Detail Berita

Konsistensi Amal Ibadah

Bojonegoro — Diawali dengan salam, pembacaan basmalah, serta doa bersama sebagai pembuka majelis ilmu. Ustadz Rifki mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan berkumpul untuk mempelajari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Menurut Ustadz Rifki, majelis ilmu bukan sekadar forum belajar agama, tetapi juga sarana menjaga keteguhan iman di tengah kesibukan hidup sehari-hari, Sabtu (27/12/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Diawali dengan salam, pembacaan basmalah, serta doa bersama sebagai pembuka majelis ilmu. Ustadz Rifki mengajak jamaah bersyukur karena masih diberi kesempatan berkumpul untuk mempelajari hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Menurut Ustadz Rifki, majelis ilmu bukan sekadar forum belajar agama, tetapi juga sarana menjaga keteguhan iman di tengah kesibukan hidup sehari-hari, Sabtu (27/12/2025).

“Semoga apa yang kita lakukan sore ini mendapat rida Allah SWT,” ujarnya.

Dalam kajian tersebut, materi difokuskan pada pembahasan hadis dalam Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya tentang pentingnya memelihara amal kebaikan agar tidak terputus.

Salah satu hadis yang dibahas meriwayatkan pesan Rasulullah bahwa siapa pun yang memiliki kebiasaan ibadah malam seperti zikir, membaca Al-Qur’an, atau shalat sunah lalu terlewat, dianjurkan menggantinya pada siang hari. Pahala tetap dicatat sebagaimana dikerjakan pada waktunya.

Pesan ini, menurut penceramah, menunjukkan bahwa Islam menekankan kontinuitas (istiqamah), bukan semangat sesaat.

“Ibadah kecil tapi rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tetapi hanya sesekali,” tuturnya.

Ia mencontohkan shalat malam dua rakaat yang dilakukan konsisten dinilai lebih baik dibandingkan banyak rakaat namun tidak berkelanjutan.

Ustadz juga mengangkat kisah sahabat Umar bin Khattab. Meski dikenal sebagai tokoh besar, Umar tidak banyak meriwayatkan hadis karena waktunya tersita untuk mengurus umat saat menjadi khalifah.

Dari kisah itu, jamaah diajak memahami bahwa kontribusi dalam agama memiliki bentuk yang beragam, tidak selalu diukur dari banyaknya ceramah atau tulisan, melainkan dari pengabdian nyata.

“Setiap orang punya peran. Ada yang menulis, ada yang mengajar, ada yang mengurus masyarakat,” katanya.

Bagian lain dari kajian menekankan pentingnya mengikuti sunah Nabi sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam menaati Rasulullah.

Menurutnya, Nabi bukan hanya pembawa wahyu, tetapi juga teladan praktis dalam kehidupan sehari-hari sebagai pemimpin, kepala keluarga, pendidik, hingga sahabat masyarakat.

“Kalau ingin hidup terarah, tirulah Nabi. Dalam diri beliau ada contoh terbaik,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa memahami agama tidak cukup hanya bersandar pada Al-Qur’an semata, tetapi juga hadis sebagai penjelas dan penerap ajaran.

Menjelang penutupan, Ustadz Rifki berpesan agar jamaah terus menghadiri majelis ilmu dan menjaga rutinitas ibadah harian, meski sederhana.

“Yang penting jangan putus. Sedikit tapi istiqamah, itu yang menguatkan hati,” katanya.

Majelis sore itu pun ditutup dengan doa bersama, dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.