Detail Berita

Keteladanan Nabi Ibrahim dan Pentingnya Doa untuk Keturunan

Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro berlangsung khidmat saat jamaah menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah meneladani Nabi Ibrahim AS sebagai sosok hamba yang sangat dekat kepada Allah SWT dan selalu mendoakan keturunannya, Selasa (12/5/2026).

Kuliah Shubuh

Kajian rutin setelah shalat Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro berlangsung khidmat saat jamaah menyimak tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Khafif Ahmaruddin, M.Pd. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah meneladani Nabi Ibrahim AS sebagai sosok hamba yang sangat dekat kepada Allah SWT dan selalu mendoakan keturunannya, Selasa (12/5/2026).

Ustadz Khafif Ahmaruddin menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS mendapat gelar Khalilullah atau kekasih Allah karena keteguhan tauhid, ketaatan, dan sikap hidupnya yang selalu condong kepada Allah SWT serta jauh dari kemusyrikan. Menurutnya, umat Islam diperintahkan meneladani perjalanan hidup Nabi Ibrahim AS, terutama menjelang datangnya bulan Dzulhijjah yang identik dengan ibadah haji dan pengorbanan.

Dalam tausiyahnya, ia menekankan pentingnya doa orang tua bagi anak dan keturunannya. Ia menyebut Nabi Ibrahim AS sebagai sosok yang sangat rajin berdoa demi kebaikan anak cucunya. Bahkan, menurutnya, Rasulullah SAW lahir melalui jalur keturunan Nabi Ibrahim AS sebagai bagian dari keberkahan doa beliau.

Ustadz Khafif juga mengingatkan bahwa perilaku dan spiritualitas orang tua memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan anak. Karena itu, jamaah diajak memperbanyak istighfar, dzikir, dan doa agar keburukan dalam keluarga tidak menurun kepada generasi berikutnya.

Selain itu, kajian turut menyoroti pentingnya peran seorang ibu dalam menjaga kekuatan rohani keluarga. Ustadz Khafif Ahmaruddin mencontohkan kisah para istri ulama dan pengasuh pesantren yang dikenal memiliki tirakat, keistiqamahan ibadah, serta pengorbanan besar demi mendukung dakwah dan pendidikan umat. Menurutnya, kekuatan spiritual keluarga sering kali lahir dari ketulusan dan kesungguhan seorang ibu dalam beribadah dan berdoa.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengajak masyarakat lebih selektif memilih pesantren bagi putra-putri mereka. Ia menekankan pentingnya memilih lembaga pendidikan yang memiliki sanad keilmuan jelas, akhlak baik, serta tradisi keilmuan yang kuat agar mampu membentuk karakter dan spiritualitas anak dengan benar.

Kajian ditutup dengan ajakan agar umat Islam terus meneladani Nabi Ibrahim AS dalam hal keteguhan iman, kesungguhan berdoa, dan kepedulian terhadap pendidikan generasi penerus. Jamaah juga diajak memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui doa, ibadah, dan kesungguhan mendidik keluarga agar menjadi generasi saleh dan bermanfaat bagi masyarakat.