Detail Berita

Lupa kepada Allah Menjadi Akar Berbagai Kemaksiatan

BOJONEGORO, Lupa kepada Allah menjadi sumber utama berbagai bentuk kemaksiatan dalam kehidupan manusia. Pesan itu disampaikan dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, yang membahas pemikiran ulama besar Imam Sufyan ats-Tsauri tentang hakikat dosa, zikir, dan upaya menjaga diri dari perbuatan tercela, Selasa (16/12/2025).

Kuliah Shubuh

BOJONEGORO, Lupa kepada Allah menjadi sumber utama berbagai bentuk kemaksiatan dalam kehidupan manusia. Pesan itu disampaikan dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro, yang membahas pemikiran ulama besar Imam Sufyan ats-Tsauri tentang hakikat dosa, zikir, dan upaya menjaga diri dari perbuatan tercela, Selasa (16/12/2025).

Dalam pengajian yang diikuti jamaah salat Subuh tersebut, Ustadz Khafif menjelaskan pandangan Imam Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar yang juga guru Imam Malik bahwa setiap kemaksiatan yang bersumber dari syahwat masih terbuka peluang untuk diampuni Allah SWT. Sebaliknya, kemaksiatan yang lahir dari kesombongan dinilai jauh lebih sulit mendapatkan ampunan.

“Inti dari berbagai kemaksiatan adalah ghaflah, lupa kepada Allah. Ketika seseorang ingat kepada Allah, ia akan lebih tenang dan memiliki benteng kuat untuk menahan diri dari dosa,” ujar Ustadz Khafif di hadapan jamaah.

Kajian tersebut juga mengisahkan keteladanan Imam Sufyan ats-Tsauri yang dikenal memiliki zikir yang begitu kuat hingga “mendarah daging” dalam dirinya. Dikisahkan, ketika Imam Sufyan sakit dan diperiksa dengan metode pengobatan tradisional pada masanya, daun yang digunakan justru menampakkan lafaz “Allah”, sebagai simbol kedalaman zikir yang telah menyatu dalam kehidupannya.

Lebih lanjut, jamaah diajak untuk menjaga kesinambungan ibadah agar tidak ada jarak panjang yang membuat hati lalai. Salat-salat sunah seperti duha, tahajud, dan witir disebut sebagai sarana menjaga kesadaran spiritual di sela-sela waktu salat wajib.

Selain faktor spiritual, kajian juga menyoroti pengaruh makanan terhadap perilaku dan hawa nafsu manusia. Makanan halal dan baik dinilai berpengaruh besar terhadap ketenangan jiwa dan kemampuan seseorang mengendalikan diri. Beberapa teladan Nabi Muhammad SAW dalam menjaga pola makan, seperti berhenti sebelum kenyang dan tidak tergesa-gesa setelah makan disampaikan sebagai contoh konkret.

Ustadz Khafif juga mengingatkan agar jamaah tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. “Jangan melihat kecilnya maksiat, tetapi lihatlah kepada siapa maksiat itu dilakukan,” katanya. Sikap menyepelekan dosa justru dapat menjadikannya besar di sisi Allah, sementara penyesalan yang mendalam dapat membuat dosa besar menjadi ringan di hadapan-Nya.

Sebaliknya, dalam beribadah umat Islam juga diingatkan agar tidak merasa bangga atau besar diri atas amal yang dilakukan. Ibadah, sekecil apa pun, harus dipahami sebagai anugerah dan pertolongan dari Allah, bukan semata-mata hasil kemampuan pribadi.

Kajian Subuh tersebut ditutup dengan doa agar jamaah senantiasa diberi kekuatan untuk mengingat Allah, dijauhkan dari kemaksiatan, serta diberi keikhlasan dalam beribadah. Pesan utama yang mengemuka, menjaga zikir, kesadaran hati, dan kerendahan diri menjadi kunci utama dalam menata kehidupan yang lebih baik di hadapan Allah SWT.