Detail Berita

Pentingnya Ilmu, Adab kepada Orang Tua, dan Kepedulian Sosial

Bojonegoro – Kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan oleh Ahmad Rifki Azmi. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menyampaikan sejumlah pelajaran penting dari hadis-hadis yang dihimpun oleh ulama besar Yahya bin Sharaf an-Nawawi, Selasa (10/3/2026).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro – Kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro yang disampaikan oleh Ahmad Rifki Azmi. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Ahmad Rifki Azmi menyampaikan sejumlah pelajaran penting dari hadis-hadis yang dihimpun oleh ulama besar Yahya bin Sharaf an-Nawawi, Selasa (10/3/2026).

Kajian diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga beliau, para sahabat, serta para ulama dan guru yang telah menyebarkan ilmu agama. Ustadz Rifki kemudian melanjutkan pembahasan kisah terkenal tentang seorang ahli ibadah dari Bani Israil bernama Juraih.

Dalam penjelasannya, Ustadz Rifki mengisahkan bagaimana Juraih sedang melaksanakan salat ketika dipanggil oleh ibunya hingga tiga kali. Karena memilih melanjutkan salatnya, Juraih tidak menjawab panggilan ibunya. Sikap tersebut membuat sang ibu marah hingga mendoakan hal buruk kepada anaknya.

Menurut Ustadz Rifki, kisah ini mengandung pelajaran penting bahwa kenikmatan dalam beribadah tidak boleh membuat seseorang melupakan kewajiban lain yang juga diperintahkan oleh syariat, termasuk berbakti kepada orang tua.

“Ibadah memang menghadirkan kenikmatan spiritual, tetapi jangan sampai kenikmatan itu membuat kita meninggalkan kewajiban yang lain,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar berhati-hati dalam menggunakan lisan, terutama ketika mendoakan anak. Doa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat kuat di sisi Allah, sehingga tidak sepatutnya digunakan untuk mendoakan keburukan.

Dalam kisah Juraih tersebut, diceritakan pula adanya seorang perempuan yang menuduh Juraih berbuat zina setelah rencananya menggoda sang ahli ibadah gagal. Tuduhan tersebut sempat membuat masyarakat marah dan menghancurkan tempat ibadah Juraih tanpa melakukan tabayun atau mencari bukti.

Ustadz Rifki menilai fenomena tersebut mirip dengan kondisi masyarakat masa kini yang kerap mudah terprovokasi oleh kabar atau gosip.

“Masyarakat sering mengkultuskan tokoh agama. Ketika ada tuduhan terhadap tokoh tersebut, langsung diviralkan tanpa klarifikasi,” ujarnya.

Menurutnya, umat Islam harus menjaga lisan dan tidak mudah mempercayai tuduhan sebelum adanya bukti yang jelas.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Rifki juga menjelaskan hikmah perbedaan hukuman zina bagi orang yang sudah menikah dan yang belum menikah sebagaimana dijelaskan para ulama. Ia mengutip pandangan ulama tafsir bahwa dampak sosial dari perzinaan bagi orang yang telah berkeluarga jauh lebih luas, karena melibatkan kehormatan pasangan, anak, serta keluarga besar.

Karena itulah, syariat menetapkan hukuman yang sangat berat sebagai bentuk penjagaan terhadap kehormatan dan stabilitas sosial.

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Rifki membahas hadis yang menekankan pentingnya memperlakukan anak yatim dan kaum lemah dengan penuh kasih sayang. Ia menjelaskan bahwa pada masa Nabi Muhammad SAW, kondisi anak yatim jauh lebih berat dibandingkan saat ini karena terbatasnya akses pekerjaan bagi perempuan dan minimnya sistem perlindungan sosial.

“Zaman dahulu, ketika seorang ayah meninggal, keluarga bisa langsung jatuh miskin. Karena itu Islam sangat menekankan perhatian kepada anak yatim,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak bersikap keras kepada anak yatim maupun orang miskin, sebagaimana peringatan dalam Al-Qur’an yang menyebut orang yang menghardik anak yatim sebagai orang yang mendustakan agama.

Kajian yang berlangsung khidmat tersebut ditutup dengan pesan agar umat Islam menyeimbangkan antara ibadah, ilmu, dan kepedulian sosial. Ustadz Rifki menegaskan bahwa menjadi ahli ibadah harus dibarengi dengan pemahaman ilmu agama serta akhlak yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kesalehan bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana kita bersikap kepada orang tua, masyarakat, dan kaum yang lemah,” pungkasnya.

Kajian kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro ini rutin diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan yang ingin memperdalam pemahaman agama melalui hadis-hadis Nabi.