan keluarga.