Pentingnya Istikamah Wirid sebagai Jalan Menuju Kedekatan Ilahi
Bojonegoro — Dalam pengajian subuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro Ustadz Rifki mengajak jama’ah untuk memperdalam pemahaman tentang makna wirid dan warid melalui penjelasan bertahap yang merujuk pada ajaran para ulama sufi klasik, Kamis (6/11/2025).
Bojonegoro — Dalam pengajian subuh yang digelar di Masjid Agung
Darussalam Bojonegoro Ustadz Rifki mengajak jama’ah untuk memperdalam pemahaman
tentang makna wirid dan warid melalui penjelasan bertahap yang
merujuk pada ajaran para ulama sufi klasik, Kamis (6/11/2025).
Pembahasaan
dimulai dengan penegasan pentingnya syukur atas nikmat Allah yang masih
memberikan kesempatan untuk menjalankan salat Subuh berjamaah dan memperdalam
ilmu agama. Dalam pengantar doa dan salam, sang pengajar kembali menegaskan
bahwa setiap aktivitas ilmu hendaknya diniatkan untuk meraih ridha Allah SWT.
Wirid sebagai Rutinitas Ruhani
Melanjutkan
kajian sebelumnya, Ustadz Rifki menjelaskan bahwa warid; ilham atau
limpahan spiritual dari Allah tidak akan datang tanpa adanya wirid,
yakni amalan ibadah yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.
“Wirid
itu amaliyah yang diistiqamahkan,” ujarnya. Ia mencontohkan membaca Al-Qur’an
setiap selesai Subuh hingga matahari terbit, melakukan zikir harian, tafakur,
atau praktik uzlah. “Bila dilakukan terus-menerus, itu yang disebut wirid.
Kalau hanya kadang-kadang, belum bisa disebut wirid,” tambahnya.
Menurutnya,
wirid merupakan “pintu masuk” menuju warid. Sementara warid digambarkan sebagai
karunia ilahiah yang Allah masukkan ke dalam hati para kekasih-Nya kadang
berupa rasa sabar, cinta, rindu, atau kejernihan batin yang tidak dapat
diperoleh hanya dari definisi teks.
Rumah-rumah Spiritual
Mengutip
keterangan Ibn ‘Athaillah, pengajar menggambarkan perjalanan ruhani sebagai
upaya memasuki “rumah-rumah” ilmu, kewalian, dan warid melalui “pintu” yang
tepat. Rumah ilmu dimasuki melalui jalan belajar dan mengaji. Rumah kewalian
melalui suhbah, yakni berguru dan bergaul dengan orang-orang saleh.
Adapun rumah warid hanya dapat dimasuki melalui pintu wirid.
“Banyak
orang menginginkan warid, tetapi tidak memiliki wirid. Itu tidak mungkin,”
tegasnya.
Ia
mengingatkan bahwa kecintaan kepada Allah, rasa tawakal, atau mahabbah tidak
cukup bila tidak dibarengi ibadah lahiriah, seperti salat jamaah, puasa, dan
amalan sunnah lainnya.
Keteladanan Nabi dan Sahabat
Kajian
kemudian menyinggung teladan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat yang tetap
menjaga amalan wirid hingga akhir hayat. Ustadz Rifki menyebut riwayat tentang
Nabi yang tidak pernah meninggalkan zikir dalam keadaan apa pun, serta sahabat
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib yang wafat dalam
keadaan tengah mendirikan atau menunaikan amalan ibadah.
“Ini
menunjukkan bahwa para sahabat menjaga wirid, dan tradisi itu diteruskan oleh
para sufi, dari Hasan al-Basri hingga Imam Junayd al-Baghdadi,” paparnya.
Imam Junayd dan Tasbih yang Tak Pernah Lepas
Ustadz
Rifki juga mengutip kisah Imam Junayd yang menurut riwayat tidak pernah
melepaskan tasbih sejak muda hingga tua. Ketika ditanya alasannya, Imam Junayd
menjawab bahwa wirid-lah yang mengantarkannya mencapai maqam ruhani yang ia
capai. “Meninggalkan wirid berarti meninggalkan sebab kedekatan dengan Allah,”
ulangnya menegaskan intisari pelajaran itu.
Prioritas: Wirid sebelum Warid
Dalam
penutupnya, Ustadz Rifki kembali menekankan bahwa wirid harus diutamakan
dibanding harapan memperoleh warid. “Wirid itu perintah Allah. Warid itu
keinginan hamba. Seorang sufi sejati lebih mengutamakan apa yang diperintah
Allah daripada apa yang ia inginkan,” ujarnya.
Ia
juga mengingatkan bahwa zikir dan amalan rutin tidak boleh diremehkan. “Ini
jalan ushul, jalan naik menuju Allah. Barang siapa meremehkan pintunya, ia
tidak akan sampai pada buah kewalian.”
Kajian diakhiri dengan doa dan salam penutup, seraya mengajak jamaah terus beristikamah dalam amalan dan menjaga perhatian utama pada wirid sebagai fondasi perjalanan spiritual.
