Makna Dzikir Tak Sekadar Lafal
Bojonegoro, Dzikir tidak hanya dimaknai sebagai lantunan tasbih, tahmid, dan tahlil, melainkan mencakup seluruh aktivitas ketaatan kepada Allah. Pesan itu mengemuka dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, yang mengkaji kitab Al-Adzkar karya Imam Nawawi, Ahad (15/2/2026).
Bojonegoro,
Dzikir tidak hanya dimaknai sebagai lantunan tasbih, tahmid, dan tahlil,
melainkan mencakup seluruh aktivitas ketaatan kepada Allah. Pesan itu mengemuka
dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, yang mengkaji kitab Al-Adzkar
karya Imam Nawawi, Ahad (15/2/2026).
Dalam
tausiyahnya, Kyai Kholidin mengajak jamaah untuk memperluas pemahaman tentang dzikir.
Menurutnya, setiap amal yang dilakukan dengan niat karena Allah dan dalam
koridor ketaatan dapat bernilai dzikir.
“Tidak
terbatas pada bacaan tasbih, tahlil, tahmid, atau takbir. Setiap pekerjaan yang
diniatkan lillahi ta’ala dan merupakan ketaatan, itu termasuk dzikir,” ujarnya.
Pandangan
itu merujuk pada penjelasan sejumlah ulama. Disebutkan, Atha bin Abi Rabah
menafsirkan majelis dzikir sebagai majelis yang membahas halal dan haram, tata
cara jual beli, shalat, puasa, hingga persoalan haji. Artinya, mempelajari
fikih muamalah dan ibadah pun termasuk dzikir kepada Allah.
Kyai
Kholidin menegaskan, belajar tentang halal-haram, najis, dan tata cara ibadah
memiliki dampak langsung pada kualitas pengamalan agama. Ilmu tersebut,
menurutnya, dapat menuntun umat menjalankan ibadah dengan benar dan menjaga
transaksi agar sesuai syariat.
Kyai
Kholidin mengutip Surah Al-Ahzab ayat 35 yang menyebut laki-laki dan perempuan
yang banyak berdzikir akan memperoleh ampunan dan pahala besar. Ayat itu,
katanya, dipahami para ulama dengan beragam penafsiran.
Menurut
Mujahid ibn Jabr, dzikir yang dimaksud adalah kemampuan mengingat Allah dalam
berbagai keadaan: berdiri, duduk, berjalan, hingga berbaring. “Bukan hanya
ketika suasana mendukung, tetapi juga saat kondisi sulit,” ujarnya.
Sementara
itu, sebagian ulama lain menilai, menjaga shalat lima waktu dengan memenuhi
seluruh rukun dan syaratnya sudah termasuk kategori dzikir yang banyak. Dengan
kata lain, konsistensi dalam shalat wajib yang berkualitas menjadi indikator
kuat keimanan.
Dalam
penjelasannya, Kyai Kholidin mengingatkan bahwa dzikir bukan sekadar ritual
lisan. Menghadirkan kesadaran akan Allah saat bekerja, berdagang, maupun
berinteraksi sosial juga bagian dari dzikir.
“Kalau
seseorang berdagang dengan jujur karena takut kepada Allah, itu dzikir. Kalau
ia menahan diri dari maksiat karena ingat kepada Allah, itu juga dzikir,”
katanya.
Kyai
Kholidin menambahkan, kebebasan tanpa kesadaran ilahiah dapat mendorong
seseorang bertindak semaunya. Karena itu, dzikir menjadi pengendali moral agar
setiap tindakan tetap dalam koridor kebaikan.
Dalam
riwayat yang disampaikan, Nabi Muhammad menyebut golongan “al-mufarridun”
sebagai orang-orang yang unggul karena banyak berdzikir kepada Allah. Keutamaan
itu, menurut Kyai Kholidin , tidak lepas dari konsistensi dan kesungguhan dalam
ibadah.
Kajian
Shubuh juga menyinggung hadist tentang pasangan suami-istri yang saling
membangunkan untuk shalat malam. Dalam hadis riwayat Abu Hurairah yang
tercantum dalam Sahih Muslim, Rasulullah memuji pasangan yang saling mendukung
dalam qiyamul lail.
“Meski
hanya dua rakaat, ketika dilakukan bersama dan saling menguatkan, mereka
dicatat sebagai ahli dzikir,” tutur Kyai Kholidin.
Beliau
mengajak para jamaah menjadikan rumah tangga sebagai ladang ibadah, bukan
sekadar tempat beristirahat. Dukungan antar anggota keluarga dinilai penting
untuk menjaga konsistensi dalam beribadah.
Menjelang
Ramadhan, Kyai Kholidn mengingatkan pentingnya memperbanyak ibadah, mulai dari
shalat, zakat, hingga tilawah Al-Quran. Ia menutup pengajian dengan doa agar
sisa bulan Sya’ban diberkahi dan dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan
siap secara spiritual.
“Semoga
Allah memberkahi sisa Sya’ban kita, mempertemukan kita dengan Ramadhan, dan
menolong kita dalam shalat, zakat, serta tilawah Al-Quran,” ujarnya.
Kajian Shubuh diakhiri dengan doa bersama. Jamaah diimbau untuk menjadikan dzikir sebagai kesadaran hidup yang menyeluruh, bukan sekadar ucapan lisan, tetapi tercermin dalam perilaku sehari-hari.
