Detail Berita

Keutamaan Kaum Dhuafa

Bojonegoro – Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian yang disampaikan oleh Ahmad Rifki Azmi tersebut membahas bab tentang keutamaan kaum lemah, fakir, dan orang-orang yang tidak terkenal di tengah masyarakat, Senin (9/3/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro – Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian yang disampaikan oleh Ahmad Rifki Azmi tersebut membahas bab tentang keutamaan kaum lemah, fakir, dan orang-orang yang tidak terkenal di tengah masyarakat, Senin (9/3/2026).

Dalam pembukaannya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengajak jamaah membaca Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para ulama, serta tokoh-tokoh ulama seperti Yahya ibn Sharaf al-Nawawi sebagai penulis kitab Riyadhus Sholihin, dan ulama Nusantara Maimun Zubair.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa bab Fadlu Dhuafa al-Muslimin dalam kitab Riyadhus Sholihin membahas keutamaan orang-orang yang dianggap lemah oleh masyarakat, seperti kaum fakir, miskin, dan orang yang tidak memiliki kedudukan sosial.

Namun, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menegaskan bahwa keutamaan tersebut bukan terletak pada kemiskinan atau kelemahannya semata.

“Yang dipuji bukan karena fakirnya, bukan karena lemahnya. Yang dipuji adalah keadaan atau akhlak yang lahir dari kondisi itu, seperti rendah hati, tidak sombong, dan tidak gengsi,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa orang yang hidup sederhana sering kali lebih mudah bersikap ikhlas, tidak arogan, dan lebih dermawan dibandingkan sebagian orang yang memiliki kekuatan ekonomi atau sosial.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Harithah ibn Wahb tentang ciri-ciri penghuni surga.

Dalam hadis itu disebutkan bahwa sebagian penghuni surga adalah orang-orang yang dianggap lemah oleh masyarakat. Mereka sering diremehkan karena tidak memiliki kekuatan ekonomi, pengaruh, atau kedudukan sosial.

Namun Rasulullah SAW mengingatkan agar umat Islam tidak meremehkan mereka.

“Bisa jadi orang yang dianggap lemah oleh masyarakat justru termasuk penghuni surga,” kata Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengutip penjelasan hadis tersebut.

Ustadz Ahmad Rifki Azmi juga menegaskan bahwa Islam tidak memuji kemiskinan maupun kekayaan secara mutlak. Yang menjadi ukuran adalah sikap dan perilaku yang muncul dari kondisi tersebut.

Menurutnya, kekayaan dapat menjadi kebaikan apabila melahirkan rasa syukur dan kedermawanan. Sebaliknya, kekayaan bisa menjadi buruk jika melahirkan kesombongan dan kerakusan.

Begitu pula dengan kemiskinan, yang bisa menjadi baik jika melahirkan kesabaran dan keikhlasan, namun bisa menjadi buruk jika melahirkan keluhan atau ketidakridhaan kepada takdir Allah.

“Yang dinilai bukan kaya atau miskinnya, tetapi bagaimana sikap seseorang terhadap kondisi itu,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah Rasulullah SAW yang sangat menghargai orang-orang sederhana. Salah satunya adalah seorang perempuan yang biasa membersihkan masjid.

Ketika perempuan tersebut meninggal dunia tanpa diketahui Nabi, Rasulullah SAW merasa kehilangan dan meminta ditunjukkan kuburannya. Beliau kemudian datang dan menyalatinya.

Kisah ini diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah dan menunjukkan bahwa Rasulullah sangat menghargai orang-orang yang sering dianggap tidak penting oleh masyarakat.

“Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari status sosialnya, tetapi dari amal dan ketakwaannya,” terang Ustadz Ahmad Rifki Azmi.

Dalam bagian lain kajian, dijelaskan pula hadis yang menyebutkan bahwa mayoritas penghuni surga berasal dari kalangan orang miskin. Hal ini, menurut Ustadz Ahmad Rifki Azmi, bukan berarti Islam memuji kemiskinan, melainkan menggambarkan realitas sosial bahwa jumlah orang miskin di dunia memang lebih banyak dibandingkan orang kaya.

Karena itu, pesan utama dari hadis tersebut adalah agar manusia tidak meremehkan siapa pun, khususnya mereka yang hidup dalam kesederhanaan.

Kajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro tersebut menjadi salah satu kegiatan rutin yang diikuti masyarakat untuk memperdalam pemahaman hadis Nabi dan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari.