Detail Berita

Keteladanan Utsman bin Affan: Seimbang Dunia dan Akhirat

BOJONEGORO, Keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Utsman bin Affan, dalam menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat menjadi pokok bahasan dalam Pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (9/12/2025).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO, Keteladanan sahabat Nabi Muhammad SAW, Utsman bin Affan, dalam menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat menjadi pokok bahasan dalam Pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, Selasa (9/12/2025).

Dalam tausiyahnya, Ustadz Khafif mengutip riwayat dari Sayyidina Utsman bin Affan RA yang menegaskan bahwa kesedihan dan kesusahan dalam urusan dunia akan menambah kegelapan hati, sedangkan kesedihan dalam urusan akhirat justru akan menerangi hati. Pesan tersebut, menurut Ustadz Khafif, relevan bagi umat Islam di tengah dinamika kehidupan modern.

Utsman bin Affan dikenal sebagai sahabat Nabi yang memperoleh julukan Dzun Nurain atau pemilik dua cahaya karena menikahi dua putri Rasulullah SAW, Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidah Ummu Kultsum. Ia digambarkan sebagai sosok yang unggul dalam dua dimensi kehidupan: sukses dalam urusan bisnis dan kokoh dalam ibadah.

“Utsman bukan hanya ahli ibadah, tetapi juga pengusaha yang sangat berhasil. Namun, kekayaannya tidak ditumpuk untuk kepentingan pribadi, melainkan dikembalikan untuk kemaslahatan umat,” ujar Ustadz Khafif.

Ia mencontohkan wakaf sumur yang dilakukan Utsman bin Affan, yang hingga kini terus memberi manfaat dan berkembang menjadi aset produktif. Harta hasil usahanya digunakan untuk mendukung dakwah Nabi, termasuk dalam pembiayaan perjuangan dan kebutuhan umat Islam pada masa awal.

Dalam pengajian itu juga disampaikan kisah ulama besar asal Suriah, Syekh Ahmad Kaftaru, yang pernah berkunjung ke Indonesia pada masa Presiden Soekarno. Meski kagum dengan pesatnya pembangunan masjid dan lembaga pendidikan Islam, Syekh Ahmad Kaftaru menilai bahwa penguatan ekonomi umat juga harus berjalan seiring dengan pembangunan spiritual.

“Syiar Islam tidak cukup hanya dengan memperbanyak tempat ibadah dan pendidikan, tetapi juga harus ditopang oleh kemandirian ekonomi umat,” kata Ustadz Khafif, mengaitkan pesan tersebut dengan teladan Utsman bin Affan.

Selain keseimbangan dunia-akhirat, Ustadz Khafif menyinggung pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai bagian dari ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan pola hidup sehat, seperti membiasakan diri bergerak, menjaga pola makan, dan tidak berlebihan dalam konsumsi.

Kesehatan fisik, menurutnya, akan menunjang kekuatan spiritual dan produktivitas umat. Hal ini diperkuat dengan contoh kebiasaan Nabi dalam makan, di antaranya berhenti sebelum kenyang dan menjaga jarak antara makan dan minum.

Pengajian tersebut juga mengulas sikap para sahabat dan ulama dalam menghadapi ujian hidup. Kisah Imran bin Hushain RA yang tetap bersyukur meski menderita sakit selama puluhan tahun, serta keteguhan ulama dalam menghadapi fitnah dan tuduhan, dijadikan teladan dalam menjaga kebersihan hati.

“Masalah duniawi bukan sumber utama kesedihan. Yang membuat hati sempit adalah dosa dan hati yang belum bersih,” ujarnya.

Pengajian Subuh itu ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk meneladani sikap para sahabat Nabi: memperkuat ibadah, menjaga kesehatan, bekerja secara produktif, serta tidak larut dalam kesedihan duniawi. Dengan keseimbangan tersebut, umat diharapkan mampu menjalani kehidupan dengan hati yang lapang dan penuh syukur.