Detail Berita

Menjemput Ramadan dengan Iman dan Taqwa

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah di Masjid Agung Darussalam diajak mempersiapkan diri dengan memperkuat iman dan membersihkan hati. Dalam kajian Shubuh terakhir sebelum Ramadan, Ustadz Yogi menekankan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban syariat, melainkan panggilan kehormatan bagi orang-orang beriman. “Allah memanggil dengan ‘ya ayyuhalladzina amanu’—wahai orang-orang yang beriman. Itu panggilan kemuliaan,” ujarnya di hadapan jamaah, Rabu (11/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, jamaah di Masjid Agung Darussalam diajak mempersiapkan diri dengan memperkuat iman dan membersihkan hati. Dalam kajian Shubuh, Ustadz Yogi menekankan bahwa puasa bukan sekadar kewajiban syariat, melainkan panggilan kehormatan bagi orang-orang beriman.

“Allah memanggil dengan ‘ya ayyuhalladzina amanu’—wahai orang-orang yang beriman. Itu panggilan kemuliaan,” ujarnya di hadapan jamaah, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, sapaan tersebut menunjukkan bahwa puasa adalah amanah besar yang hanya dibebankan kepada mereka yang memiliki iman.

Ia mengutip penjelasan para mufasir, seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi, yang menyebut panggilan itu sebagai bentuk pemuliaan (takrim) dari Allah kepada hamba-Nya. Iman, kata dia, menjadi energi dan motivasi utama dalam menjalankan ibadah yang berat.

“Kalau hanya dipanggil ‘wahai manusia’, orang mungkin bertanya apa manfaatnya. Tetapi orang beriman tidak bertanya demikian. Ia yakin, setiap perintah Allah pasti untuk kebaikan,” katanya.

Ustadz Yogi menekankan, puasa memiliki karakter berbeda dibanding ibadah lain. Shalat, zakat, dan haji tampak secara lahiriah. Sebaliknya, puasa adalah ibadah yang tersembunyi, antara hamba dan Tuhannya.

Ia mengutip pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahwa dosa yang tersembunyi bisa menjadi sebab kejatuhan seseorang, sedangkan ibadah yang tersembunyi justru menjadi sumber kekuatan. Karena itu, puasa disebut sebagai ujian kejujuran iman.

Lebih jauh, ia menjelaskan penggunaan kata “kutiba” (diwajibkan) dalam Al Quran. Kata itu, menurut para ulama, menunjukkan ketetapan yang kuat dan telah “tertulis”, bahkan bagi umat-umat sebelum Islam.

“Ini bukan sekadar anjuran, tetapi ketetapan yang kokoh. Namun Allah tidak menyebut langsung diri-Nya sebagai subjek agar hamba fokus pada hikmah puasanya, bukan pada beban perintahnya,” ujarnya.

Menurut Ustadz Yogi, salah satu kunci merasakan “manisnya iman” dalam puasa adalah mengubah cara pandang: dari beban menjadi kebutuhan. Ia merujuk pemikiran Al-Ghazali bahwa ketika kehendak manusia diselaraskan dengan kehendak Allah, akan lahir rasa ridha. Dari situlah muncul kenikmatan spiritual.

Ia memberi ilustrasi sederhana: seorang ibu yang begadang merawat anaknya mungkin lelah secara fisik, tetapi merasakan kebahagiaan batin saat melihat anaknya tertidur lelap. “Begitu pula puasa. Secara fisik menahan lapar dan haus, tetapi secara batin menghadirkan kedekatan dengan Allah,” katanya.

Puasa, lanjutnya, bukan hanya menahan makan, minum, dan hubungan suami istri dari fajar hingga maghrib. Lebih dari itu, puasa adalah menahan gejolak nafsu dan melatih pengendalian diri. Dalam istilah para ulama, puasa mengarah pada sifat “as-shaum” yang mencakup penjagaan lisan, pikiran, dan hati.

Menjelang Ramadan, ia mengingatkan pentingnya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Dendam, iri hati, kesombongan, dan rasa cukup terhadap amal sendiri harus dibersihkan.

Ia mengutip pesan dalam karya-karya klasik bahwa merasa cukup dengan amal dapat menjadi penghalang peningkatan kualitas ibadah. “Kita tidak masuk surga karena amal semata, tetapi karena rahmat Allah,” ujarnya.

Takwa, yang menjadi tujuan akhir puasa sebagaimana disebut dalam ayat “la’allakum tattaqun”, dipahami sebagai upaya penjagaan diri secara menyeluruh. Tidak hanya menjauhi yang haram, tetapi juga berhati-hati terhadap perkara mubah yang berpotensi melalaikan.

Ia menyinggung kisah kehati-hatian para ulama terdahulu, seperti Ahmad bin Hanbal, yang sangat menjaga integritas dan kewara’an dalam perkara sekecil apa pun.

Kajian Shubuh ditutup dengan doa bersama agar jamaah dipanjangkan usia dan dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan sehat dan penuh keberkahan. Jamaah juga memanjatkan doa agar diberi kekuatan menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya serta menjadi pribadi yang bertakwa.

“Semoga kita tidak hanya berpuasa secara lahir, tetapi juga menghadirkan puasa di hati,” kata Ustadz Yogi menutup tausiyah.

Jamaah kemudian melantunkan istighfar dan doa, berharap Ramadan menjadi momentum perbaikan diri dan penguatan iman.