Detail Berita

Pentingnya Menjaga Hati dari Pengaruh Buruk Pendengaran

Bojonegoro, Membersihkan hati menjadi langkah awal yang ditekankan sebelum seseorang berdakwah atau memperbaiki diri. Hal itu mengemuka dalam sebuah kajian shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jumat, (6/2/2026).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro, Membersihkan hati menjadi langkah awal yang ditekankan sebelum seseorang berdakwah atau memperbaiki diri. Hal itu mengemuka dalam sebuah kajian shubuh yang digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Jumat, (6/2/2026).

Dalam tausiyahnya, KH. Moh. Shofiyulloh Mansyur mengingatkan bahwa salah satu penyebab hati menjadi kotor adalah kebiasaan mendengarkan hal-hal yang tidak benar. Kebiasaan itu, menurut beliau, membuat seseorang sulit menerima kebenaran dan nasihat yang baik.

Beliau merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Maidah yang menyinggung kebiasaan sebagian kalangan yang gemar mendengarkan kebohongan hingga berani mengubah-ubah kebenaran. “Apa yang sering kita dengar akan membentuk cara berpikir dan sikap kita. Jika yang didengar adalah kebatilan, lambat laun hati akan terbiasa dan menganggapnya wajar,” ujarnya.

Menurut Gus Moh, ketika hati sudah menyukai sesuatu yang keliru, maka kebenaran justru terasa asing dan tidak menyenangkan. Fenomena itu dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kebiasaan mendengarkan gosip, ujaran kebencian, hingga konten negatif di media sosial.

“Jika telinga terbiasa dengan hal-hal yang tidak baik, maka ketika mendengar ayat-ayat Al Quran atau nasihat agama, hati menjadi berat menerimanya,” katanya.

Gus Moh, juga menyoroti dampak kebiasaan tersebut terhadap anak-anak. Menurut Gus Moh, apa yang sering didengar anak, baik dari orang tua, teman, maupun media digital, akan terekam kuat dan memengaruhi perilaku mereka.

Gus Moh, mengingatkan orang tua untuk berhati-hati dalam berbicara, terutama saat marah. Ucapan yang terlontar tanpa sadar dapat ditiru anak dan menjadi kebiasaan. “Anak adalah peniru ulung. Apa yang didengar dan dilihat setiap hari akan membentuk karakter dan tutur katanya,” ujarnya.

Fenomena penggunaan telepon seluler sejak usia dini juga menjadi perhatian. Banyak orang tua, katanya, memberikan gawai agar anak tenang tanpa mengawasi konten yang dikonsumsi. Padahal, tidak semua konten di media sosial mengandung nilai edukatif atau etika yang baik.

“Anak-anak menyerap apa yang mereka dengar dan lihat. Jika yang dominan adalah ujaran kasar atau konten yang tidak mendidik, itu akan tercermin dalam perilaku mereka,” katanya.

Menurut Gus Moh, kebiasaan membaca dan mendengar turut menentukan kualitas hati. Gus Mohmembandingkan waktu yang dihabiskan untuk membaca Al Quran dengan waktu yang digunakan untuk mengakses media sosial.

“Banyak orang mampu berjam-jam melihat gawai, tetapi membaca Al Quran setengah jam saja terasa berat. Ini soal kebiasaan,” ujarnya.

Gus Moh, mengingatkan bahwa hati yang bersih tidak akan bosan mendengar dan membaca Al Quran. Sebaliknya, hati yang kotor akan sulit menerima cahaya petunjuk.

Selain berdampak pada aspek spiritual, kebiasaan tergesa-gesa memeriksa gawai juga dinilai berbahaya secara fisik. Gus Moh menyinggung maraknya kecelakaan lalu lintas akibat penggunaan telepon seluler saat berkendara. “Sering kali kita mengabaikan keselamatan demi kepentingan kecil yang sebenarnya bisa ditunda,” katanya.

Menutup tausiyah, Gus Moh, menekankan bahwa kunci memperbaiki kehidupan adalah menyucikan hati melalui taubat. Ia mengutip ayat Al Quran yang memerintahkan untuk beristighfar agar Allah menurunkan rahmat, termasuk kelapangan rezeki dan keturunan.

Menurut Gus Moh, berbagai persoalan hidup, baik terkait keluarga, rezeki, maupun cita-cita, hendaknya diawali dengan memperbaiki diri. “Jika ingin dimudahkan dalam mencapai tujuan, langkah pertama adalah bertaubat kepada Allah,” ujarnya.

Majelis ditutup dengan doa bersama, seraya berharap para jamaah mampu menjaga pendengaran, lisan, dan hati dari hal-hal yang merusak, serta membiasakan diri dengan kebenaran dan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.