Detail Berita

Keteladanan Nabi Yahya dan Pesan Ketakwaan

Bojonegoro, Keteladanan Nabi Yahya menjadi pokok bahasan dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Darussalam Bojonegoro. KH. A. Maimun Syafi’i menyoroti sifat wara’, ketakwaan, serta bakti Nabi Yahya kepada kedua orang tuanya sebagai pelajaran penting menjelang Ramadhan, Sabtu (14/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Keteladanan Nabi Yahya menjadi pokok bahasan dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Darussalam Bojonegoro. KH. A. Maimun Syafi’i menyoroti sifat wara’, ketakwaan, serta bakti Nabi Yahya kepada kedua orang tuanya sebagai pelajaran penting menjelang Ramadhan, Sabtu (14/2/2026).

Kajian Shubuh diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan doa bersama. Dalam tausiyahnya, Mbah Mun menjelaskan bahwa Nabi Yahya merupakan nabi yang dianugerahi rahmat dan kesucian sejak kecil. Allah, menurutnya, memberikan “rahmatan min ladunna” serta kesucian jiwa kepada putra Nabi Zakaria itu.

“Beliau diberi sifat takwa yang kuat, hati yang lembut, dan kesungguhan dalam ibadah,” ujarnya.

Salah satu sifat menonjol Nabi Yahya, lanjutnya, adalah kezuhudan dalam hal makanan. Dalam sejumlah riwayat, Nabi Yahya dikisahkan hidup sangat sederhana, bahkan mengonsumsi tumbuh-tumbuhan sebagai bentuk pengendalian diri. Keteladanan ini, menurut Mbah Mun, menjadi simbol penguasaan diri dari hal-hal yang melalaikan.

Mbah Mun juga menyinggung sifat Nabi Yahya yang dikenal banyak menangis karena takut kepada Allah. Tangisan itu bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan buah dari kesadaran mendalam akan kebesaran dan keagungan Tuhan.

Beliau membandingkan dengan keteladanan Umar bin Khattab yang juga dikenal sering menangis saat membaca Al-Quran. Dalam sejumlah kisah, bekas tangis disebut tampak pada wajah sang khalifah karena kuatnya rasa takut kepada Allah.

“Menangis karena takut kepada Allah adalah tanda hidupnya hati,” katanya.

Namun demikian, Mbah Mun mengingatkan agar ekspresi tangis dalam shalat tetap memperhatikan rukun dan ketentuan fikih. Dalam shalat, terdapat rukun qauli (ucapan) dan rukun fi’li (gerakan) yang harus dijaga. Jika tangisan sampai mengganggu bacaan rukun seperti Surah Al-Fatihah, hal itu dapat memengaruhi keabsahan shalat.

Menjelang Ramadhan, Mbah Mun mengulas kembali hakikat puasa sebagai “imsak ‘anil mufathirat”, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Mbah Mun membedakan antara perkara yang membatalkan puasa secara fisik (muktilat) dan perkara yang tidak membatalkan secara hukum, tetapi mengurangi atau bahkan menghapus pahala.

“Berkata dusta, menggunjing, atau melihat dengan syahwat memang tidak selalu membatalkan puasa secara fikih, tetapi bisa merusak nilai pahalanya,” ujarnya.

Mbah Mun juga menyinggung perbedaan penetapan awal Ramadhan yang kerap terjadi, baik melalui rukyat maupun istikmal (penyempurnaan bulan Sya’ban menjadi 30 hari). Menurutnya, perbedaan tersebut perlu disikapi dengan bijak, selama masing-masing berpegang pada dasar syar’i yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain ketakwaan pribadi, Nabi Yahya juga dikenal sebagai sosok yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Al-Quran menyebut beliau sebagai pribadi yang tidak sombong dan tidak durhaka.

“Kalau ingin menjadi orang mulia, muliakanlah orang tua,” ujar Mbah Mun.

Mbah Mun mengingatkan bahwa doa untuk orang tua memiliki dampak besar dalam kehidupan seseorang. Bahkan, dalam sejumlah nasihat ulama disebutkan bahwa meninggalkan doa untuk kedua orang tua dapat menjadi sebab sempitnya rezeki.

Mbah Mun juga mengingatkan bahaya kesombongan. Manusia, katanya, diciptakan dari air mani dan kelak kembali menjadi tanah. Karena itu, tidak ada alasan untuk bersikap angkuh.

Dalam penutup tausiyahnya, Mbah Mun mengutip ayat tentang keselamatan Nabi Yahya sejak lahir, wafat, hingga dibangkitkan kembali. Mbah Mun menjelaskan bahwa keselamatan dari fitnah kubur dan kengerian hari kiamat merupakan anugerah besar dari Allah.

Mbah Mun menambahkan, di antara amalan yang diyakini dapat meringankan azab kubur adalah istiqamah menjaga shalat berjamaah lima waktu.

Pengajian ditutup dengan doa bersama memohon kekuatan menjalankan ibadah Ramadhan, baik yang wajib maupun sunah. Jamaah diingatkan agar menjadikan keteladanan Nabi Yahya sebagai inspirasi dalam menata hati, memperbaiki hubungan dengan orang tua, serta meningkatkan kualitas ibadah.

“Semoga kita diberi kekuatan menjalani Ramadhan dengan penuh kesadaran dan ketakwaan,” ujar Mbah Mun menutup kajian Shubuh.