Kesetaraan dan Kepedulian Sosial dalam Islam
Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki Azmi menekankan pentingnya nilai kesetaraan sosial, kepedulian terhadap kaum lemah, serta kepekaan terhadap kondisi masyarakat sekitar, Rabu (11/3/2026).
Kajian
kitab Riyadhus
Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro Dalam
kajian tersebut, Ustadz Rifki Azmi menekankan pentingnya nilai kesetaraan
sosial, kepedulian terhadap kaum lemah, serta kepekaan terhadap kondisi
masyarakat sekitar, Rabu (11/3/2026).
Dalam penjelasannya, Ust. Ahmad
Rifki Azmi mengutip hadits yang menceritakan bagaimana Rasulullah SAW pernah
didatangi kaum musyrik Quraisy yang meminta agar orang-orang miskin dijauhkan
dari majelis beliau. Namun, permintaan tersebut ditolak melalui wahyu Allah.
“Islam menegaskan bahwa semua
manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan
antara kaya dan miskin dalam hal ibadah maupun hak menuntut ilmu,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa praktik
diskriminasi sosial yang dahulu terjadi di masyarakat Arab Jahiliyah secara
tegas dihapus oleh ajaran Islam.
Ust.
Rifki juga menyoroti pentingnya keadilan sosial, terutama bagi pemimpin. Ia
menegaskan bahwa tidak boleh ada kebijakan yang hanya menguntungkan kelompok
tertentu, khususnya kalangan elit, dengan mengorbankan masyarakat kecil.
“Jangan sampai kelompok lemah
dimarginalkan demi kepentingan politik atau ekonomi. Islam hadir untuk
melindungi semua golongan,” tegasnya.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan kisah interaksi antara para sahabat, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, dengan tokoh-tokoh yang
sebelumnya memusuhi Islam. Dari kisah ini, Ust. Rifki menekankan pentingnya
menjaga ucapan dan empati, terutama kepada mereka yang pernah mengalami
penderitaan.
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW
bahkan menegur sahabat yang tanpa sengaja melukai perasaan orang lain,
menunjukkan betapa pentingnya menjaga hati sesama.
Selain
itu, kajian juga menyoroti keutamaan menyantuni anak yatim dan membantu fakir
miskin. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang merawat anak yatim akan dekat
dengan Rasulullah di surga.
Ust. Rifki menjelaskan bahwa
kondisi anak yatim pada masa dahulu sangat memprihatinkan karena minimnya
perlindungan sosial. Oleh karena itu, perhatian terhadap mereka menjadi salah
satu ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam.
“Tidak hanya anak yatim, kita juga
harus peduli pada orang miskin yang tidak terlihat. Ada orang yang sebenarnya
membutuhkan, tetapi tidak meminta-minta. Di sinilah kepekaan sosial kita
diuji,” ungkapnya.
Dalam
penutup kajian, Ust. Rifki mengingatkan jamaah agar tidak hanya menunggu
permintaan bantuan dari orang lain. Ia mendorong umat Islam untuk proaktif
dalam membantu sesama.
“Orang miskin itu ada dua: yang
terlihat dan yang tidak terlihat. Kita harus peka, jangan hanya memberi ketika
diminta,” pesannya.
Kajian berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh jamaah yang memenuhi area masjid. Diharapkan, nilai-nilai yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan peduli.
