Makna Ridha dan Kesadaran Spiritual
Bojonegoro — Suasana Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, pagi itu, berlangsung khidmat. Setelah jamaah menunaikan salat Subuh berjemaah, kegiatan dilanjutkan dengan kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari. Dalam kesempatan itu, pengampu kajian mengajak jamaah memperdalam pemahaman tentang konsep maddad (pertolongan Allah) dan ridha terhadap ketentuan Ilahi, Jum’at (21/11/2025).
Bojonegoro — Suasana Subuh di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro, pagi itu, berlangsung khidmat. Setelah jamaah menunaikan
salat Subuh berjemaah, kegiatan dilanjutkan dengan kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu
‘Atha’illah As-Sakandari. Dalam kesempatan itu, pengampu kajian mengajak jamaah
memperdalam pemahaman tentang konsep maddad
(pertolongan Allah) dan ridha
terhadap ketentuan Ilahi, Jum’at (21/11/2025).
Dalam
pembukaannya, Ustadz Rifki menyampaikan rasa syukur atas kesempatan dapat
kembali melanjutkan pengajian rutin. Ia menegaskan bahwa pertolongan Allah
tidak turun begitu saja, tetapi “diberikan sesuai kesiapan batin yang
dipersiapkan oleh hamba.” Ia mencontohkan perbedaan kondisi umat Islam dalam
Perang Badar dan Perang Uhud: “Ketika wadah batin dibuka melalui ketaatan,
kesungguhan, dan persatuan, pertolongan itu mudah diturunkan. Namun ketika
perintah dilanggar, seperti pada Perang Uhud, pertolongan itu tidak turun.”
Kajian
kemudian bergeser pada pembahasan konsep ridha
dalam perspektif Imam al-Ghazali. Menurut Ustadz Rifki, ridha memiliki dua
dimensi: ridha terhadap keputusan Allah (qadha),
dan ridha terhadap apa yang menjadi realisasi keputusan-Nya (maqdi ‘anhu). Ia
menekankan bahwa seorang mukmin wajib ridha pada ketetapan Allah, tetapi tidak
boleh ridha pada kemaksiatan atau kekafiran. “Ridha kepada kemaksiatan adalah
maksiat. Ridha terhadap kekafiran adalah kekafiran,” ujarnya.
Jamaah
juga diajak membedakan antara dua tipe manusia: mereka yang lalai (ghafil), dan mereka
yang arif (‘aqil).
Orang yang lalai, menurut penjelasan kitab, hanya melihat apa yang ia lakukan
tanpa mengaitkannya dengan Allah. Sebaliknya, orang arif selalu mengaitkan
setiap peristiwa dan tindakan dengan ketentuan serta pengawasan Allah. “Orang
yang makrifat selalu memandang setiap kejadian sebagai ketentuan dan takdir
Allah. Karena itu mereka lebih mudah ikhlas, ridha, dan terjaga batinnya,”
tuturnya.
Dalam
penutup kajian, Ustadz Rifki mengingatkan jamaah agar memperkuat zikir hati (dzikrul janan) sebagai
fondasi kesadaran spiritual. “Zikir lisan memang penting, tetapi yang paling
utama adalah hati yang senantiasa sadar dan menyandarkan segala sesuatu kepada
Allah,” katanya mengakhiri.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh jamaah dan masyarakat Bojonegoro.
