Makna Sedekah dalam Kehidupan Sehari-hari
Bojonegoro – Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro pada sore hari yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami makna sedekah yang luas sebagaimana dijelaskan dalam kitab karya ulama besar, Yahya ibn Sharaf al-Nawawi, Ahad (8/3/2026).
Bojonegoro
– Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro pada sore hari yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad
Rifki Azmi. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami makna sedekah
yang luas sebagaimana dijelaskan dalam kitab karya ulama besar, Yahya ibn
Sharaf al-Nawawi, Ahad (8/3/2026).
Kajian
diawali dengan pembacaan doa dan surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, para sahabat, keluarga Rasulullah, serta para ulama dan guru yang
telah mewariskan ilmu kepada umat Islam.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Ahmad Rifki Azmi mengutip hadis dari sahabat Abu Hurairah
yang menyebutkan bahwa manusia memiliki 360 sendi, dan setiap sendi tersebut
merupakan nikmat dari Allah yang harus disyukuri. Salah satu bentuk syukur itu
adalah dengan bersedekah setiap hari.
“Setiap
hari adalah nikmat baru dari Allah. Karena itu, setiap hari pula manusia
dianjurkan untuk bersedekah sebagai bentuk rasa syukur,” jelasnya di hadapan
para jamaah.
Dalam
hadits yang dikaji, sedekah tidak hanya berupa pemberian materi. Ustadz Ahmad
Rifki Azmi menjelaskan bahwa banyak amal kebaikan yang bernilai sedekah,
seperti berbuat adil, membantu orang lain, berkata baik, hingga menyingkirkan
sesuatu yang membahayakan dari jalan.
Menurutnya,
Rasulullah SAW menyebutkan contoh-contoh tersebut karena kondisi masyarakat
pada masa itu yang masih sederhana, dengan infrastruktur jalan yang belum baik
serta karakter sosial masyarakat Arab yang keras.
“Ketika
kita memahami hadis, kita perlu membayangkan kondisi pada zaman Rasulullah. Apa
yang disebutkan dalam hadis adalah contoh yang paling mendesak pada masa itu,
bukan pembatasan bentuk sedekah,” ujarnya.
Ia
menambahkan bahwa dalam konteks masa kini, bentuk sedekah bisa lebih luas,
misalnya membantu pendidikan, menyediakan fasilitas umum, atau memberikan
penerangan di daerah yang belum memiliki akses listrik.
Selain
membahas sedekah, kajian juga menyinggung hadis yang diriwayatkan oleh sahabat
perempuan Umm Kulthum bint Uqbah tentang kondisi tertentu yang memperbolehkan
seseorang berkata tidak sesuai fakta.
Menurut
penjelasan ustadz, pada dasarnya berbohong adalah dosa karena dapat menimbulkan
kerugian bagi orang lain. Namun ada tiga kondisi yang diberi keringanan oleh
syariat, yaitu dalam peperangan sebagai strategi, untuk mendamaikan dua pihak
yang berselisih, dan dalam hubungan suami istri demi menjaga keharmonisan rumah
tangga.
“Jika
tujuannya untuk mendamaikan dua orang yang berseteru, maka ucapan yang tidak
sepenuhnya sesuai fakta bisa diperbolehkan selama bertujuan membawa kebaikan,”
terangnya.
Dalam
bagian lain kajian, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menyoroti pentingnya empati
terhadap kesulitan orang lain, termasuk kepada orang yang terlilit utang. Ia
menjelaskan bahwa Islam mendorong umatnya untuk memberi kelonggaran atau bahkan
membebaskan utang bagi mereka yang benar-benar kesulitan.
Ia
juga menyinggung pentingnya menerapkan prinsip kemudahan tersebut dalam sistem
ekonomi syariah agar benar-benar mencerminkan nilai keadilan dan kemaslahatan
bagi masyarakat.
Kajian
ditutup dengan kisah teladan para sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar al-Siddiq.
Dalam sebuah riwayat, Abu Bakar pernah diminta menjadi imam ketika Nabi
Muhammad SAW belum hadir. Namun ketika Nabi datang, Abu Bakar memilih mundur
karena rasa hormatnya kepada Rasulullah.
Kisah
ini, menurut Ustadz Ahmad Rifki Azmi, menunjukkan pentingnya adab dan
penghormatan dalam Islam.
“Penghormatan
kepada orang yang lebih mulia merupakan bagian dari akhlak yang diajarkan oleh
Rasulullah,” katanya.
Kajian Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro tersebut rutin diikuti oleh masyarakat setempat yang antusias mendalami ajaran Islam melalui kitab klasik yang sarat dengan nilai moral dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
