Pentingnya Segera Berbuat Baik
Bojonegoro — Dalam suasana sore yang teduh, puluhan jamaah memenuhi serambi Masjid Agung Darussalam untuk mengikuti kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin. Dalam kesempatan itu, Ustadz Rifki Azmi mengupas pentingnya bersegera dalam melakukan kebaikan, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, Sabtu (16/08/2025).
Bojonegoro
— Dalam suasana sore yang teduh, puluhan jamaah memenuhi serambi Masjid Agung
Darussalam untuk mengikuti kajian rutin Kitab Riyadhus Sholihin. Dalam
kesempatan itu, Ustadz Rifki Azmi mengupas pentingnya bersegera dalam melakukan
kebaikan, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, Sabtu (16/08/2025).
Mengawali
kajian, Ustadz Rifki memimpin pembacaan surah Al-Fatihah yang dihadiahkan
kepada Rasulullah, para sahabat, dan para guru, termasuk Imam Nawawi. Ia
kemudian membuka kitab hadis yang membahas bab fî al-musâra‘ah ilâ
al-khairât: bersegera dalam melakukan kebajikan.
“Hadis
ini mengingatkan kita agar tidak menunda amal saleh,” ujarnya. “Allah
berfirman, fastabiqul khairât, berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.
Sebab, tidak ada jaminan umur akan sampai esok hari.”
Ia
menjelaskan, dalam ayat tersebut Allah mendahulukan lafaz maghfirah
(ampunan) sebelum jannah (surga). Menurutnya, hal itu mengandung makna
bahwa seseorang tidak mungkin masuk surga sebelum memperoleh ampunan dari Allah
SWT. “Orang tidak bisa masuk surga jika dosanya belum diampuni,” katanya.
Dalam
penjelasannya, Ustadz Rifki memaparkan tiga jalan utama untuk memperoleh
ampunan Allah: bertobat dengan sungguh-sungguh, memperbanyak amal saleh, dan
berharap mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW di hari akhir.
Ia
mencontohkan, jika seseorang berbuat dosa dengan telinga karena mendengar hal
yang dilarang, maka hendaknya ia menebusnya dengan amal ibadah yang melibatkan
pendengaran, seperti mendengarkan lantunan Al-Qur’an atau nasihat baik.
Demikian pula, dosa yang dilakukan dengan lisan dapat ditebus dengan membaca
Al-Qur’an, berzikir, dan bershalawat.
“Amal
saleh dapat menghapus keburukan. Karena itu, siapa pun yang terlanjur berbuat
dosa, jangan berputus asa. Lakukan kebaikan dengan anggota tubuh yang pernah
dipakai untuk maksiat,” ujarnya.
Ia
juga menyinggung pentingnya introspeksi diri di waktu malam. “Coba renungkan
sepuluh menit sebelum tidur, berapa waktu kita gunakan untuk mendengar,
berbicara, melangkah, dan berbuat. Jika ada yang salah, gantilah dengan amal
baik,” katanya.
Dalam
bagian berikutnya, Ustadz Rifki mengingatkan tentang sabda Nabi yang menandai
datangnya fitnah di akhir zaman. “Akan datang masa di mana seseorang pagi hari
masih beriman, sore hari telah menjadi kafir,” katanya mengutip hadis riwayat
Muslim.
Ia
menjelaskan, fitnah itu muncul ketika manusia dengan mudah menghalalkan perkara
yang jelas-jelas diharamkan Allah, seperti riba, zina, dan minuman keras.
“Menghalalkan yang haram berdasarkan ijma’ ulama bisa menjerumuskan pada
kekafiran,” tegasnya.
Ustadz
Rfiki juga menyoroti sikap sebagian orang yang gemar menuduh saudaranya kafir
atau sesat hanya karena perbedaan pandangan. “Rasulullah mengingatkan, siapa
yang menuduh saudaranya kafir padahal tidak demikian, maka tuduhan itu kembali
kepada dirinya sendiri,” ujarnya.
Di
akhir kajian, Ustadz Rifki menukil kisah sahabat Uqbah bin Harits yang
meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah terburu-buru meninggalkan majelis
setelah salat Asar. Para sahabat terkejut melihat Nabi bergegas keluar tanpa
wirid sebagaimana biasanya.
“Beliau
ingat ada emas di rumah yang belum dibagikan kepada yang berhak. Nabi tidak
ingin bermalam sementara amanah itu belum disampaikan,” terangnya.
Menurutnya,
sikap Rasulullah itu menjadi teladan bagi umat Islam untuk tidak menunda
menunaikan amanah dan sedekah, terutama ketika ada orang yang sangat
membutuhkan. “Kalau ada yang sudah jelas berhak menerima, segeralah tunaikan.
Jangan menunggu nanti,” ujarnya menutup kajian.
Usai menyampaikan materi, Ustadz Rifki menutup majelis dengan doa dan bacaan tasbih kafaratul majelis. Jamaah pun serentak mengaminkan doa, sebelum perlahan meninggalkan masjid sambil terus melafalkan shalawat.
