Keutamaan Sunah Puasa
Bojonegoro-Dalam rangkaian kegiatan Kajian Shubuh Ramadhan, KH. Hilmi Al Jumadi menyampaikan materi bertema sunah puasa yang menekankan pentingnya mengamalkan amalan-amalan sunah guna menyempurnakan ibadah selama bulan suci. Kegiatan tersebut dihadiri jamaah yang mengikuti kajian selepas salat Subuh dengan khidmat, Senin (23/2/2026).
Bojonegoro-Dalam
rangkaian kegiatan Kajian Shubuh Ramadhan, KH. Hilmi Al Jumadi menyampaikan
materi bertema sunah puasa yang menekankan pentingnya mengamalkan amalan-amalan
sunah guna menyempurnakan ibadah selama bulan suci. Kegiatan tersebut dihadiri
jamaah yang mengikuti kajian selepas salat Subuh dengan khidmat, Senin
(23/2/2026).
Dalam
pemaparannya, Kyai Hilmi menjelaskan bahwa menjalankan ibadah wajib saja
diibaratkan “balik modal”, sedangkan amalan sunah menjadi kunci untuk meraih
“keuntungan” yang lebih besar di akhir Ramadan. “Kalau hanya mengerjakan yang
wajib, itu seperti berdagang tanpa untung. Agar memperoleh keberkahan yang
banyak, maka sunah-sunah puasa harus dijaga,” ujarnya.
Salah
satu sunah yang ditekankan adalah makan sahur. Beliau mengutip hadis riwayat
Ibnu Hajar al-Asqalani yang menjelaskan sejumlah keutamaan sahur, di antaranya
mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW, membedakan puasa umat Islam dengan puasa
ahli kitab, serta menguatkan fisik dalam menjalankan ibadah.
Kyai
Hilmi menegaskan bahwa waktu sahur dimulai setelah tengah malam, namun yang
lebih utama adalah mengakhirkan sahur mendekati waktu Subuh. Ia menyebut, Nabi
Muhammad SAW menganjurkan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan. Waktu
sahur juga dinilai sebagai waktu mustajab untuk berzikir dan berdoa, khususnya
pada sepertiga malam terakhir.
Selain
sahur, menyegerakan berbuka juga termasuk sunah yang dianjurkan. Berbuka dapat
diawali dengan kurma atau air putih, kemudian dilanjutkan dengan doa sebagai
bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Kyai
Hilmi juga mengingatkan pentingnya menjaga diri dari makanan syubhat atau yang
tidak jelas kehalalannya, serta menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi
nilai ibadah puasa. Beliau menekankan agar umat Islam berhati-hati dalam
menjaga ucapan, menjauhi dusta, adu domba, dan sumpah palsu yang dapat
mengurangi pahala puasa.
Amalan
sunah lainnya yang dianjurkan selama Ramadan meliputi memperbanyak sedekah,
memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, memperbanyak membaca Al-Qur’an,
berzikir, serta melaksanakan iktikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari
terakhir Ramadan. Beliau mencontohkan bagaimana Muhammad meningkatkan
intensitas ibadah pada sepuluh malam terakhir dengan beriktikaf dan
menghidupkan malam-malam tersebut dengan doa dan zikir.
Di akhir tausiyah, Kyai Hilmi mengajak jamaah untuk menjaga niat dan kesungguhan dalam beribadah, seraya berharap agar seluruh amalan selama Ramadan diterima Allah SWT dan membawa keberkahan hingga akhir hayat.
