Menjaga Iman hingga Akhir Hayat
Bojonegoro, Umat Islam diajak untuk menjaga nikmat iman dan Islam hingga akhir hayat serta membiasakan zikir dengan lisan dan hati secara sungguh-sungguh. Pesan itu disampaikan dalam kajian Shubuh yang dihadiri jamaah di Masjid Agung Darussalam, Senin (9/2/2026).
Bojonegoro,
Umat Islam diajak untuk menjaga nikmat iman dan Islam hingga akhir hayat serta
membiasakan zikir dengan lisan dan hati secara sungguh-sungguh. Pesan itu
disampaikan dalam kajian Shubuh yang dihadiri jamaah di Masjid Agung Darussalam,
Senin (9/2/2026).
Dalam
tausiyahnya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengingatkan bahwa nikmat terbesar yang
diberikan Allah bukan hanya kesehatan dan kelapangan hidup, melainkan iman dan
Islam. Kyai Aziz berharap seluruh jamaah dapat mempertahankan iman hingga ajal
menjemput dan menutup kehidupan dengan kalimat la ilaha illallah.
“Mudah-mudahan
kita semua diberi kekuatan memegang iman sampai akhir hayat, dan wafat dalam
keadaan husnul khatimah,” ujarnya.
Yai
Aziz menyinggung doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar hati diteguhkan
dalam agama. Menurut dia, hati manusia berada dalam kekuasaan Allah dan dapat berbolak-balik.
“Ada
yang pagi masih beriman, sore sudah goyah. Karena itu kita memohon, ‘Ya Allah,
tetapkan hati kami di atas agama-Mu’,” katanya.
Yai
Aziz menekankan bahwa keteguhan iman merupakan kenikmatan sekaligus
keberuntungan besar. Tanpa keteguhan hati, seseorang bisa saja tergelincir oleh
godaan dunia dan hawa nafsu.
Dalam
kesempatan tersebut, jamaah juga diajak memahami makna kalimat la ilaha
illallah wahdahu la syarikalah yang dianjurkan dibaca setelah salat Subuh
dan Magrib.
Kalimat
tauhid itu, menurut Kyai Aziz, bukan sekadar bacaan, melainkan pernyataan bahwa
tidak ada yang kekal, tidak ada kekuatan sejati, dan tidak ada yang patut
disembah selain Allah. Segala sesuatu selain Allah bersifat terbatas dan
berubah-ubah.
“Manusia
sejak kecil lemah, lalu kuat, kemudian melemah kembali ketika tua. Semua
makhluk terbatas. Hanya Allah yang tidak terbatas,” ujarnya.
Kyai
Aziz mengingatkan agar Allah tidak dibayangkan dalam bentuk apa pun, karena
segala yang terbayangkan oleh pikiran manusia pasti terbatas, sedangkan Allah
Mahatidak Terbatas.
Kyai
Aziz juga menekankan pentingnya mengucapkan zikir dengan lisan, tidak hanya
dalam hati. Kyai Aziz mencontohkan pembacaan Ayat Kursi atau kalimat tauhid
yang diucapkan secara jelas sebagai “benteng” spiritual.
Menurut
Kyai Aziz, pengucapan secara lisan membantu memantapkan hati. Pandangan ini,
katanya, juga sejalan dengan pendapat ulama mazhab Syafi’i yang menganjurkan
pelafalan niat dalam salat sebagai bentuk bantuan bagi hati agar lebih mantap.
“Niat
memang tempatnya di hati, tetapi diucapkan dengan lisan agar hati semakin kuat
dan fokus,” ujarnya.
Kyai
Aziz menambahkan, suara imam yang jelas ketika takbir dan zikir juga memberi
ketenangan dan kemantapan bagi makmum.
Dalam
tausiyahnya, Kyai Aziz mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad an-Nasa'i
tentang keutamaan orang yang berzikir. Disebutkan bahwa orang yang mengucapkan
kalimat tauhid dengan ikhlas akan mendapatkan perhatian dan rahmat Allah.
Kyai
Aziz juga menyampaikan bahwa doa dan zikir yang dilakukan secara berjamaah
memiliki keutamaan tersendiri. Dalam suatu majelis zikir, kata Kyai Aziz, bisa
jadi ada satu orang yang doanya dikabulkan, dan keberkahan itu meluas kepada
yang lain.
“Semangat
itulah yang dilihat Allah. Meski belum sempurna khusyuknya, tetapi jika
sungguh-sungguh, tidak akan dikecewakan,” tuturnya.
Kajian Shubuh ditutup dengan doa agar jamaah diberi umur panjang dalam kebaikan, dipertemukan dengan Ramadan, serta senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat Allah.
