Makna Tawakal dan Kesadaran Menyebut Asma Allah
Bojonegoro — Suasana sore di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terasa khidmat ketika puluhan jamaah duduk bersila, mengikuti kajian hadits yang disampaikan Ustadz Rifki Azmi dengan penuh kelembutan. Kajian kali ini mengulas salah satu tema pokok dalam kehidupan beriman: tawakal, sikap pasrah dan percaya penuh kepada Allah setelah berikhtiar, Sabtu (2/8/2025).
Bojonegoro
— Suasana sore di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro terasa khidmat ketika puluhan
jamaah duduk bersila, mengikuti kajian hadits yang disampaikan Ustadz Rifki
Azmi dengan penuh kelembutan. Kajian kali ini mengulas salah satu tema pokok
dalam kehidupan beriman: tawakal, sikap pasrah dan percaya penuh kepada
Allah setelah berikhtiar, Sabtu (2/8/2025).
Diawali
dengan lantunan doa dan pembacaan surat Al-Fatihah, pengajian sore itu
berlanjut dengan pembahasan hadis ke-9 dari bab tawakal. Hadis tersebut
diriwayatkan dari Ummul Mukminin, Sayyidah Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW,
yang meriwayatkan doa Nabi ketika hendak keluar rumah: “Bismillahi
tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah.”
“Doa
ini sederhana, tapi maknanya sangat dalam,” ujar Ustadz Rifki di hadapan
jamaah. Ia menjelaskan, lafadz bismillah dalam doa tersebut bukan
sekadar pembuka, tetapi mencerminkan pengakuan total atas keesaan dan
kesempurnaan Allah.
Menurut
penjelasannya, nama “Allah” memiliki keistimewaan tersendiri dibanding
nama-nama lain seperti Ar-Rahman, Ar-Rahim, atau Al-Malik.
Ketika seseorang menyebut “Allah”, maka seluruh sifat kesempurnaan Tuhan ikut
serta disebut. “Itulah sebabnya, kata para ulama, ‘Allah’ adalah ismudzat,
nama yang mencakup seluruh sifat-Nya,” ujarnya.
Dalam
konteks kehidupan sehari-hari, lanjutnya, doa bismillahi tawakkaltu ‘alallah
menjadi pengingat agar setiap langkah manusia dilandasi kesadaran bahwa semua
terjadi atas izin dan kehendak Allah. Ustaz itu mencontohkan, seseorang yang
keluar rumah untuk bekerja, belajar, atau berobat seharusnya menanamkan niat
“karena Allah”, bukan semata-mata mengikuti keinginan duniawi.
“Orang
yang benar-benar bertawakal hatinya tenang,” katanya. “Ia tidak gelisah oleh
hasil, tidak iri pada rezeki orang lain, dan tidak sombong ketika mendapat
keberhasilan, sebab ia yakin semua berasal dari Allah.”
Dalam
penjelasan berikutnya, ia menekankan pentingnya kalimat la haula wa la
quwwata illa billah sebagai pengakuan bahwa manusia tidak memiliki daya dan
kekuatan tanpa pertolongan Allah. Dengan kesadaran itu, seseorang akan
terhindar dari kesombongan. “Kalimat ini mengikis keangkuhan,” tuturnya. “Kalau
seseorang sadar bahwa rezekinya, ilmunya, bahkan keberhasilannya datang dari
Allah, bagaimana mungkin ia masih bisa menyombongkan diri?”
Ustadz
Rifki kemudian mengutip penjelasan hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Abu
Dawud dan Tirmidzi. Rasulullah menyebutkan, orang yang membaca doa bismillahi
tawakkaltu ‘alallah, la haula wa la quwwata illa billah ketika keluar rumah
akan mendapat tiga hal: petunjuk, kecukupan, dan perlindungan. “Hudita,
wakufita, waukita — diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi,” ujarnya sembari
mengulang pelafalan itu bersama jamaah.
Dalam
bagian lain pengajian, ia menceritakan sebuah kisah tentang dua bersaudara di
masa Rasulullah SAW: satu bekerja, satu lagi menuntut ilmu. Ketika sang pekerja
mengeluh kepada Nabi karena saudaranya dianggap hanya belajar tanpa membantu
mencari nafkah, Rasulullah menjawab, “Boleh jadi rezekimu mengalir karena
saudaramu itu.” Kisah ini, menurut Ustadz Rifki, mengandung pelajaran bahwa
keberkahan rezeki sering datang lewat perantara orang lain yang beribadah dan
berilmu.
“Jadi
jangan takut kalau anak mondok, jangan khawatir bila ada yang menuntut ilmu
agama,” katanya menegaskan. “Bisa jadi, lewat mereka Allah justru membuka pintu
rezeki bagi keluarga.”
Kajian
kemudian ditutup dengan pengingat pentingnya istiqamah, konsistensi
dalam amal. Ia menegaskan, Allah memerintahkan, ‘Fastaqim kama umirta’
(berteguhlah seperti yang diperintahkan kepadamu). Amal kecil yang dilakukan
terus-menerus, menurutnya, lebih bermakna daripada amal besar yang hanya
sesekali dilakukan. “Air yang menetes terus-menerus bisa melubangi batu,”
katanya memberi perumpamaan. “Begitu pula amal yang istiqamah, ia membekas di
hati.”
Sore itu, suara doa penutup bergema memenuhi ruang serambi masjid. Jamaah menundukkan kepala, melafalkan istighfar dan salawat. “Semoga Allah menjadikan kita bagian dari umat yang mendapat syafaat Rasulullah SAW,” tutup Ustadz Rifki, diiringi ucapan amin dari seluruh jamaah.
