Detail Berita

Khusnul Khatimah dan Semangat Menyambut Ramadhan

Bojonegoro, Ibadah shalat dan dzikir dinilai sebagai kunci meraih husnul khatimah atau akhir hayat yang baik. Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro , Senin, (16/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Ibadah shalat dan dzikir dinilai sebagai kunci meraih husnul khatimah atau akhir hayat yang baik. Pesan tersebut mengemuka dalam kajian Shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro , Senin, (16/2/2026).

Dalam tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat iman dan Islam seraya berharap dapat mempertahankannya hingga akhir hayat. “Mudah-mudahan kita meninggal dalam keadaan mengucapkan la ilaha illallah dan memperoleh husnul khatimah,” ujarnya.

Menurut Kyai Aziz, kebahagiaan sejati seorang muslim bukan hanya panjang umur, melainkan wafat dalam keadaan baik dan diridhai Allah. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah membiasakan amal-amal saleh, terutama shalat.

Kyai Aziz mengutip firman Allah, “Wa aqimis shalata li dzikri” (tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku), sebagai penegasan bahwa shalat merupakan bentuk dzikir paling nyata. Setiap gerakan dalam shalat, mulai dari takbir hingga salam, senantiasa menyebut nama Allah.

“Minimal, orang yang shalat pasti menyebut Allah. Hatinya terhubung, meski mungkin belum sempurna khusyuknya,” katanya.

Kyai Aziz menambahkan, kebiasaan menjaga shalat diyakini memberi pengaruh hingga akhir kehidupan. Dalam sejumlah kisah yang beredar di kalangan ulama, ada orang saleh yang ketika wafat jasadnya tetap lentur dalam waktu tertentu. Hal itu, menurutnya, dipahami sebagai tanda keberkahan dari kebiasaan dzikir dan ibadah.

Meski demikian, beliau menekankan bahwa yang terpenting bukanlah fenomena fisik, melainkan konsistensi amal selama hidup. “Kalau ingin husnul khatimah, jangan tinggalkan shalat wajib. Kalau bisa, tambahkan dengan shalat sunnah,” ujarnya.

Mengutip sabda Nabi Muhammad, Kyai Aziz menyampaikan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Panjang umur dinilai sebagai kesempatan memperbanyak kebaikan, terlebih jika dipertemukan dengan bulan Ramadhan.

Beliau mengingatkan, tantangan akhir zaman tidak ringan. Godaan harta, jabatan, dan percintaan bisa menggoyahkan iman. Karena itu, dzikir kalimat tauhid la ilaha illallah harus senantiasa dipegang sebagai penguat hati.

“Kalimat tauhid itu obat hati. Kalau hati sudah lunak dan jauh dari dzikir, mudah goyah,” tuturnya.

Menjelang Ramadhan, Kyai Aziz mengajak jamaah meneladani Rasulullah dalam menyambut bulan suci dengan kegembiraan. Ia menyebut doa yang biasa dipanjatkan sejak bulan Rajab, sebagai tanda kerinduan terhadap Ramadhan.

Ramadhan, menurutnya, merupakan momentum pembentukan takwa. Allah memanggil orang-orang beriman untuk berpuasa agar menjadi pribadi yang bertakwa. Iman yang kuat akan melahirkan keyakinan, dan keyakinan akan memudahkan pelaksanaan perintah agama.

Ia juga menyinggung tradisi masyarakat Jawa dalam menyambut Ramadhan, seperti memperbanyak sedekah dan doa bersama. Tradisi tersebut dipandang sebagai sarana mempererat kebersamaan sekaligus menolak bala.

“Sedekah itu bisa menolak musibah dan membuka pintu kebaikan,” ujarnya.

Pengajian ditutup dengan doa agar seluruh jamaah diberi umur panjang, kesehatan, serta kesempatan beramal di bulan Ramadhan. Harapannya, ibadah puasa dan amal saleh lainnya dapat mengantarkan pada ampunan Allah dan akhir hayat yang baik.

“Marhaban ya Ramadhan. Semoga kita dipertemukan dan dimampukan mengisinya dengan amal terbaik,” tutup Kyai Aziz.