Makna Iman, Ampunan, dan Batas Kemampuan Manusia
Bojonegoro, Suasana khidmat menyelimuti kajian Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Kajian diawali dengan pembacaan Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah, para sahabat, keluarga beliau, serta para ulama dan guru yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu agama, Sabtu, (31/1/2026).
Bojonegoro,
Suasana khidmat menyelimuti kajian Kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro. Kajian diawali dengan pembacaan Surat Al-Fatihah yang
dihadiahkan kepada Rasulullah, para sahabat, keluarga beliau, serta para ulama
dan guru yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu agama, Sabtu, (31/1/2026).
Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki
dalam kajiannya menegaskan bahwa segala sesuatu di langit dan di bumi adalah
milik Allah. Ia menjelaskan bahwa bukan hanya perbuatan lahiriah yang akan
diperhitungkan, tetapi juga lintasan pikiran dan niat dalam hati manusia.
Karena itu, setiap keinginan buruk, meski hanya terlintas, tetap menjadi bagian
dari perenungan dan pengendalian diri seorang mukmin.
Dijelaskan pula bahwa para sahabat
pernah merasa berat dengan pemahaman bahwa segala lintasan hati akan dihisab.
Mereka kemudian memohon keringanan kepada Rasulullah SAW. Sebagai jawaban,
turun ayat yang menegaskan pentingnya beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya,
para malaikat, serta seluruh rasul tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain.
Menurut Ustadz Rifki, keimanan
kepada para rasul menjadi pembeda utama antara umat Islam dan umat terdahulu.
Umat Islam diwajibkan mempercayai semua nabi, mulai dari Nabi Musa, Nabi Isa,
hingga Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Mendustakan satu rasul saja,
katanya, sama halnya dengan mendustakan seluruh utusan Allah, karena ajaran
mereka saling berkaitan dan saling menguatkan.
Kajian kemudian berlanjut pada
pembahasan tentang doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an, yakni permohonan
ampunan, kasih sayang, dan pertolongan kepada Allah. Ustadz Rifki menekankan
bahwa permohonan ampunan seharusnya disertai dengan amal saleh. Amal baik
menjadi jalan atau wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meraih
pengampunan-Nya.
Selain itu, dijelaskan pula makna
ayat yang menyebutkan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai
dengan kemampuannya. Ustadz Rifki menegaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan
kewajiban syariat atau aturan agama, bukan selalu tentang ujian hidup. Aturan
agama, katanya, tidak mungkin diberikan di luar batas kemampuan manusia.
Sebaliknya, musibah atau penyakit terkadang memang terasa berat dan tidak
selalu bisa ditahan oleh manusia.
Ia mencontohkan bahwa orang yang
tidak mampu secara akal, seperti orang dengan gangguan jiwa, tidak dibebani
kewajiban syariat. Demikian pula pada umat terdahulu, terdapat aturan yang
lebih berat, seperti kewajiban tertentu yang berbeda dengan syariat yang
berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Dalam bagian lain, Ustadz Rifki
juga membahas perbedaan antara ibadah dan muamalah. Ia menyampaikan kaidah
bahwa dalam urusan ibadah, segala sesuatu pada dasarnya tidak boleh dilakukan
kecuali ada dalil yang memerintahkannya. Sementara dalam urusan muamalah atau
kehidupan sosial, hukum asalnya adalah boleh selama tidak ada larangan.
Contoh sederhana diberikan untuk
memudahkan pemahaman jamaah, seperti kebiasaan makan atau penggunaan alat
modern yang tidak memerlukan dalil khusus selama tidak melanggar aturan agama.
Sebaliknya, dalam ibadah seperti salat atau amalan ritual lainnya, diperlukan
dasar yang jelas dari Al-Qur’an atau hadis.
Ustadz Rifki juga menyinggung soal
perbedaan pandangan tentang bid’ah. Ia menjelaskan bahwa sebagian ulama
memaknai bid’ah secara khusus, yakni terbatas pada perkara akidah dan ibadah.
Karena itu, hal-hal yang bersifat duniawi atau kebiasaan baru tidak serta-merta
disebut bid’ah selama tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Kajian ditutup dengan ajakan untuk memperbanyak istighfar, memohon ampunan, serta terus meningkatkan ketaatan kepada Allah. Jamaah diajak untuk selalu merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon kasih sayang-Nya, dan berharap pertolongan dalam menjalani kehidupan. Suasana pengajian berakhir dengan doa bersama, diiringi harapan agar ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
