Detail Berita

Makna “Wal Asr” dan Urgensi Sabar dalam Mengisi Waktu

Bojonegoro - Waktu Asar bukan sekadar penanda pergantian siang menuju petang. Dalam kajian Kitab Riyadhus Sholihin yang disampaikan di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, waktu Asar dimaknai sebagai simbol fase akhir kehidupan manusia, momen ketika kesadaran tentang untung dan rugi hidup kian terasa, Kamis (19/2/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro - Waktu Asar bukan sekadar penanda pergantian siang menuju petang. Dalam kajian Kitab Riyadhus Sholihin yang disampaikan di Masjid Agung Darussalam  Bojonegoro, waktu Asar dimaknai sebagai simbol fase akhir kehidupan manusia, momen ketika kesadaran tentang untung dan rugi hidup kian terasa, Kamis (19/2/2026).

Ustadz Rifki menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, istilah waktu memiliki beberapa padanan. Ad-dahr merujuk pada rentang waktu secara umum sejak penciptaan alam hingga hari kiamat. Sementara ajal menunjuk pada batas akhir kehidupan. Adapun al-‘asr dipahami sebagai waktu yang dialami dan dijalani manusia dalam kehidupannya.

“Kenapa Allah bersumpah dengan waktu Asar? Karena Asar itu fase menjelang akhir. Biasanya orang merasa rugi ketika sudah di penghujung hidupnya,” ujarnya, merujuk pada Surah Al-‘Asr.

Dalam surah tersebut ditegaskan, “Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” Pesan ini, menurutnya, relevan dengan kondisi manusia yang sering menyesal saat usia tak lagi muda.

Secara etimologis, kata ‘asr juga bermakna “memeras”. Ia mengutip kisah dalam Surah Yusuf tentang seseorang yang bermimpi memeras anggur. “Memeras itu butuh tenaga. Kalau tidak diperas, tidak keluar hasilnya,” katanya.

Waktu Asar dianalogikan sebagai fase ketika tenaga sudah menurun. Tanpa kesungguhan dan kesabaran, produktivitas dan amal bisa berhenti. Karena itu, ia menekankan pentingnya sabar sebagai fondasi amal saleh.

“Sabar itu menahan. Menahan kantuk untuk tahajud, menahan diri dari maksiat, menahan keinginan yang tidak perlu,” ujarnya.

Ia merujuk pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang menempatkan sabar setelah taubat. Taubat, menurut Al-Ghazali, tidak akan sempurna tanpa kesabaran menahan diri dari dosa.

Pandangan serupa juga disampaikan Al-Shafi'i. Ia menyebut, banyak manusia membaca Surah Al-‘Asr, tetapi tidak mentadaburinya. “Tadabur itu bukan sekadar memahami makna bahasa, tetapi bagaimana ayat itu mengubah diri kita menjadi lebih baik,” ujar Ustadz Rifki mengutip pendapat Imam Syafi’i.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengangkat sejumlah hadis tentang pahala bagi mereka yang membantu kebaikan, meski tidak melakukannya secara langsung. Salah satunya hadis riwayat Muhammad tentang orang yang menyiapkan bekal bagi pejuang, yang tetap memperoleh pahala seperti orang yang berperang.

“Seorang istri yang menyiapkan pakaian suaminya untuk menghadiri pengajian, ia pun mendapat pahala pengajian itu,” katanya.

Ia mencontohkan pula peran para sahabat seperti Ali ibn Abi Talib dan Uthman ibn Affan yang dalam situasi tertentu tidak turut ke medan perang karena ditugaskan menjaga keluarga, namun tetap memperoleh pahala.

Kisah lain yang disinggung adalah peristiwa tragis di Bir Ma’unah dan Ar-Raji’, ketika para penghafal Al Quran dibunuh oleh suku yang berkhianat. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran tentang pentingnya kewaspadaan sekaligus keteguhan iman.

Menutup kajian, Ustadz Rifki mengutip sabda Nabi bahwa agama adalah nasihat, kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam secara umum.

“Nasehat itu menginginkan kebaikan untuk orang lain. Semua syariat pada dasarnya adalah bentuk kasih sayang Allah agar manusia selamat,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyempurnakan salat, bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga batiniah. Salat yang ditegakkan dengan benar, katanya, akan melahirkan ketenangan dan mencegah perbuatan keji serta mungkar.

“Kalau salat sudah menghadirkan sakinah, orang akan merasa rugi jika kembali pada maksiat,” ujarnya.

Di akhir kajian, ia mengajak jamaah untuk memaknai waktu, terutama “waktu Asar” dalam hidup masing-masing, sebagai momentum memperbaiki diri sebelum kesempatan benar-benar habis.