Detail Berita

Meneladani Semangat Rasulullah di Penghujung Usia

Bojonegoro — Dalam suasana khidmat, jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin dengan tema “Al Ikhtiar minal Khairi fi Awaqiril Umri” atau Menambah Amal Kebaikan di Penghujung Usia. Kajian tersebut mengajak umat Islam untuk memperbanyak amal saleh seiring bertambahnya usia, meneladani semangat Rasulullah Muhammad SAW yang semakin giat beribadah menjelang wafatnya, Sabtu (18/10/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Dalam suasana khidmat, jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro kembali mengikuti kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin  dengan tema “Al Ikhtiar minal Khairi fi Awaqiril Umri” atau Menambah Amal Kebaikan di Penghujung Usia. Kajian tersebut mengajak umat Islam untuk memperbanyak amal saleh seiring bertambahnya usia, meneladani semangat Rasulullah Muhammad SAW yang semakin giat beribadah menjelang wafatnya, Sabtu (18/10/2025).

Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki Azmi mengulas hadis yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abbas, seorang sahabat muda yang dikenal sebagai ahli tafsir karena mendapat doa langsung dari Rasulullah: “Allahumma faqqihhu fiddin wa ‘allimhu at-ta’wil.”

Dari doa itulah, Abdullah bin Abbas dikenal dengan julukan Turjumanul Qur’an, sang penerjemah Al-Qur’an. Dalam kajian tersebut, Ustadz Rifki menuturkan bagaimana Umar bin Khattab menguji pemahaman Ibnu Abbas terhadap surah An-Nashr: “Idza jaa’a nashrullahi wal fath.”

Para sahabat senior menafsirkan ayat itu sebagai kabar kemenangan Islam dan masuknya manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Namun, Abdullah bin Abbas menafsirkan ayat itu lebih dalam: ayat tersebut, katanya, menandakan dekatnya wafat Rasulullah SAW. Umar pun mengakui, tafsir itu sejalan dengan pemahamannya.

“Ketika tugas dakwah Nabi telah selesai, dan seluruh umat telah menerima Islam, maka saat itu pula tanda bahwa beliau akan segera kembali kepada Allah SWT,” tutur Ustadz Rifki mengutip dialog Umar dan Ibnu Abbas.

Selanjutnya, Ustadz Rifki menjelaskan bahwa sejak turunnya surah An-Nashr, Rasulullah SAW semakin sering berzikir dengan doa: “Subhanaka rabbana wa bihamdika, Allahumma ighfirli” (Mahasuci Engkau ya Allah, Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).

Wirid tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu amalan yang dianjurkan bagi kaum muslimin, khususnya bagi mereka yang ingin meneladani ketekunan zikir Rasulullah di akhir hayat.

“Orang yang sudah terbiasa beribadah sejak muda, istiqamahkanlah wirid ini. Tapi bagi yang baru belajar, bacalah zikir-zikir jami’ah, yakni zikir yang pahalanya berlipat ganda seperti Subhanallah wabihamdih, Astagfirullah wa atubu ilaih, dan surah-surah pendek seperti Al-Ikhlas atau Al-Kafirun,” ujarnya.

Ia menekankan, zikir bukan hanya pengulangan lafaz, tetapi juga perenungan makna. Dalam penjelasannya, tasbih berarti tanzih, yakni menyucikan Allah dari segala sifat dan gambaran yang tidak layak. Tahmid berarti isbat, menetapkan kesempurnaan sifat Allah, sedangkan istighfar adalah pengakuan atas keterbatasan diri di hadapan-Nya.

Selanjutnya, menanggapi ayat yang memerintahkan Nabi beristighfar, Ustadz Rifki menegaskan bahwa istighfar Rasulullah bukan karena dosa, melainkan bentuk peningkatan spiritual.

“Setiap hari maqam beliau meningkat. Istighfar itu bukan karena khilaf, tetapi karena beliau naik ke derajat yang lebih tinggi dan meninggalkan maqam sebelumnya,” tuturnya, mengutip penjelasan dari kitab Lawakihul Anwar Al-Qudsiyyah karya Imam Abdul Wahab As-Sya’rani.

Setelah itu, kajian berlanjut pada makna amal baik di usia senja. Dikutip dari sabda Rasulullah SAW, seseorang akan dibangkitkan kelak sesuai dengan keadaan saat ia meninggal dunia. Karena itu, setiap muslim diingatkan untuk menutup hidup dalam kebaikan.

“Menjadi wali Allah tidak harus selalu lewat tahajud atau i’tikaf. Siapa pun bisa menjadi kekasih Allah: seorang ibu yang mendidik anaknya dengan ikhlas, seorang ayah yang menafkahi keluarganya dengan jujur, seorang pekerja yang amanah. Semua punya jalan masing-masing menuju Allah,” katanya.

Ia juga mengingatkan agar setiap muslim senantiasa menjaga adab dalam profesi dan kehidupannya. “Apa pun peran kita, pekerja, pedagang, pemimpin, atau ibu rumah tangga, jika dijalani dengan adab dan tanggung jawab, itu sudah jalan menuju wali,” ujarnya.

Selanjutnya, kajian diakhiri dengan hadis yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari. Saat ditanya amal apa yang paling utama, Rasulullah menjawab: ‘Al-imanu billah’, beriman kepada Allah. Iman, kata Ustadz Rifki, adalah dasar dari seluruh amal saleh dan puncak kemerdekaan batin manusia.

“Misi besar Islam adalah memerdekakan manusia, baik dari perbudakan sesama manusia maupun dari hawa nafsunya sendiri,” tutupnya.