Detail Berita

Kisah Tawakal dan Kasih Sayang Rasulullah Jadi Teladan

Bojonegoro — Suasana sore di Masjid Agung Darussalam, tampak khusyuk ketika jamaah mulai duduk bersila, menyimak kajian rutin Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Al-Hikam. Ustadz Ridfki memulai dengan salam dan puji-pujian kepada Allah SWT, sebelum kemudian mengajak jamaah membaca surah Al-Fatihah bersama, Sabtu (26/7/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Suasana sore di Masjid Agung Darussalam, tampak khusyuk ketika jamaah mulai duduk bersila, menyimak kajian rutin Kitab Riyadhus Shalihin dan Kitab Al-Hikam. Ustadz Ridfki memulai dengan salam dan puji-pujian kepada Allah SWT, sebelum kemudian mengajak jamaah membaca surah Al-Fatihah bersama, Sabtu (26/7/2025).

Dalam kajian kali ini, pembahasan berpusat pada makna tawakal, yakni sikap pasrah total kepada Allah SWT tanpa kehilangan ikhtiar. Ustadz Rifki menuturkan, tawakal merupakan inti dari keimanan, dan menjadi teladan yang diwariskan langsung oleh Rasulullah SAW kepada umatnya.

“Rasulullah menunjukkan arti tawakal sejati bukan dengan pasrah tanpa usaha, tetapi dengan berserah diri setelah berjuang sepenuhnya,” ujarnya.

Sebagai penguat, sang ustaz menuturkan kisah Perang Dzatir Riqa’, ketika Rasulullah SAW nyaris diserang oleh seorang lelaki dari suku Najd yang berniat membunuh beliau. Dalam keadaan terlelap di bawah pepohonan, pedang Rasulullah sempat direbut oleh lelaki tersebut. Namun ketika orang itu menghunuskan pedangnya sambil berkata, ‘Siapa yang bisa menyelamatkanmu dariku, wahai Muhammad?’, Rasulullah menjawab tenang, “Allah.”

Mendengar nama Allah diucapkan dengan penuh keyakinan, lelaki itu sontak gemetar dan menjatuhkan pedangnya. Rasulullah tidak membalas dendam, melainkan memaafkannya. Sikap itu, menurut Ustadz Rifki, menjadi wujud nyata kasih sayang Nabi dan bukti penjagaan Allah atas diri beliau.

“Kalau saat itu Nabi membunuhnya, konflik akan melebar. Tapi dengan memaafkan, Rasulullah justru memutus rantai kebencian. Orang yang tadinya ingin membunuh Nabi akhirnya masuk Islam dan berdakwah di kampungnya sendiri,” tutur Ustadz Rifki dengan nada lembut.

Kisah ini, lanjutnya, tidak hanya menunjukkan mukjizat Rasulullah, tetapi juga pelajaran politik dan sosial yang mendalam: bahwa kasih sayang bisa menjadi strategi yang lebih kuat dari pada balas dendam.

Ustadz Rifki kemudian mengaitkan kisah itu dengan ayat Al-Qur’an, “Wallahu ya’simuka minan-nas”, Allah akan melindungimu dari manusia (QS Al-Maidah: 67). Ayat tersebut, kata beliau, terbukti dalam banyak peristiwa, termasuk ketika rumah Rasulullah dikepung kaum Quraisy dan saat beliau menjadi sasaran dalam Perang Hunain, namun selalu diselamatkan oleh Allah SWT.

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Rifki juga membacakan hadis tentang tawakalnya burung. Rasulullah bersabda, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti burung; ia pergi di pagi hari dengan perut kosong dan kembali sore hari dengan perut kenyang.”

Melalui hadits ini, jamaah diajak untuk meneladani keseimbangan antara ikhtiar dan keikhlasan. “Tawakal bukan berarti pasif. Lihatlah burung, ia keluar mencari makan, tapi tidak pernah gelisah soal rezeki. Begitulah seharusnya kita hidup,” jelasnya.

Menutup kajian, Ustadz Rifki mengingatkan pentingnya tidur dalam keadaan pasrah kepada Allah, dengan berwudhu dan membaca doa, agar hati tenang dan tidur menjadi berkualitas. Ia menegaskan, kepasrahan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari keimanan.

Kajian sore itu berakhir dengan doa bersama dan shalawat atas Nabi Muhammad SAW. Jamaah tampak larut dalam suasana teduh, membawa pulang pelajaran bahwa dalam setiap kesulitan, ada ruang untuk pasrah dan di setiap pasrah yang tulus, selalu ada penjagaan dari Allah SWT.