Detail Berita

Pentingnya Memulia Kebaikan dan Bahaya Menebar Keburukan

Bojonegoro - Dalam kajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Agus Darussalam Bojonegoro, ustadz Rifki mengingatkan jamaah tentang hakikat kematian sebagai “kiamat kecil” bagi setiap manusia. Ia mengutip sabda Muhammad bahwa siapa pun yang meninggal dunia, maka bagi dirinya telah terjadi kiamat, Sabtu (7/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro - Dalam kajian kitab Riyadhus Sholihin yang digelar di Masjid Agus Darussalam Bojonegoro, ustadz Rifki mengingatkan jamaah tentang hakikat kematian sebagai “kiamat kecil” bagi setiap manusia. Ia mengutip sabda Muhammad bahwa siapa pun yang meninggal dunia, maka bagi dirinya telah terjadi kiamat, Sabtu (7/2/2026).

Menurutnya, manusia adalah miniatur alam semesta. Ketika Al Quran menggambarkan tanda-tanda kiamat, laut meluap, gunung-gunung hancur, maka dalam skala kecil, tanda-tanda serupa juga tampak pada diri manusia menjelang ajal. “Orang yang akan meninggal biasanya berkeringat dingin, tulangnya melemah. Itu seperti gambaran kecil dari kehancuran alam semesta,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tata cara ibadah tidak boleh diubah dengan alasan apa pun. Azan dan iqamat, misalnya, tetap sebagaimana tuntunan Nabi dan tidak boleh dimodifikasi. “Ibadah itu bersifat tauqifi, mengikuti ketentuan teks. Tidak bisa ditambah atau dikurangi,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ustadz Rifki juga membahas kewajiban yang harus diselesaikan sebelum pembagian warisan. Ia menjelaskan, ada tiga hal yang mesti didahulukan: wasiat, utang, dan zakat.

“Kalau seseorang meninggal meninggalkan harta, maka wasiatnya ditunaikan lebih dahulu, kemudian utang-utang diselesaikan, termasuk zakat yang belum dibayarkan. Setelah itu baru sisanya dibagikan kepada ahli waris sesuai ketentuan Al Quran,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa ilmu faraidh (ilmu waris) merupakan salah satu ilmu yang pertama kali akan diangkat dari muka bumi jika tidak dipelajari dan diamalkan. Karena itu, perselisihan dalam pembagian warisan sering kali muncul akibat ketidaktahuan terhadap aturan syariat.

Ustadz Rifki juga menyinggung kisah empati Nabi terhadap kaum yang tertimpa paceklik. Ketika mendengar penderitaan suatu kabilah, wajah Nabi berubah sedih dan beliau segera memerintahkan pengumpulan bantuan. Dari peristiwa itu, lahir sabda yang diriwayatkan oleh Muslim ibn al-Hajjaj tentang keutamaan memulai kebaikan.

“Barang siapa mempelopori satu kebaikan dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala dari amal itu dan pahala orang-orang yang mengikutinya,” ujarnya mengutip hadis riwayat Muslim.

Ia juga meluruskan pemahaman masyarakat tentang silaturahim. Menurutnya, silaturahim tidak terbatas pada kunjungan fisik, tetapi juga dapat berupa bantuan materi, doa, dan perhatian ketika kerabat membutuhkan.

Mengutip pandangan mazhab Hanafi, ia menjelaskan bahwa silaturahim kepada kerabat mahram hukumnya wajib, sedangkan kepada kerabat yang lebih jauh bersifat sunnah. “Memberi bantuan saat saudara membutuhkan, itu juga silaturahim. Bahkan doa pun termasuk,” katanya.

Di akhir pengajian, Ustadz Rifki mengajak jamaah untuk merenungkan bekal kehidupan akhirat. Setiap amal, sekecil apa pun, akan menjadi investasi di alam kubur dan hari kiamat.

“Lihatlah apa yang sudah kita siapkan untuk esok hari. Karena kematian itu pasti datang, dan saat itu, kiamat pribadi kita telah tiba,” tuturnya menutup kajian.