Detail Berita

Pentingnya Istiqomah dalam Ibadah

Bojonegoro — Dalam suasana sore yang hangat di Masjid Agung Darussalam, puluhan jamaah kembali mengikuti kajian hadis yang disampaikan oleh Ustadz Rifki Azmi. Pada kesempatan kali ini, Ustadz Rifki membahas hadis ke-85 yang mengangkat tema tentang istiqomah atau keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, Sabtu (9/8/2025).

Kajian Riyadhus Sholihin

Bojonegoro — Dalam suasana sore yang hangat di Masjid Agung Darussalam, puluhan jamaah kembali mengikuti kajian hadis yang disampaikan oleh Ustadz Rifki Azmi. Pada kesempatan kali ini, Ustadz Rifki membahas hadis ke-85 yang mengangkat tema tentang istiqomah atau keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT, Sabtu (9/8/2025).

Mengawali majelis, Ustadz Rifki memimpin pembacaan surah Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Rasulullah SAW, para sahabat, serta guru-guru umat Islam. Ia kemudian memanjatkan doa agar majelis ilmu tersebut mendapat rida dan keberkahan dari Allah SWT.

“Hadis kali ini mengajarkan pentingnya istiqomah dalam beramal. Amal yang dilakukan hanya sekali atau sesekali biasanya tidak membekas di hati,” ujarnya. “Sebaliknya, amal yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit, akan menumbuhkan ketenangan dan meninggalkan jejak mendalam.”

Untuk menggambarkan makna istiqomah, Ustadz Rifki menukil perumpamaan dari Imam Al-Ghazali. Ia menjelaskan, amal yang konsisten diibaratkan seperti tetesan air yang jatuh terus-menerus ke batu. Tetesan kecil itu, jika dilakukan tanpa henti, akan mampu melubangi batu yang keras.

“Hati manusia itu seperti batu. Jika amal dilakukan sedikit demi sedikit namun rutin, maka ia akan melunakkan hati dan menumbuhkan buah amal,” jelasnya. “Sebaliknya, amal besar yang dilakukan sekali saja, sering kali tidak meninggalkan bekas.”

Ia mencontohkan, seseorang yang membaca shalawat tiga kali setiap hari secara konsisten akan mendapatkan manfaat spiritual yang lebih besar daripada membaca sepuluh ribu kali dalam satu waktu lalu berhenti sama sekali.

Dalam penjelasan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Sufyan bin Abdillah RA, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, lalu beristiqomahlah.”

Ustadz Rifki menegaskan istiqomah adalah kelanjutan dari keimanan. “Iman itu pintu awal, sedangkan istiqomah adalah langkah panjangnya. Iman menuntun keyakinan, dan istiqomah membuktikan kesetiaan,” tuturnya.

Ia menambahkan, istiqomah tidak hanya soal ibadah besar seperti salat malam atau puasa, tetapi juga meliputi amal kecil yang dilakukan terus-menerus, seperti zikir, membaca Al-Qur’an, atau menjaga tutur kata.

Dalam bagian lain, Ustadz Rifki mengingatkan agar umat Islam tidak bersandar sepenuhnya pada amal ibadah yang telah dilakukan. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan surga tidak semata-mata diraih karena amal, melainkan karena rahmat dan kasih sayang Allah SWT.

“Tidak ada seorang pun yang selamat karena amalnya, bahkan Rasulullah sekalipun,” katanya. “Nabi masuk surga bukan karena banyaknya amal, tapi karena rahmat Allah. Maka jangan pernah merasa cukup dengan amal.”

Ustadz Rifki mencontohkan, orang yang sepanjang hidupnya bergelimang dosa bisa saja diampuni Allah bila ia bertobat dengan sungguh-sungguh sebelum wafat. Sebaliknya, seseorang bisa celaka jika merasa amalnya sudah cukup lalu berhenti berbuat baik.

“Bahaya kalau kita mengandalkan amal. Itu bisa membuat kita putus asa atau sombong. Amal yang banyak tetap penting, tapi jangan pernah lupa bahwa yang memberi kekuatan untuk beramal adalah Allah sendiri,” ujarnya.

Ia menyinggung pula keikhlasan Rasulullah SAW dalam beramal. Menurutnya, dua rakaat salat Nabi lebih berharga daripada ribuan rakaat salat umat biasa, karena dilakukan dengan ketulusan dan kesempurnaan batin.

“Kalau amal kita diibaratkan pasir satu truk, maka amal Nabi seperti segenggam berlian,” katanya. “Nilai bukan pada banyaknya, tapi pada kemurnian hati dan kesempurnaan niat.”

Memasuki bab selanjutnya, Ustadz Rifki menguraikan pentingnya tafakur atau perenungan mendalam terhadap ciptaan Allah. Ia menjelaskan, tafakur adalah proses “mengawinkan dua pengetahuan” untuk melahirkan pemahaman baru yang meneguhkan iman.

“Contohnya, ketika kita tahu bahwa akhirat lebih baik dari dunia, lalu kita sadar bahwa salat adalah urusan akhirat dan permainan dunia hanya kesenangan sesaat. Dari situ lahir kesimpulan baru bahwa salat lebih mulia daripada bermain,” paparnya.

Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim AS yang merenungi bintang, bulan, dan matahari. Setelah menyadari bahwa semua itu berubah dan bergerak, Nabi Ibrahim sampai pada kesimpulan bahwa hanya Allah-lah yang tidak berubah dan karena itu, hanya Dialah Tuhan yang sejati.

“Dari tafakur akan lahir rasa takut kepada Allah, lalu tumbuhlah hal-hal baik dalam hati: rasa kagum, syukur, dan kerendahan diri,” ujar Ustadz Rifki.

Menurutnya, penolakan terhadap kebenaran sering kali bukan karena akal, tetapi karena hati yang kotor oleh kesombongan, kedengkian, dan cinta dunia. Ia mencontohkan kisah Abu Jahal dan kaum munafik di Madinah yang menolak Nabi karena gengsi dan iri hati.

“Hati yang rusak sulit menerima kebenaran, meskipun mata sudah melihat dan telinga sudah mendengar,” ujarnya. “Maka bersihkan hati dengan zikir, karena zikir itulah obat dari kekerasan hati.”

Di akhir kajian, ustaz mengajak jamaah untuk merenungi keagungan ciptaan Allah melalui tanda-tanda alam. Ia mencontohkan bagaimana seekor sapi yang hanya memakan rumput mampu menghasilkan susu yang kaya gizi, atau bagaimana buah-buahan yang tumbuh di tanah dan disiram air yang sama bisa memiliki rasa yang berbeda.

“Itulah kehebatan Allah,” katanya dengan nada haru. “Melalui tafakur, kita akan semakin mengenal kebesaran-Nya dan semakin tunduk kepada-Nya.”

Kajian sore itu ditutup dengan doa bersama dan salawat. Jamaah pun meninggalkan masjid dengan langkah perlahan, membawa renungan tentang arti istiqomah dan kebersihan hati dalam menapaki jalan menuju Allah SWT.