Kisah Nabi Zakaria dan Nabi Yahya: Doa, Kesabaran, dan Kekuasaan Allah
Bojonegoro, Kisah Nabi Zakaria dan putranya, Nabi Yahya, menjadi pokok bahasan dalam kajian Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian tersebut menyoroti keteguhan doa, kesabaran menghadapi keterbatasan manusia, serta kekuasaan Allah SWT yang melampaui hukum adat dan logika manusia, Sabtu (31/1/2026).
Bojonegoro,
Kisah Nabi Zakaria dan putranya, Nabi Yahya, menjadi pokok bahasan dalam kajian
Subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian tersebut
menyoroti keteguhan doa, kesabaran menghadapi keterbatasan manusia, serta
kekuasaan Allah SWT yang melampaui hukum adat dan logika manusia, Sabtu
(31/1/2026).
KH. A. Maimun Syafi’I menjelaskan
doa Nabi Zakaria sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran, ketika beliau memohon
kepada Allah agar dikaruniai seorang anak, meskipun dirinya telah lanjut usia
dan istrinya dikenal mandul. Doa tersebut dipanjatkan dengan penuh kerendahan
hati, bukan sebagai bentuk keputusasaan, melainkan keyakinan akan kekuasaan
Allah.
“Nabi Zakaria menyadari secara
manusiawi hal itu mustahil. Namun, bagi Allah, tidak ada yang sulit,” ujar Mbah
Mun.
Allah SWT kemudian menjawab doa
tersebut dengan firman-Nya yang menegaskan bahwa menciptakan seorang anak dari
pasangan yang secara adat dianggap tidak mungkin adalah perkara yang mudah
bagi-Nya. Dari pasangan Nabi Zakaria lahirlah Nabi Yahya, sebuah mukjizat
sekaligus tanda kekuasaan Allah.
Kajian tersebut menekankan bahwa
ketidakmungkinan menurut logika manusia tidak membatasi kehendak Allah. Bahkan,
Allah mengingatkan Nabi Zakaria bahwa dirinya sendiri dahulu diciptakan dari
keadaan “tiada”, sehingga menciptakan keturunan baginya bukanlah hal yang
sulit.
Selain kabar kelahiran, Nabi
Zakaria juga memohon tanda (alamat) dari Allah. Tanda tersebut adalah
ketidakmampuannya berbicara selama beberapa hari, meski tubuhnya tetap sehat.
Dalam masa itu, Nabi Zakaria hanya dapat berkomunikasi melalui isyarat, sambil
terus memerintahkan kaumnya untuk memperbanyak tasbih pada waktu pagi dan
petang.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi
pelajaran bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah tidak selalu hadir dalam bentuk
keajaiban yang kasat mata, tetapi juga melalui kejadian yang tampak sederhana
namun sarat makna spiritual.
Mbah Mun juga menguraikan
keistimewaan Nabi Yahya, yang sejak kecil telah dianugerahi pemahaman mendalam
terhadap kitab Taurat dan kebijaksanaan dalam beragama. Nabi Yahya dikenal
sebagai sosok yang zuhud, bertakwa, dan sangat menjaga diri dari godaan
duniawi.
“Sejak usia belia, Nabi Yahya telah
menunjukkan kedewasaan spiritual yang luar biasa. Ia tidak larut dalam
permainan anak-anak, tetapi fokus pada ibadah dan dakwah,” kata Mbah Mun.
Dalam kajian itu, Nabi Yahya
digambarkan sebagai pribadi yang penuh kasih, rendah hati, dan tegas dalam
menyampaikan kebenaran. Ketakwaannya tercermin dalam kesederhanaan hidup serta
keberaniannya menegur penyimpangan, meskipun berisiko terhadap keselamatan
dirinya.
Melalui kisah Nabi Zakaria dan Nabi
Yahya, jamaah diajak untuk memahami bahwa doa yang tulus, kesabaran, serta
keyakinan kepada Allah merupakan fondasi utama dalam menghadapi keterbatasan
hidup. Allah SWT, menurut Mbah Mun, senantiasa berkuasa membalik keadaan dan
memberi jalan keluar di luar perkiraan manusia.
Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa agar jamaah diberi kekuatan iman, kesabaran dalam ikhtiar, serta keberkahan hidup sebagaimana dicontohkan para nabi.
