Meneladani Akhlak Hasan Al-Bashri, Kunci Keindahan Islam yang Sejati
Bojonegoro, Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ust. Khafif Ahmaruddin mengangkat kisah hidup dan keteladanan Sayyidina Hasan Al-Bashri, ulama besar dari kalangan tabi’in, sebagai contoh nyata bagaimana akhlak menjadi fondasi utama dalam kehidupan beragama, Ahad (12/10/2025).
Bojonegoro, Dalam
kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro,
Ust. Khafif Ahmaruddin mengangkat kisah hidup dan keteladanan Sayyidina Hasan Al-Bashri, ulama
besar dari kalangan tabi’in, sebagai contoh nyata bagaimana akhlak menjadi
fondasi utama dalam kehidupan beragama, Ahad (12/10/2025).
Dalam kajiannya, Ust.Khafif
menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya meneladani karakter Hasan
Al-Bashri, seorang alim yang lahir dari keluarga sederhana namun menjadi tokoh
besar karena kekuatan iman dan keluhuran akhlaknya.
“Sayyidina Hasan Al-Bashri bukan
putra ulama, bukan pula keturunan bangsawan. Ayahnya seorang hamba sahaya,
tetapi beliau tumbuh menjadi ulama agung karena keberkahan dan akhlaknya yang
mulia,” ujar Ust. Khafif di hadapan jamaah Subuh.
Ia menceritakan, keberkahan hidup
Hasan Al-Bashri bermula ketika beliau disusui oleh Ummul Mukminin Sayyidah Ummu Salamah, istri
Rasulullah SAW. Dari keberkahan itu, tumbuh sosok ulama yang tak hanya berilmu
tinggi, tetapi juga memiliki kesabaran dan ketenangan luar biasa. “Beliau
dikenal sebagai ulama yang tidak pernah mengeluh, bahkan dalam ujian dan
kesempitan hidup,” katanya.
Ustadz Khafif menambahkan, salah
satu kisah keteladanan Hasan Al-Bashri adalah saat rumahnya mengalami kebocoran
yang menyebabkan bau tak sedap dari rumah tetangga non-Muslim. “Alih-alih
marah, beliau tetap bersabar dan tidak menegur. Ketika tetangganya meminta
maaf, Hasan Al-Bashri hanya tersenyum,” tuturnya. “Itulah tanda hati yang telah
hidup dalam ketaatan tidak mudah menyalahkan, tapi selalu memaafkan.”
Menurut Ust. Khafif, kisah tersebut
menunjukkan bahwa akhlak adalah inti dari Islam.
Ilmu yang tidak disertai adab dan akhlak akan kehilangan keberkahannya. “Ilmu
tanpa akhlak akan muspro. Karena itu, dalam Al-Qur’an, lebih dari separuh isinya
berbicara tentang akhlak, bukan hanya hukum dan akidah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung persoalan
perilaku keberagamaan umat Islam modern. Menurutnya, masih banyak yang beragama
secara kaku dan keras tanpa menampilkan kelembutan akhlak. “Islam itu indah
ketika diawali dan ditutup dengan akhlak. Kalau Islam tampak keras dan penuh
kebencian, berarti ada yang hilang: akhlaknya,” katanya.
Dalam penutup tausiyahnya, sang
ustaz mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menghakimi, bahkan terhadap mereka
yang belum mendapatkan hidayah. “Bisa jadi orang yang hari ini belum beriman,
suatu hari kelak menjadi lebih saleh dari kita. Maka pandanglah semua dengan
husnudzan, karena Allah Maha Kuasa membolak-balikkan hati,” ujarnya.
Ia menegaskan kembali pesan moral
Hasan Al-Bashri: bahwa kemuliaan seseorang tidak
ditentukan oleh keturunan, kedudukan, atau pengetahuan, tetapi oleh kebersihan
hati dan akhlaknya. “Islam sejati adalah ketika ilmu dan
amal dibalut dengan akhlak. Itulah Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya
menutup pengajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.
