Detail Berita

Kesempurnaan Salat dan Penguatan Iman

BOJONEGORO — Kesempurnaan salat dan penguatan iman menjadi pokok bahasan dalam kajian keislaman yang diikuti jamaah Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, seusai salat subuh berjamaah. Kajian ini menegaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan tolok ukur kualitas keimanan seorang Muslim, Senin (15/12/2025).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO — Kesempurnaan salat dan penguatan iman menjadi pokok bahasan dalam kajian keislaman yang diikuti jamaah Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, seusai salat subuh berjamaah. Kajian ini menegaskan bahwa salat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan tolok ukur kualitas keimanan seorang Muslim, Senin (15/12/2025).

Dalam pemaparannya, KH. Abdul Aziz Ahmad menjelaskan bahwa kalimat la ilaha illallah merupakan tanda kebesaran Allah sekaligus fondasi utama iman. Seorang Muslim yang imannya kuat akan merasakan ketenangan batin dan cahaya keimanan dalam hidupnya. “Ketika iman kuat, hati menjadi tenang dan ibadah dijalankan dengan penuh kesadaran,” ujarnya.

Yai Aziz juga mengulas makna gerakan dalam salat, termasuk mengangkat jari telunjuk saat membaca syahadat dalam tahiyat. Menurut penjelasan para ulama, di antaranya Imam Al-Ghazali, jari telunjuk memiliki keterkaitan dengan detak jantung dan hati, sehingga menjadi simbol penguatan tauhid dan pengakuan keesaan Allah.

Kajian tersebut menekankan pentingnya mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam ucapan dan gerakan salat. Setiap bacaan, mulai dari takbir, Al-Fatihah, hingga salam, harus diucapkan dengan jelas dan benar agar tidak mengubah makna. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW agar umat Islam melaksanakan salat sebagaimana beliau mencontohkannya.

Selain bacaan, jamaah juga diajak memperhatikan gerakan salat, terutama saat rukuk dan sujud. Kyai Aziz menjelaskan bahwa sujud yang sempurna dilakukan dengan meletakkan tujuh anggota badan; dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung kaki, sebagaimana diajarkan dalam hadis. Gerakan yang tidak perlu atau berlebihan dalam salat diingatkan dapat mengurangi kekhusyukan.

Kekhusyukan salat, lanjut Kyai Aziz, bermula dari kesempurnaan wudhu. Wudhu yang dilakukan dengan tenang dan tertib akan membantu menghadirkan konsentrasi dalam salat. Jamaah yang berangkat ke masjid dengan niat beribadah dan langkah yang mantap, kata dia, akan mendapatkan ganjaran dan penghapusan dosa di setiap langkahnya.

Kyai Aziz juga mengingatkan bahwa salat yang dilakukan dengan sempurna akan dijaga oleh para malaikat. Sebaliknya, salat yang dilakukan dengan lalai berpotensi kehilangan nilai ibadahnya. Oleh karena itu, jamaah diajak memperhatikan kebersihan pakaian, tempat salat, serta suasana yang mendukung kekhusyukan.

Kajian ditutup dengan ajakan agar jamaah terus memperbaiki kualitas salat, baik dari sisi bacaan maupun gerakan, serta menjaga konsistensi salat berjamaah. Dengan salat yang benar dan khusyuk, diharapkan iman semakin kuat dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari semakin baik.