Detail Berita

Larangan Berbuat Dzalim dan Pesan Rasulullah dalam Haji Wada’

Sejumlah jamaah mengikuti kajian kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi yang membahas hadis ke-205 tentang keharaman berbuat dzalim. Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki mengulas sejumlah riwayat sahabat, terutama dari Abdullah bin Umar, yang menyoroti pesan penting Rasulullah pada momen Haji Wada’, Ahad (1/3/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Sejumlah jamaah mengikuti kajian kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi yang membahas hadis ke-205 tentang keharaman berbuat dzalim. Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki mengulas sejumlah riwayat sahabat, terutama dari Abdullah bin Umar, yang menyoroti pesan penting Rasulullah pada momen Haji Wada’, Ahad (1/3/2026).

Haji Wada’ merupakan ibadah haji terakhir yang dilaksanakan Nabi Muhammad setelah hijrah ke Madinah. Dalam riwayat disebutkan, saat itu sebagian sahabat belum sepenuhnya menyadari bahwa ibadah tersebut menjadi penanda perpisahan Rasulullah dengan umatnya. Setelah Haji Wada’, Rasulullah wafat dan kembali kepada Allah SWT.

Dalam khutbahnya, Rasulullah menegaskan sejumlah pesan fundamental, termasuk peringatan tentang bahaya Dajjal. Setiap nabi, sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, disebut selalu memperingatkan umatnya tentang fitnah Dajjal yang besar di akhir zaman. Rasulullah bahkan menjelaskan ciri-ciri Dajjal agar umat tidak mudah tertipu.

Menurut Ustadz Rifki, terdapat tiga cara utama untuk selamat dari fitnah Dajjal. Pertama, memperbanyak doa, khususnya dalam tahiyat akhir. Kedua, membaca dan mentadabburi Surah Al-Kahfi. Surah tersebut dinilai sarat dengan pelajaran tentang berbagai bentuk fitnah, mulai dari kekuasaan, harta, ilmu, hingga perlindungan terhadap anak yatim. Ketiga, memperdalam pemahaman tentang sifat-sifat Allah agar tidak mudah terpedaya oleh klaim ketuhanan palsu.

Selain membahas fitnah akhir zaman, kajian juga menyoroti pesan Rasulullah tentang kesucian darah dan harta sesama Muslim. Dalam Haji Wada’, Rasulullah menegaskan bahwa kehormatan jiwa dan harta seorang Muslim sama sucinya dengan hari Arafah, bulan Dzulhijjah, dan tanah suci Makkah.

Hadits lain yang dibahas berasal dari riwayat Aisyah dan Muadz bin Jabal. Dalam salah satu riwayat disebutkan, siapa pun yang mengambil sejengkal tanah milik orang lain secara dzalim akan dikalungkan tanah tersebut pada hari kiamat. Pesan ini menjadi peringatan keras agar umat Islam berhati-hati dalam persoalan pertanahan dan hak milik.

Rasulullah juga mengingatkan bahwa doa orang yang didzalimi tidak memiliki penghalang di hadapan Allah, meskipun orang tersebut bukan Muslim atau bahkan seorang fasik. Selain itu, tiga golongan yang doanya mustajab adalah orang yang berpuasa hingga berbuka, orang yang didzalimi, dan musafir.

Dalam riwayat yang disampaikan kepada Muadz bin Jabal saat diutus ke Yaman, Rasulullah menekankan metode dakwah bertahap. Muadz diperintahkan terlebih dahulu mengajak masyarakat bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, kemudian menegakkan salat lima waktu, dan setelah itu menunaikan zakat yang diambil dari orang kaya untuk diberikan kepada fakir miskin di daerah setempat.

Pesan-pesan tersebut, menurut Ustadz Rifki, menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan keadilan sosial, pemenuhan hak, dan larangan keras terhadap segala bentuk kezaliman, baik dalam urusan harta, kekuasaan, maupun hubungan sosial.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar umat Islam dijauhkan dari sifat dzalim, dijaga dari fitnah akhir zaman, serta diberi kekuatan untuk menunaikan hak-hak sesama manusia sesuai tuntunan Rasulullah.