Detail Berita

Menjaga Janji Keimanan, Pelajaran dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Bojonegoro, Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Khafif menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kemurnian iman dan akhlak hingga akhir hayat. Ceramah yang mengambil hikmah dari kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, itu mengajak jamaah untuk senantiasa waspada terhadap godaan dunia yang dapat mengikis keimanan, Selasa (14/10/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Dalam kajian Subuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Ustadz Khafif menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kemurnian iman dan akhlak hingga akhir hayat. Ceramah yang mengambil hikmah dari kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW, itu mengajak jamaah untuk senantiasa waspada terhadap godaan dunia yang dapat mengikis keimanan, Selasa (14/10/2025).

“Sayyidina Ali adalah sosok yang wajahnya tidak pernah terkena najis. Itu melambangkan kemurnian hati dan akhlak,” ujar Ustadz Khafif. Menurutnya, kemuliaan Sayyidina Ali bukan hanya karena nasab, melainkan karena kecerdasan dan kebersihan jiwanya. Ia mencontohkan bagaimana akhlak yang bersih menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat.

Ustadz Khafif kemudian menekankan bahaya mengikuti hawa nafsu dan syahwat yang dapat menjerumuskan manusia. “Sekali seseorang menuruti syahwatnya terhadap perkara haram, nafsu itu akan menuntut lebih kuat pada kesempatan berikutnya,” katanya.

Ia menambahkan, para ulama mengajarkan agar umat menahan diri dengan memperbanyak zikir, di antaranya membaca Ya Quddus, Ya Quddus, atau membaca Surat Al-Qadar untuk menenangkan hati.

Dalam ceramahnya, Ustadz Khafif juga menuturkan kisah seorang mukmin yang berdoa dengan penuh haru di depan Ka’bah agar wafat dalam keadaan Muslim. Kisah itu menjadi pengingat bahwa tidak ada jaminan bagi siapa pun untuk meninggal dalam keadaan beriman, betapa pun rajinnya seseorang beribadah. Ia mengutip cerita tentang orang saleh yang pada akhir hidupnya justru berpaling dari Al-Qur’an dan meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.

“Karena itu, jangan pernah merasa aman dengan iman kita. Sayyidina Maimun Zubair pun masih berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, meskipun amalnya sudah tak terhitung,” tutur Ustadz Khafif.

Pesan itu diperkuat dengan kisah seorang kiai yang wafat di rumah sakit non-Muslim dan menjelang ajal justru meminta dibaptis. Menurutnya, hal ini menunjukkan betapa iman dapat melemah bila seseorang terlalu sering bergaul dengan lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam, atau terbiasa memandang hal-hal yang dilarang.

Lebih lanjut, ia mengingatkan jamaah untuk berhati-hati terhadap godaan kecil yang bisa menumpulkan keimanan, termasuk kebiasaan menatap hal-hal yang tidak pantas di media digital. “Aurat jangan dinikmati. Kalau muncul di layar, segera tutup. Sekali dibiarkan, itu bisa menjadi candu,” katanya dengan nada tegas namun lembut.

Dalam bagian akhir ceramah, Ustadz Khafif mengutip pesan Sayyidina Ali:

“Jadilah engkau di sisi Allah sebaik-baik manusia, di sisi nafsumu seburuk-buruk manusia, dan di sisi manusia seperti manusia pada umumnya.”

Ia menegaskan, manusia diciptakan bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk beribadah dan menjaga janji keimanan yang telah diikrarkan sejak di alam ruh. Iman, katanya, ibarat air jernih dalam piring yang dibawa dalam perjalanan panjang, bisa tetap penuh, berkurang, atau bahkan tumpah, tergantung bagaimana seseorang menjaganya.

Untuk menjaga agar keimanan tetap kokoh, ia berpesan agar umat Islam selalu dekat dengan Al-Qur’an, masjid, dan para ulama. “Masjid adalah tempat turunnya rahmat dan pertolongan Allah. Hati yang cinta masjid akan ditolong Allah, bahkan di hari ketika manusia meniti shiratal mustaqim,” ujarnya.

Ceramah itu ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan iman hingga akhir hayat. “Semoga kita semua diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah, tetap memegang janji keimanan dengan hati yang suci,” pungkas Ustadz Khafif disambut lantunan shalawat oleh jamaah Subuh Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.