Keutamaan Sholawat dan Ilmu dalam Beribadah
Bojonegoro, Keutamaan shalawat, pentingnya ilmu dalam beribadah, serta urgensi menjaga akhlak menjadi pokok bahasan dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Selasa (17/2/2026).
Bojonegoro,
Keutamaan shalawat, pentingnya ilmu dalam beribadah, serta urgensi menjaga
akhlak menjadi pokok bahasan dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro, Selasa (17/2/2026).
Ustadz
Khafif membuka tausiyah dengan menyinggung gelar para nabi. Nabi Ibrahim
dikenal sebagai Khalilullah (kekasih Allah), Nabi Musa sebagai Kalimullah,
dan Nabi Isa sebagai Ruhullah. Namun, menurutnya, Nabi Muhammad justru
membanggakan sebutan “Abdullah” atau hamba Allah.
“Rasulullah
cukup bangga disebut Abdullah. Itu menunjukkan ketawadhuan beliau,” ujarnya.
Ia
menjelaskan, dalam sejumlah amalan, shalawat memiliki keistimewaan tersendiri.
Jika amalan lain sangat bergantung pada kualitas pelakunya, termasuk niat,
keikhlasan, dan kekhusyukan, shalawat dinilai berbeda.
“Ketika
membaca Al Quran atau beribadah, yang dipandang adalah siapa yang melaksanakan.
Tetapi ketika bershalawat, yang dipandang Allah adalah yang dishalawati, yakni
Rasulullah,” katanya.
Karena
itu, ia menilai shalawat sebagai amalan yang sangat relevan di akhir zaman.
Banyak orang, menurutnya, kelak menyesal bukan hanya karena meninggalkan ibadah
wajib, tetapi karena kurang memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad dan
kehilangan kesempatan memperoleh syafaat beliau di akhirat.
Selain
menekankan shalawat, Ustadz Khafif mengingatkan pentingnya ilmu dalam
beribadah. Ia menegaskan bahwa ibadah tanpa dasar pengetahuan berpotensi
tertolak.
“Salat
harus memenuhi syarat dan rukun. Tanpa ilmu, orang bisa saja beribadah secara
asal-asalan,” ujarnya.
Meski
demikian, ia menambahkan, Allah masih memberi kelapangan bagi orang yang mau
belajar dan terus memperbaiki diri. Kekeliruan dalam ibadah, menurutnya, dapat
dimaklumi apabila pelakunya bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
Sebaliknya,
ibadah yang disertai kesombongan dan riya berpotensi mudah tertolak. Ia
mencontohkan sikap merasa lebih mulia karena rajin tahajud atau aktif di
masjid.
“Itu
penyakit yang sangat halus. Merasa ibadah karena kekuatan diri sendiri, bukan
karena pertolongan Allah,” katanya.
Ia
juga mengingatkan agar jamaah menjauhi kedurhakaan, seperti menyakiti orang
tua, meremehkan guru, atau bermusuhan dengan sesama. Sikap-sikap tersebut,
katanya, dapat menjadi penghalang diterimanya amal.
Dalam
tausiyahnya, Ustadz Khafif menyebut sedekah sebagai amalan yang memiliki
peluang besar diterima karena cakupan manfaatnya luas. Selain bernilai ibadah,
sedekah mengandung unsur tolong-menolong dan kemaslahatan sosial.
Ia
menuturkan kisah seorang dermawan yang membangun masjid, mushala, hingga pos
keamanan lingkungan. Meski sang dermawan terkadang menceritakan kembali amalnya
yang berpotensi mengurangi pahala, kemanfaatan fasilitas tersebut tetap
dirasakan masyarakat.
“Kalau
satu sisi kurang sempurna, masih ada sisi kemanfaatan yang bernilai ibadah,”
ujarnya.
Menurutnya,
dari aspek kemanfaatan itulah pahala dapat terus mengalir, seiring masyarakat
memanfaatkan bangunan tersebut untuk beribadah dan menjaga keamanan.
Tausiyah
juga menyinggung keteladanan Nabi Ibrahim. Setelah menanti keturunan hingga
usia lanjut, Nabi Ibrahim dianugerahi Nabi Ismail. Namun, ia tetap taat ketika
diperintahkan meninggalkan istri dan putranya di padang tandus.
Dari
peristiwa itulah, kata Ustadz Khafif, lahir kisah ikhtiar Siti Hajar yang
kemudian menjadi asal-usul ritual sa’i antara Safa dan Marwah serta munculnya
air zamzam.
“Ketaatan
Nabi Ibrahim menunjukkan kepatuhan total kepada perintah Allah,” ujarnya.
Menutup
kajian, Ustadz Khafif mengajak jamaah menyambut Ramadhan dengan niat ittiba
atau mengikuti perintah Allah secara tulus dan konsisten. Ia mengingatkan bahwa
manusia menerima rezeki setiap saat, sehingga sudah semestinya membalasnya
dengan ketaatan.
“Semoga Allah meridhai kita dan menerima amal ibadah kita,” tutupnya.
