Detail Berita

Keutamaan Kalimat Tauhid dan Menjawab Adzan

Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam Bojonegoro saat jamaah mengikuti kajian rutin setelah shalat Subuh yang disampaikan oleh KH. Abdul Aziz Ahmad. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga kalimat tauhid “La ilaha illallah” agar senantiasa tertanam kuat di dalam hati setiap Muslim, Senin (11/5/2026).

Kuliah Shubuh

Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Darussalam Bojonegoro saat jamaah mengikuti kajian rutin setelah shalat Subuh yang disampaikan oleh KH. Abdul Aziz Ahmad. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga kalimat tauhid “La ilaha illallah” agar senantiasa tertanam kuat di dalam hati setiap Muslim, Senin (11/5/2026).

KH. Abdul Aziz Ahmad menjelaskan bahwa kalimat tauhid merupakan benteng keselamatan bagi seorang hamba. Ia mengutip hadits qudsi yang menyebutkan bahwa “La ilaha illallah” adalah benteng Allah, sehingga siapa pun yang masuk ke dalamnya akan memperoleh perlindungan dari siksa Allah SWT. Menurut beliau, memperbanyak dzikir dan memperbarui iman melalui kalimat tauhid menjadi cara menjaga kekuatan iman hingga akhir hayat.

Dalam kajian tersebut, beliau juga mengulas keutamaan menjawab adzan. Menurutnya, Rasulullah SAW menjanjikan surga bagi orang yang menjawab adzan dengan penuh keyakinan dan mengikuti lafaz muadzin, terutama ketika mengucapkan syahadat. Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak mengabaikan adzan karena selain memperkuat iman, amalan tersebut juga menjadi jalan memperoleh syafaat Rasulullah SAW di hari kiamat.

KH. Abdul Aziz Ahmad turut menyinggung kisah sahabat Bilal bin Rabah RA yang dikenal sebagai muadzin Rasulullah SAW. Beliau menjelaskan bahwa nama Bilal tetap dikenang sepanjang sejarah Islam karena pengabdiannya dalam mengumandangkan adzan dan menghidupkan kalimat tauhid. Bahkan setelah Rasulullah wafat, suara adzan Bilal disebut mampu mengguncang Madinah dan membangkitkan kerinduan para sahabat kepada Rasulullah SAW.

Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang tradisi tabarruk atau mencari keberkahan melalui peninggalan Rasulullah SAW yang telah dicontohkan para sahabat. Mulai dari cincin, rambut, hingga barang-barang yang pernah digunakan Nabi Muhammad SAW diperlakukan dengan penuh penghormatan karena kecintaan para sahabat kepada beliau.

Dalam penutup kajian, jamaah diajak untuk terus memperkuat iman dengan memperbanyak dzikir, menjawab adzan, membaca shalawat, dan menjaga kecintaan kepada Rasulullah SAW. KH. Abdul Aziz Ahmad berharap seluruh jamaah memperoleh husnul khatimah, ampunan Allah SWT, serta syafaat Rasulullah SAW di akhirat kelak.