Detail Berita

Menjaga Keseimbangan Iman dalam Kehidupan Sehari-hari

Bojonegoro — Suasana khidmat menyelimuti majelis kajian Sabtu sore di Masjid Agung Darussalam. Dalam pengantarnya, Ustadz Rifki menyinggung kembali pembahasan sebelumnya tentang puasa Daud, yang disebut sebagai afdlus shiyam atau puasa paling utama. Puasa ini dinilai istimewa karena mengandung keseimbangan antara kesabaran dan rasa syukur, sekaligus melatih konsistensi ibadah tanpa berlebihan, Sabtu (20/12/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Suasana khidmat menyelimuti majelis kajian Sabtu sore di Masjid Agung Darussalam. Dalam pengantarnya, Ustadz Rifki menyinggung kembali pembahasan sebelumnya tentang puasa Daud, yang disebut sebagai afdlus shiyam atau puasa paling utama. Puasa ini dinilai istimewa karena mengandung keseimbangan antara kesabaran dan rasa syukur, sekaligus melatih konsistensi ibadah tanpa berlebihan, Sabtu (20/12/2025).

Selain itu, jamaah juga diajak memahami sejarah pembagian mushaf Al-Qur’an menjadi 30 juz, hizb, hingga rubu’, serta perbedaan antara urutan turunnya wahyu (tartib nuzuli) dan susunan mushaf saat ini (tartib mushafi).

Menurutnya, susunan tersebut menyimpan hikmah dan keterkaitan makna antar ayat yang dipelajari dalam disiplin ilmu munasabah.

“Al-Qur’an tidak disusun secara acak. Ada keserasian pesan dari satu ayat ke ayat berikutnya, dari satu surah ke surah lainnya,” jelasnya.

Ia juga menyinggung beragam corak tafsir Al-Qur’an yang berkembang, mulai dari pendekatan bahasa, hukum, sebab turunnya ayat, hingga pendekatan sosial kemasyarakatan.

Memasuki inti kajian, Ustadz Rifki membahas Hadis ke-151 dalam Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, yang diriwayatkan sahabat Hanzalah Al-Asadi, salah satu penulis wahyu Nabi.

Dalam hadist tersebut diceritakan kegelisahan Hanzalah yang merasa imannya menurun ketika kembali ke rumah dan sibuk dengan urusan keluarga, berbeda saat berada di dekat Rasulullah yang membuat hatinya lebih khusyuk. Ia bahkan khawatir dirinya munafik.

Keresahan itu juga dirasakan Abu Bakar. Namun Rasulullah menenangkan keduanya dengan menjelaskan bahwa kondisi iman manusia memang naik-turun.

“Seandainya kalian terus-menerus seperti saat bersamaku, niscaya malaikat akan menyalami kalian di jalan-jalan,” sabda Nabi, sebagaimana dikutip dalam kajian.

Dari hadis tersebut, Ustadz Rifki menekankan pentingnya lingkungan pergaulan yang baik (suhbah) dan kebersamaan dengan orang saleh untuk menjaga kestabilan iman.

“Berkumpul dengan orang-orang baik itu seperti mengisi ulang energi ruhani,” tuturnya.

Materi juga menyinggung persoalan fikih tentang nazar. Dijelaskan bahwa nazar hanya berlaku untuk ibadah yang pada dasarnya disyariatkan. Kebiasaan bernazar untuk hal-hal di luar kategori ibadah dinilai tidak tepat secara hukum.

Selain itu, Ustadz Rifki mengingatkan jamaah agar bijak memahami istilah bid’ah. Menurutnya, tidak semua hal baru otomatis sesat, selama memiliki dasar dalil umum dalam syariat, seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, atau kegiatan pengajian.

“Yang penting ada landasan syariatnya, meski bersifat umum,” katanya.

Selanjutnya, kajian ditutup dengan pesan agar jamaah terus menuntut ilmu agama secara rutin. Sebab, hidayah dan perubahan hati bisa datang kapan saja, bahkan dari satu nasihat sederhana.

“Jangan lelah hadir di majelis ilmu. Kita tidak pernah tahu, kalimat mana yang akan mengetuk hati,” ujarnya.

Majelis sore itu pun berakhir menjelang petang, dengan harapan ilmu yang diperoleh dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.