Detail Berita

KH. Lukman Syafi’i: Ibadah Adalah Bekal Abadi, Bukan untuk Kepentingan Dunia

Bojonegoro - Penceramah asal Blitar, KH. Lukman Syafi’i, menyampaikan ceramah agama seusai pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Agung Darussalam pada Jumat, 27 Februari 2026. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya ilmu dan iman sebagai fondasi utama seseorang dalam menjalankan ibadah.

Ceramah Jum'at

Bojonegoro - Penceramah asal Blitar, KH. Lukman Syafi’i, menyampaikan ceramah agama seusai pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Agung Darussalam pada Jumat, 27 Februari 2026. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya ilmu dan iman sebagai fondasi utama seseorang dalam menjalankan ibadah.

Di hadapan ratusan jamaah, KH. Lukman Syafi’I membuka ceramah dengan mengingatkan bahwa manusia diciptakan Allah dengan satu misi utama, yakni beribadah. Namun, dalam realitas kehidupan, tidak semua orang menjalankan tugas tersebut dengan sungguh-sungguh. Ada yang rajin beribadah, ada pula yang mengabaikannya.

Menurutnya, faktor pertama yang mendorong seseorang untuk taat adalah ilmu agama. Beliau mengutip sabda Rasulullah bahwa apabila Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, maka orang itu akan diberi pemahaman agama. “Ilmu adalah pohon, amal adalah buahnya. Tanpa ilmu, amal tidak akan tumbuh,” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa ilmu akan melahirkan rasa takut kepada Allah. Rasa takut inilah yang menjadi pengendali perilaku manusia, termasuk dalam menjaga amanah dan menjauhi perbuatan haram. Dalam ceramahnya, beliau menyinggung berbagai kisah teladan tentang kehati-hatian para salaf dalam menjaga hak orang lain, sekaligus mengingatkan bahwa sekecil apa pun pelanggaran akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Selain ilmu, KH. Lukman Syafi’I menegaskan bahwa iman menjadi kunci utama ketaatan. Ia mengutip ayat tentang kewajiban puasa yang diawali dengan panggilan kepada orang-orang beriman. “Yang mau berpuasa adalah orang beriman. Yang mau beribadah adalah yang yakin akan kehidupan setelah mati,” katanya.

Beliau menekankan bahwa manusia bukan makhluk fana, melainkan makhluk abadi yang hanya berpindah dari satu alam ke alam berikutnya: dari alam ruh, alam kandungan, alam dunia, alam kubur, hingga hari kebangkitan. Kematian, menurutnya, bukan akhir, melainkan perpindahan fase kehidupan.

Dalam penjelasannya, beliau menggambarkan tahapan perjalanan manusia setelah wafat: alam kubur, padang mahsyar, hisab (perhitungan amal), mizan (penimbangan amal), hingga meniti shirath menuju surga atau neraka. “Bekal kita untuk perjalanan panjang itu hanya satu, yaitu ibadah,” tegasnya.

KH. Lukman Syafi’I juga mengingatkan jamaah agar tidak mengaitkan ibadah semata-mata dengan kepentingan dunia. Beliau mencontohkan bahwa shalat, puasa, dan haji bukanlah sarana instan untuk memperoleh kekayaan atau kesehatan. “Ibadah itu bukan untuk memperkaya dunia, tetapi untuk menyelamatkan kita setelah mati,” ujarnya.

Beliau menyoroti fenomena semangat manusia dalam mengejar urusan dunia, seperti harta dan jabatan, yang sering kali jauh lebih besar dibandingkan semangat dalam beribadah. Dalam urusan dunia, manusia tidak ingin kalah, selalu ingin menambah, dan betah berlama-lama. Namun dalam ibadah, prinsip tersebut kerap tidak diterapkan.

“Kalau urusan dunia kita tidak mau kalah dari tetangga. Tetapi kenapa dalam urusan shalat berjamaah, puasa sunah, atau mengaji kita tidak punya semangat yang sama?” katanya.

Menurutnya, penyebabnya adalah karena hasil dunia terasa langsung, sedangkan pahala ibadah dijanjikan di akhirat. Di sinilah iman berperan sebagai penguat keyakinan.

Menutup ceramahnya, KH. Lukman Syafi’I mengajak jamaah untuk meluruskan niat dan menjadikan dunia sebagai ladang amal. Beliau mengutip pesan Nabi bahwa dunia adalah tempat beramal, sementara akhirat adalah tempat menerima balasan.

“Selama kita masih diberi kesempatan hidup, jangan sia-siakan untuk beribadah. Karena ketika sudah berpindah ke alam berikutnya, yang berlaku hanya amal,” pungkasnya.

Ceramah tersebut berlangsung khidmat dan disambut antusias oleh jamaah yang memenuhi Masjid Agung Darussalam.