Makna Tawakal dan Jaminan Rezeki
Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mendapatkan siraman rohani dalam kajian Subuh yang berlangsung di masjid setempat. Melanjutkan pembahasan kitab Qutul Qulub fi Mu’amalat al-Mahbub karya Syekh Abu Thalib Al-Makki, Dr. Yogi Prana Izza, Lc, MA. menekankan pentingnya menjaga nikmat iman dan Islam serta memahami konsep tawakal secara benar, Rabu (29/10/2025).
Bojonegoro
— Jamaah Masjid Agung Darussalam kembali mendapatkan siraman rohani dalam
kajian Subuh yang berlangsung di masjid setempat. Melanjutkan pembahasan kitab Qutul
Qulub fi Mu’amalat al-Mahbub karya Syekh Abu Thalib Al-Makki, Dr.
Yogi Prana Izza, Lc, MA. menekankan pentingnya menjaga nikmat iman dan Islam
serta memahami konsep tawakal secara benar, Rabu (29/10/2025).
Dalam tausyiahnya, beliau
mengisahkan tentang seorang laki-laki yang pernah berguru kepada Umar bin
Khattab radhiyallahu ‘anhu dan kemudian terinspirasi oleh ayat Al-Qur’an
dalam Surah Az-Zariyat ayat 22, “Dan di langit terdapat rezekimu
dan apa yang dijanjikan kepadamu.” Umar dikisahkan menangis karena
memahami kedalaman makna ayat tersebut.
Dr. Yogi juga mengutip riwayat lain
dari ulama besar ahli bahasa, Al-Ashma’i. Riwayat tersebut menggambarkan
seorang Arab dusun yang meyakini ayat serupa hingga meninggal dalam keadaan
takjub karena keyakinannya yang mendalam terhadap janji Allah.
Dari sejumlah riwayat tersebut, Beliau
menjelaskan bahwa rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah, namun manusia
tetap diperintahkan berusaha. Hujan disebut sebagai simbol rezeki karena
menjadi sumber tumbuhnya berbagai makanan dan kebutuhan hidup.
“Allah telah menjamin rezeki setiap
makhluk, tetapi manusia tidak boleh terjebak dalam tawakal palsu,” ujarnya.
Tawakal, menurutnya, adalah sikap hati yang berserah diri kepada Allah,
sementara tubuh tetap harus bergerak melakukan ikhtiar.
Beliau juga mengutip pendapat ulama
yang membagi tingkatan tawakal menjadi tiga. Pertama, tawakal orang kebanyakan
yang masih melihat sebab-sebab duniawi. Kedua, tingkatan taslim,
yaitu berserah total pada ketentuan Allah tanpa gelisah pada hasil. Ketiga,
tingkatan tertinggi yaitu taufik, ketika
seseorang ridha sepenuhnya atas setiap keputusan Allah, sekalipun hasilnya
tidak sesuai harapan.
Berbagai kisah pendukung turut
disampaikan, termasuk kisah seorang ulama Mesir yang terinspirasi melihat
seekor kucing memberi makan kucing lain yang buta. Kisah itu menegaskan
keyakinan bahwa Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya.
Mengakhiri ceramah, Beliau mengajak jamaah untuk memperkuat iman, menjaga keikhlasan dalam berserah diri, dan tidak pernah menggantungkan harapan pada selain Allah. Kajian kemudian ditutup dengan istighfar bersama dan doa.
