Detail Berita

Menyelami Makna Tawakal dan Rezeki

Dalam kajian rutin kitab Qutul Qulub fI Mu‘amalatil Mahbub karya Syekh Abu Thalib al-Makki. Ustadz Yogi menekankan pentingnya memahami hakikat tawakal melalui perspektif para ulama, serta memperluas makna rezeki sebagai karunia Allah yang tidak terbatas pada harta benda, Rabu (12/11/2025).

Kuliah Shubuh

Dalam kajian rutin kitab Qutul Qulub fi Mu‘amalatil Mahbub karya Syekh Abu Thalib al-Makki. Ustadz Yogi menekankan pentingnya memahami hakikat tawakal melalui perspektif para ulama, serta memperluas makna rezeki sebagai karunia Allah yang tidak terbatas pada harta benda, Rabu (12/11/2025).

Mengawali kajiannya, Ustadz Yogi mengajak jamaah bersyukur atas nikmat iman dan Islam, serta bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyampaikan bahwa dua nikmat tersebut adalah anugerah terbesar yang harus dijaga hingga akhir hayat.

Mengulas bagian kitab yang tengah dikaji, Ustadz Yogi menjelaskan bahwa Syekh Abu Thalib al-Makki membedakan dua jenis tawakal: tawakal orang umum dan tawakal orang khusus.

Tawakal orang umum, menurutnya, adalah keyakinan bahwa rezeki telah dijamin oleh Allah, namun tetap diiringi usaha dan ketergantungan pada sebab-sebab duniawi. Sebaliknya, tawakal orang khusus, seperti para wali dan orang saleh ditandai dengan sepenuhnya bersandar kepada Allah tanpa memedulikan sebab.

Meski demikian, Ustadz Yogi menekankan bahwa umat pada umumnya berada pada kategori pertama, yakni tawakal yang disertai usaha. “Rasulullah mengajarkan untuk mengambil sebab. Bekerja adalah bagian dari sunnah,” ujarnya, mengutip pandangan Imam al-Ghazali yang menilai bahwa mencari perantara, seperti berobat ke dokter, juga bagian dari mengikuti tuntunan Nabi.

Kajian kemudian beralih pada penjelasan mengenai rezeki dalam pengertian maknawi. Ustadz Yogi memaparkan bahwa para ulama membagi rezeki spiritual ke dalam beberapa bentuk: makrifat, cahaya ilahi (n?r il?h?), sakinah, keyakinan, dan taufik untuk melakukan ketaatan.

Dengan mencontohkan kisah Nabi Musa AS yang dihanyutkan ke sungai ketika masih bayi, Ustadz Yogi menekankan bahwa keyakinan seorang hamba pada ketetapan Allah mampu membukakan jalan-jalan yang tidak terduga. Kisah tersebut, katanya, menunjukkan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya melalui cara yang melampaui logika manusia.

Ia juga mengutip beberapa ayat Al-Quran mengenai cahaya Allah yang membimbing hamba-hamba beriman. “Jika cahaya matahari saja tidak bisa dipadamkan, apalagi cahaya Allah,” ujarnya saat menjelaskan makna n?r dalam berbagai konteks, termasuk cahaya iman, cahaya Al-Quran, dan cahaya kenabian.

Sakinah, ketenangan hati disebutnya sebagai rezeki yang tinggi nilainya tetapi sering diabaikan. Dalam konteks ini, ia mengingatkan jamaah untuk mensyukuri rasa aman dan sehat yang dirasakan setiap hari.

Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Siapa yang bangun pada pagi hari dalam keadaan aman, sehat, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.”

Selain itu, ia juga menyinggung kisah ulama terdahulu, seperti Said bin Jubair, yang menunjukkan keteguhan hati dalam menghadapi tekanan penguasa. Sikap sabar dan sakinah, menurutnya, mendatangkan rahmat Allah yang besar.

Mengakhiri kajian, Ustadz Yogi mengajak jamaah untuk memperkuat tawakal sekaligus tetap mengambil sebab dalam kehidupan sehari-hari. Ia berharap pemahaman tentang rezeki maknawi mampu menumbuhkan rasa syukur dan ketenangan batin.