KH. Ali Nu’man: Iman Tak Boleh Sekadar Seremonial
Bojonegoro – Pengajian rutin Sabtu malam Ahad Wage di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (27/12/2025), menghadirkan KH. Ali Nu’man Chudlori, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan kritik tajam terhadap fenomena keberagamaan yang dinilai semakin dangkal dan seremonial.
Bojonegoro
– Pengajian rutin Sabtu malam Ahad Wage di Masjid
Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (27/12/2025), menghadirkan KH. Ali
Nu’man Chudlori, Pengasuh Pondok Pesantren
Roudlotut Tholibin. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan kritik tajam
terhadap fenomena keberagamaan yang dinilai semakin dangkal dan seremonial.
Di hadapan jamaah yang memadati
masjid usai salat Isya, KH. Ali Nu’man menegaskan bahwa iman tidak boleh
berhenti pada simbol dan rutinitas lahiriah. Menurutnya, banyak orang rajin
menghadiri pengajian, tetapi belum tentu menghadirkan nilai-nilai taqwa dalam
kehidupan sehari-hari.
“Jangan sampai agama hanya menjadi
acara. Ramai ketika ada peringatan, tetapi sepi dalam pengamalan,” tegasnya.
Beliau menyoroti gejala melemahnya
integritas, mulai dari kebiasaan berkata tidak jujur, mudah memfitnah, hingga
gemar membuka aib sesama. Padahal, lanjutnya, ukuran keimanan yang sesungguhnya
tercermin pada akhlak. Orang beriman harus mampu menjaga lisan, menahan amarah,
dan menjauhi iri serta dengki.
KH. Ali Nu’man juga menyinggung
tantangan era digital yang kerap menyeret umat pada perdebatan tanpa adab. Beliau
mengingatkan agar media sosial tidak menjadi ladang dosa, melainkan sarana
dakwah dan silaturahmi. “Jari kita bisa menjadi saksi. Apa yang ditulis dan
dibagikan akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Dalam aspek keluarga, beliau
menekankan bahwa krisis moral generasi muda tidak bisa semata-mata disalahkan
pada sekolah atau lingkungan. Orang tua, menurutnya, memegang tanggung jawab
utama dalam menanamkan disiplin ibadah dan adab sejak dini. Rumah harus menjadi
madrasah pertama yang hidup dengan salat berjamaah, pembacaan Al-Qur’an, dan
keteladanan.
Lebih jauh, beliau mengajak jamaah
memakmurkan masjid bukan hanya sebagai tempat ritual, tetapi pusat pembinaan
umat. Masjid, katanya, harus melahirkan pribadi-pribadi yang jujur dalam
bekerja, adil dalam memimpin, dan peduli terhadap sesama.
Pengajian berlangsung khidmat,
disertai pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan salawat. Di akhir tausiyah, KH. Ali
Nu’man mengajak jamaah melakukan muhasabah, memperbaiki niat, serta meneguhkan
komitmen untuk menjadikan iman sebagai fondasi setiap langkah kehidupan.
Pesan yang mengemuka malam itu jelas: keberagamaan tidak cukup ditampilkan, tetapi harus dibuktikan melalui akhlak, tanggung jawab, dan keberanian memperbaiki diri.