Kisah Zulkarnain dan Ya’juj Ma’juj Cerminkan Kekuatan Iman dan Ilmu
Bojonegoro, KH. A. Maimun Syafi’I dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (18/10/2025), menyampaikan penjelasan mendalam tentang kisah Zulkarnain dan kaum Ya’juj Ma’juj sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 94.
Bojonegoro,
KH. A. Maimun Syafi’I dalam kajian tafsir Al-Qur’an yang digelar di Masjid
Agung Darussalam Bojonegoro, Sabtu (18/10/2025), menyampaikan penjelasan
mendalam tentang kisah Zulkarnain dan kaum Ya’juj Ma’juj sebagaimana termaktub
dalam Surah Al-Kahfi ayat 94.
Dalam
tausiyah yang diikuti puluhan jamaah Subuh itu, Mbah Mun menegaskan bahwa kisah
Zulkarnain bukan sekadar cerita sejarah, melainkan simbol tentang kekuatan
iman, ilmu, dan tanggung jawab kepemimpinan. “Zulkarnain diberi kekuasaan
besar, tapi ia tetap rendah hati. Ia menolak imbalan duniawi, karena meyakini
bahwa kekuatan sejati datang dari Allah,” ujarnya.
Mbah
Mun menjelaskan, ayat tentang Ya’juj dan Ma’juj menggambarkan kelompok manusia
perusak yang menimbulkan kekacauan di muka bumi. “Mereka menjadi simbol
keserakahan dan kerusakan moral. Ketika manusia tak lagi menjaga keseimbangan
alam dan akhlak, itulah sifat Ya’juj dan Ma’juj yang hidup di zaman modern,”
katanya.
Dalam
tausiyahnya, Mbah Mun juga menyinggung kisah Zulkarnain yang membangun dinding
besar (bendungan) untuk melindungi suatu kaum dari kerusakan yang ditimbulkan
oleh Ya’juj dan Ma’juj. Tindakan itu, katanya, menunjukkan bahwa ilmu
pengetahuan dan teknologi pun merupakan bagian dari rahmat Allah, jika
digunakan untuk kemaslahatan umat.
“Zulkarnain
bukan hanya kuat secara fisik, tapi juga cerdas dan berakhlak. Ia mampu
mengelola kekuasaan tanpa kesombongan, dan menjadikan kemampuan teknisnya
sebagai sarana ibadah,” tutur Mbah Mun.
Dalam
tafsir, Mbah Mun juga menyinggung perbedaan bahasa dan kemampuan manusia
sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah. Ia menceritakan kisah salah
satu ulama Nusantara, almarhum KH Makhrus Aly dari Lirboyo, yang dikenal
menguasai berbagai bahasa asing. “Bahasa adalah alat komunikasi antarumat
manusia, tapi pemahaman sejati datang dari Allah. Orang bisa berbicara banyak
bahasa, tapi tanpa petunjuk Allah, ia takkan memahami makna yang hakiki,”
ungkapnya.
Lebih
lanjut, Mbah Mun mengutip hadits sahabat Hudzaifah yang menuturkan tentang
banyak jumlah Ya’juj dan Ma’juj. Ia menjelaskan bahwa penafsiran tentang
makhluk tersebut hendaknya dipahami secara kontekstual. “Kita tidak sekadar
membaca kisahnya secara lahiriah. Yang lebih penting adalah mengambil
pelajaran, bahwa kerusakan moral dan kerakusan manusia bisa lebih berbahaya
daripada kekuatan fisik makhluk apa pun,” ujarnya.
Menutup
pengajiannya, Mbah Mun mengajak jamaah untuk mengambil hikmah dari kisah
Zulkarnain. “Bendungan yang dibangun Zulkarnain bukan hanya tembok besi di
antara gunung, tapi juga simbol penghalang antara kebaikan dan kerusakan dalam
diri manusia. Tugas kita hari ini adalah membangun ‘bendungan’ itu di hati kita
agar hawa nafsu dan keserakahan tidak merusak iman dan kehidupan,” katanya
menutup ceramah, disambut takbir lirih dari jamaah.
