Detail Berita

Makna Istiqomah

Bojonegoro — Kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari kembali digelar usai salat Subuh berjamaah. Dalam pengajian tersebut, jamaah diajak memahami makna istiqomah secara lebih mendalam, yakni bukan semata-mata soal banyaknya ibadah, melainkan kesinambungan orientasi hati kepada Allah SWT, Rabu, (31/12/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Kajian Subuh Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari kembali digelar usai salat Subuh berjamaah. Dalam pengajian tersebut, jamaah diajak memahami makna istiqomah secara lebih mendalam, yakni bukan semata-mata soal banyaknya ibadah, melainkan kesinambungan orientasi hati kepada Allah SWT, Rabu, (31/12/2025).

Ustadz Rifki menyampaikan bahwa Allah SWT memberikan taufik kepada umat-Nya agar mampu melaksanakan salat Subuh berjamaah dan melanjutkannya dengan kajian keilmuan. Ia menekankan pentingnya menjaga semangat ibadah agar tidak berubah menjadi kejenuhan yang justru menjauhkan seseorang dari ketaatan.

“Ibadah yang dilakukan dengan terpaksa, tanpa kehadiran hati, berisiko menimbulkan kebosanan. Dari kebosanan itulah sering lahir sikap meninggalkan ibadah atau menjalankannya tanpa ruh,” ujarnya.

Dalam penjelasannya, Ustadz Rifki mengingatkan bahwa Rasulullah SAW melarang umatnya bersikap ekstrem dalam beribadah. Ibadah yang dipaksakan secara berlebihan, seperti begadang semalam suntuk tanpa jeda atau memforsir amalan di luar kemampuan, justru dapat membuat seseorang tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.

Menurutnya, Allah menciptakan ragam bentuk ibadah sebagai rahmat agar manusia dapat berpindah dari satu amalan ke amalan lain ketika mengalami kejenuhan, tanpa kehilangan arah spiritual. Dengan cara itu, ibadah tetap dilakukan dengan semangat, keikhlasan, dan rasa sukacita.

“Ibadah yang sedikit tetapi dilakukan dengan penuh kesadaran dan cinta lebih baik daripada ibadah yang banyak namun dilakukan dengan hati yang lelah dan enggan,” tuturnya.

Ustadz Rifki juga meluruskan pemahaman tentang istiqomah. Ia menjelaskan bahwa istiqomah tidak selalu berarti bertahan pada satu bentuk ibadah tertentu, melainkan menjaga konsistensi hati untuk senantiasa menghadap kepada Allah dengan adab dan kepatuhan terhadap syariat.

“Selama orientasi hati tetap tertuju kepada Allah, seseorang tetap berada dalam koridor istiqomah, meskipun bentuk ibadahnya berganti,” katanya.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa prinsip tersebut tidak berlaku untuk ibadah wajib. Ibadah wajib, seperti salat lima waktu, tidak dapat ditinggalkan dengan alasan bosan atau diganti dengan amalan lain. Pergantian ibadah, kata dia, hanya berlaku pada amalan sunah dan tidak boleh dilandasi sikap meremehkan syariat atau mencari-cari keringanan demi menuruti hawa nafsu.

Kajian tersebut juga menyoroti pentingnya menyeimbangkan antara kesungguhan dan kemudahan dalam beribadah. Kesulitan atau masyaqqah dalam ibadah, menurut Ustadz Rifki, tidak selalu menjadi ukuran keutamaan. Yang lebih utama adalah kesesuaian ibadah dengan perintah Allah, bukan sekadar tingkat kesulitannya.

Pengajian ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk terus menjaga semangat beribadah, memahami syariat secara utuh, serta menempuh jalan menuju Allah dengan hati yang lapang dan penuh kesadaran. Kajian Subuh Al-Hikam ini diharapkan menjadi penguat spiritual bagi jamaah dalam menjalani kehidupan sehari-hari dengan ibadah yang seimbang dan berkesinambungan.