Menapaki Jalan Zuhud hingga Makrifat kepada Allah
BOJONEGORO — Jamaah salat Subuh di Masjid kembali mengikuti kajian kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari yang digelar selepas salat Subuh berjamaah di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajian tersebut jamaah diajak memahami perbedaan jalan spiritual antara ahli ibadah, kaum zuhud, dan para arif yang telah mencapai derajat makrifat kepada Allah SWT, Jum’at (12/12/2025).
BOJONEGORO
— Jamaah salat Subuh di Masjid kembali mengikuti kajian kitab Al-Hikam
karya Ibnu Atha’illah As-Sakandari yang digelar selepas salat Subuh berjamaah
di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kajian tersebut jamaah diajak
memahami perbedaan jalan spiritual antara ahli ibadah, kaum zuhud, dan para
arif yang telah mencapai derajat makrifat kepada Allah SWT, Jum’at
(12/12/2025).
Dalam pengantarnya, Ustadz Rifqi menyampaikan
rasa syukur atas nikmat dan taufik dari Allah SWT yang masih memungkinkan
jamaah melaksanakan salat Subuh berjamaah dan mengikuti kajian keislaman secara
rutin. Ia berharap seluruh rangkaian ibadah dan kajian yang dilakukan pada pagi
hari tersebut mendapat ridha Allah SWT.
Selanjutnya, Ustadz Rifqi menjelaskan
bahwa ahli ibadah umumnya memusatkan perhatian pada rutinitas ibadah. Namun,
dalam kondisi tertentu, rutinitas itu bisa menimbulkan kegelisahan batin ketika
menghadapi hambatan atau gangguan dalam beribadah. Sementara itu, kaum zuhud
lebih berfokus menjauhkan kecintaan dunia dari hati, meskipun dalam perjalanan
spiritualnya juga tidak luput dari ujian kegelisahan.
Berbeda dengan keduanya, menurut Ustadz
Rifqi, orang yang telah mencapai derajat makrifat memiliki ketenangan batin
yang lebih mendalam. “Ahli makrifat menyadari bahwa seluruh kejadian, baik yang
menyenangkan maupun yang menyulitkan, merupakan tajalli atau perwujudan sifat
dan perbuatan Allah SWT,” ujarnya.
Dalam kajian tersebut juga
disampaikan pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib serta ajaran Syekh Abul
Hasan Asy-Syadzili, pendiri Tarekat Syadziliyah, yang banyak dikutip dalam
kitab Al-Hikam.
Inti ajaran tersebut menekankan bahwa makhluk tidak memiliki wujud dan kekuatan
secara mandiri, melainkan berdiri semata-mata karena kehendak dan kekuasaan
Allah SWT.
Ustadz Rifqi menambahkan, orang
yang telah mencapai makrifat tidak lagi terjebak pada penilaian lahiriah
makhluk. Ia memandang segala sesuatu sebagai tanda kebesaran Allah. Dari perenungan
terhadap ciptaan-Nya, alam, manusia, dan peristiwa kehidupan, seseorang dapat
mengenal sifat-sifat Allah, seperti qudrah (kekuasaan), iradah (kehendak),
ilmu, dan hayat (kehidupan).
Kajian ditutup dengan penegasan
bahwa jalan mengenal Allah tidak cukup hanya melalui ibadah lahiriah, tetapi
juga melalui tafakur dan penyucian hati. Dengan hati yang bersih dan perenungan
yang mendalam, seorang hamba diharapkan mampu mengenal Allah melalui
perbuatan-perbuatan-Nya, hingga mencapai ketenangan batin yang hakiki.
Acara diakhiri dengan doa dan salawat, serta harapan agar jamaah senantiasa diberi keistikamahan dalam beribadah dan menuntut ilmu.
