Memahami Adab Batin dalam Shalat
Bojonegoro, Kajian Subuh di Masjid Darussalam kembali digelar dengan membahas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Dalam pengajian yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan itu, Ustadz Rifki menekankan pentingnya memahami adab batin dalam shalat agar ibadah tidak berhenti pada gerakan lahiriah semata, Jum’at (30/1/2026).
Bojonegoro,
Kajian Subuh di Masjid Darussalam kembali digelar dengan membahas Kitab Al-Hikam
karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari. Dalam pengajian yang diikuti jamaah dari
berbagai kalangan itu, Ustadz Rifki menekankan pentingnya memahami adab batin
dalam shalat agar ibadah tidak berhenti pada gerakan lahiriah semata, Jum’at
(30/1/2026).
Kajian diawali dengan ungkapan
syukur kepada Allah SWT atas taufik dan hidayah sehingga jamaah dapat kembali
berkumpul dalam majelis ilmu. Ustadz Rifki berharap setiap langkah yang
ditempuh jamaah dalam mencari ilmu diniatkan semata-mata untuk meraih rida
Allah SWT.
Dalam penjelasannya, Ustadz Rifki
melanjutkan pembahasan bab shalat dalam Kitab Al-Hikam. Ia
mengingatkan bahwa shalat yang benar bukan hanya soal sahnya rukun dan syarat,
tetapi juga kesadaran hati ketika menjalankannya. Takbiratul ihram, rukuk,
i’tidal, hingga sujud harus dilandasi rasa pengagungan, takut, dan tunduk
kepada Allah SWT.
“Shalat seharusnya melahirkan
kesadaran bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah. Rukuk dan sujud bukan
sekadar gerakan, melainkan ekspresi penghambaan dan pengagungan kepada-Nya,”
ujarnya.
Ustadz Rifki menjelaskan, ayat-ayat
Al Quran yang dibaca dalam shalat sejatinya mengandung perintah, larangan,
janji, dan kisah teladan. Ketika seorang hamba benar-benar memahami makna
ayat-ayat tersebut, akan tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk menjalankan perintah
Allah, menjauhi larangan-Nya, serta meneladani para nabi dan orang-orang saleh.
Menurutnya, dari situlah shalat
berfungsi sebagai penghalang dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana
disebutkan dalam Al Quran. Shalat yang dilakukan dengan kesadaran batin akan
melahirkan ketenangan hati, bahkan kenikmatan spiritual yang mendalam.
“Shalat yang benar akan
membersihkan hati, sebagaimana air membersihkan tubuh. Jika seseorang masih
mudah tergoda maksiat setelah shalat, itu menjadi tanda bahwa shalatnya belum dijalankan
dengan sungguh-sungguh,” kata Ustadz Rifki.
Ia juga mengutip perumpamaan
Rasulullah SAW tentang shalat lima waktu seperti seseorang yang mandi lima kali
sehari, sehingga kotoran yang menempel di tubuh akan hilang. Shalat,
menurutnya, adalah sarana penyucian jiwa dari dosa dan penyakit hati seperti
kesombongan, cinta berlebihan pada dunia, serta dorongan nafsu untuk meraih
kedudukan dan kemuliaan secara keliru.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki
menyoroti pentingnya memahami bacaan-bacaan shalat. Doa dan dzikir yang
dilafalkan, termasuk tasyahud dan shalawat, mengandung pengakuan akan kebesaran
Allah, kelemahan hamba, serta kebutuhan mutlak manusia terhadap rahmat dan
ampunan-Nya.
“Ketika hati ikut tunduk bersama
lisan dan anggota tubuh, shalat akan melahirkan rasa takut yang disertai
pengagungan, sekaligus membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin,”
ujarnya.
Kajian Kitab Al-Hikam ini diharapkan dapat mendorong jamaah untuk tidak hanya menjaga rutinitas shalat, tetapi juga meningkatkan kualitas dan kedalaman maknanya. Dengan demikian, shalat benar-benar menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membentuk karakter yang rendah hati, bersih jiwa, serta istiqamah dalam kebaikan.
