Kisah Zulkarnain dan Pelajaran tentang Kekuasaan Allah
Bojonegoro — KH. A. Maimun Syafi’I kembali melanjutkan kajian tafsir saat kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kali ini beliau mengulas tafsir Surat Al-Kahfi ayat 98–99, khususnya tentang kisah Zulkarnain dan bendungan yang menahan Ya’juj dan Ma’juj. Ceramah yang disampaikan dalam bahasa Jawa itu mengajak umat untuk memahami kebesaran Allah serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa akhir zaman yang disebut dalam Al-Qur’an, Sabtu (8/11/2025.
Bojonegoro
— KH. A. Maimun Syafi’I kembali
melanjutkan kajian tafsir saat kuliah shubuh di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro. Kali ini beliau mengulas tafsir Surat Al-Kahfi ayat 98–99,
khususnya tentang kisah Zulkarnain dan bendungan yang menahan Ya’juj dan
Ma’juj. Ceramah yang disampaikan dalam bahasa Jawa itu mengajak umat untuk
memahami kebesaran Allah serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa akhir
zaman yang disebut dalam Al-Qur’an, Sabtu (8/11/2025.
Pengajian
dibuka dengan doa dan pembacaan Al-Fatihah, kemudian Mbah Mun, sapaan akrab
beliau mengajak jamaah menelaah ayat demi ayat yang menggambarkan bagaimana
Zulkarnain membangun penghalang yang kokoh untuk mencegah kerusakan yang
disebabkan kaum Ya’juj dan Ma’juj.
Bendungan Zulkarnain sebagai Rahmat
Dalam
pemaparannya, Mbah Mun menjelaskan bahwa bendungan yang dibangun Zulkarnain
menggunakan potongan-potongan besi itu merupakan “rahmat besar dari Allah”. Beliau
menegaskan bahwa kekuatan struktur tersebut bukan semata hasil rekayasa
manusia, tetapi karunia Ilahi yang melindungi umat manusia dari kehancuran.
“Zulkarnain
menyadari bahwa apa yang ia bangun adalah nikmat yang besar dari Allah. Itu
yang patut ditiru, setiap nikmat harus disandarkan kepada Allah, bukan pada
kehebatan diri,” ujarnya.
Mbah
Mun berulang kali menekankan bahwa keberhasilan manusia dalam mencapai sesuatu,
baik duniawi maupun spiritual, selalu berada dalam lingkup rahmat dan izin
Allah.
Akhir Zaman: Ketika Bendungan Hancur
Melanjutkan
penjelasan ayat berikutnya, Mbah Mun menyampaikan bahwa Al-Qur’an mengabarkan
suatu masa ketika janji Allah tiba, dan bendungan tersebut akan hancur luluh
menjadi debu. Peristiwa itulah yang menandai keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.
“Keluarnya
Ya’juj dan Ma’juj adalah bagian dari rangkaian tanda-tanda besar kiamat. Mereka
akan turun ke bumi dalam jumlah besar, saling berdesakan seperti gelombang yang
menumpuk,” tuturnya.
Dalam
ceramahnya, Beliau menggambarkan bagaimana Ya’juj dan Ma’juj merusak ekosistem,
meminum air laut, memakan hewan darat dan laut, hingga membinasakan manusia
yang mereka temui. Namun ia menegaskan bahwa Makkah dan Madinah tetap
terlindungi oleh kehendak Allah.
Perlindungan bagi Orang Beriman
Menurut
Mbah Mun, dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Isa AS dan para pengikutnya kelak
akan mengungsi ke Gunung Thur untuk menghindari kerusakan yang disebabkan Ya’juj
dan Ma’juj. Doa Nabi Isa kemudian diijabah Allah, hingga kaum itu dibinasakan
dengan cara yang sangat mudah oleh kekuasaan-Nya.
“Allah
tidak membutuhkan pasukan besar. Hanya dengan mengirim makhluk kecil, Ya’juj
dan Ma’juj pun mati begitu saja. Inilah pelajaran bahwa kekuatan Allah jauh
melampaui akal manusia,” jelasnya.
Setelah
kehancuran itu, Nabi Isa dan para pengikutnya digambarkan turun kembali ke
bumi, namun mendapati jasad-jasad Ya’juj dan Ma’juj memenuhi permukaan tanah.
Situasi itu pun kembali memunculkan doa kepada Allah agar bumi dibersihkan.
Hikmah untuk Umat Masa Kini
Mengakhiri
pengajian, Mbah Mun mengajak jamaah untuk memetik hikmah dari kisah tersebut.
Ia menegaskan pentingnya memperkuat iman, berzikir, membaca ayat kursi, dan
menjaga amal salih sebagai benteng diri.
“Kisah
ini bukan sekadar cerita masa depan. Ini peringatan bahwa manusia harus selalu
bersandar kepada Allah. Semua yang kita miliki hanyalah titipan. Semua kekuatan
ada pada-Nya,” katanya.
Beliau menutup ceramah dengan doa agar jamaah senantiasa diberi ilmu yang bermanfaat dan kemampuan untuk mengambil pelajaran dari ayat-ayat Al-Qur’an.
