Detail Berita

Ngaji Perdana Kitab al Adzkar An-Nawawi

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengawali kegiatan pengajian kitab baru, al Adzkar an-Nawawi, karya Imam An-Nawawi, ulama besar abad ke-7 Hijriah. Pengajian perdana ini berlangsung khidmat, dibuka dengan lantunan doa dan ayat suci Al-Qur’an, serta pembacaan surah Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada para ulama dan guru agama terdahulu oleh Ustadz Kholidin CH, Ahad (19/10/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Jamaah Masjid Agung Darussalam Bojonegoro mengawali kegiatan pengajian kitab baru, al Adzkar an-Nawawi, karya Imam An-Nawawi, ulama besar abad ke-7 Hijriah. Pengajian perdana ini berlangsung khidmat, dibuka dengan lantunan doa dan ayat suci Al-Qur’an, serta pembacaan surah Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada para ulama dan guru agama terdahulu oleh Ustadz Kholidin CH, Ahad (19/10/2025).

Kajian diawali dengan pembahasan bab pertama kitab, Faslun fil amri bil ikhlashi wa husnin niyyati fi jami’il a’mal  bab tentang pentingnya ikhlas dan niat baik dalam setiap amal. Ustad. Kholidin mengukutip adalah firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:

“Dan mereka tidak diperintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

Ia menjelaskan, ayat ini menjadi landasan bahwa segala amal ibadah harus dilandasi niat tulus karena Allah, bukan karena pujian manusia. “Ikhlas niku pondasi utama amal. Tanpa niat yang benar, amal sebesar apa pun tidak akan sampai kepada Allah,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Ustadz Kholidin membacaka hadits yang masyhur dari Sayyidina Umar bin Khattab RA:

“Innamal a’malu binniyat, wa innama likullimri’in ma nawa.”
(Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.)

Hadis ini, menjadi fondasi utama dalam ajaran Islam. Karena itu, banyak ulama menjadikan hadis ini sebagai pembuka kitab karangannya. “Imam Nawawi menempatkan hadis ini di awal karena ingin mengingatkan bahwa seluruh amal harus dimulai dengan niat yang bersih,” jelasnya.

Dalam penjelasan berikutnya, Ustadz Kholidin memperkenalkan sosok Imam An-Nawawi, ulama besar kelahiran tahun 631 Hijriah. Beliau dikenal sangat tekun menuntut ilmu dan tidak menikah sepanjang hidupnya karena sepenuhnya mencurahkan waktu untuk ilmu dan penulisan kitab.

“Hidupnya Imam Nawawi untuk menulis beberapa disiplin ilmu agama dan beberapa diantaranya banyak dijadikan rujukan di pesantren, universitas Islam, dan lembaga keagamaan di seluruh dunia”, tuturnya.

Selanjutnya Ustadz Kholidin menjelaskan Kitab al Adzkar An-Nawawi, ini merupakan kumpulan zikir dan wirid yang bersumber langsung dari Rasulullah SAW. Imam Nawawi menyusunnya berdasarkan hadis-hadis sahih dari kitab-kitab utama seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

“Kitab ini tidak hanya memuat zikir, akan tetapi juga menerangkan makna dan sanadnya hingga sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW”, ujar Ustadz Kholidin.

Menurutnya, Imam Nawawi menulis kitab ini untuk mempermudah umat Islam mengamalkan zikir-zikir ma’tsurat secara ringkas namun sahih sanadnya.

Setelah itu, dengan mengutip hadis Rasulullah SAW, Ustadz Kholidin menjelaskan keutamaan mengajarkan kebaikan kepada orang lain:

“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang melakukannya.”

Hal inilah, kata Ustadz Kholidin yang menjadi motivasi Imam Nawawi dalam menulis al Adzkar An-Nawawi. “Setiap orang yang membaca dan mengamalkan isi kitab ini, pahalanya akan terus mengalir kepada Imam Nawawi,” ucapnya.

Selanjutnya, Ustadz Kholidin menekankan pentingnya menjaga niat dalam beramal. Menurutnya, ada dua jenis orang beramal: yang bangga dengan amalnya, dan yang bersyukur karena diberi taufik untuk berbuat baik.

“Yang satu senang karena merasa dirinya hebat. Yang satu lagi senang karena diberi kesempatan oleh Allah. Nah, orang yang kedua inilah yang benar.” Ujarnya.

Ia menegaskan, ikhlas adalah inti dari segala amal, sementara kesombongan bisa menghapus nilai ibadah.

Dalam bagian penutup, Ustadz Kholidin menyinggung praktik-praktik jahiliah yang masih dilakukan sebagian masyarakat, seperti membuat sesajen untuk penolak bala.

 “Orang-orang pada masa jahiliyah dulu menyembelih hewan untuk sesajen, lalu dagingnya diberikan kepada jin dan roh. Sekarang masih ada orang yang meniru perbuatan seperti itu. Padahal, amalan seperti itu tidak akan pernah sampai kepada Allah,” jelasnya.

Menurutnya, yang diterima oleh Allah bukanlah bentuk fisik ibadah, melainkan keikhlasan dan ketakwaan pelakunya, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Hajj ayat 37:

“Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah kurban itu, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Kajian ditutup dengan doa bersama agar Allah memberi kekuatan dan kelapangan hati dalam menuntut ilmu.

“Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, semangat, dan keteguhan hati, sehingga kitab al Adzkar An-Nawawi ini dapat dihatamkan dengan rahmat dari Allah,” tutupnya.