Detail Berita

Pentingnya Syukur, Istighfar, dan Pembiasaan Membaca Al-Qur’an

Bojonegoro — Ustadz Kholilurrochman mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah dan memanfaatkan waktu hidup sebagai kesempatan memperbaiki diri. Kuliah Shubuh yang disampaikan dengan bahasa lugas dan penuh contoh keseharian itu menekankan pentingnya keseimbangan antara istighfar dan rasa syukur, Ahad (9/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro — Ustadz Kholilurrochman mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah dan memanfaatkan waktu hidup sebagai kesempatan memperbaiki diri. Kuliah Shubuh yang disampaikan dengan bahasa lugas dan penuh contoh keseharian itu menekankan pentingnya keseimbangan antara istighfar dan rasa syukur, Ahad (9/11/2025).

Pengajian dimulai dengan ajakan untuk memanjatkan puji ke hadirat Allah. Ustadz Kholil mengingatkan jamaah bahwa kemampuan untuk tetap beribadah, berjamaah, dan menjalankan kewajiban agama merupakan bagian dari rahmat yang sering tidak disadari. Ia menekankan bahwa salah satu nikmat terbesar adalah ketika Allah masih menunda balasan atas maksiat manusia.

“Kalau kita berbuat maksiat, Allah tidak serta-merta mengazab kita. Allah masih memberi jeda, memberi kesempatan untuk beristighfar,” ujarnya. Menurutnya, panjangnya umur seseorang bisa jadi merupakan bentuk ruang yang Allah berikan untuk memperbanyak permohonan ampun.

Syukur dan Istighfar Harus Berjalan Beriringan

Penceramah mengingatkan agar umat tidak terjebak dalam perasaan bersalah berkepanjangan. Menurutnya, mengingat dosa memang penting, namun hanya fokus pada kesedihan akan membuat seseorang patah semangat.

“Yang baik itu seimbang. Kita ingat dosa kita, tapi juga ingat nikmat Allah yang begitu banyak. Istighfar perlu, tapi syukur juga harus,” katanya. Ia mengimbau jamaah untuk membiasakan mengucapkan astaghfirullahaladzim sekaligus alhamdulillahi rabbil ‘alamin sebagai bentuk harmonis dari taubat dan rasa terima kasih kepada Allah.

Menghafal dan Memahami Bacaan Surat Al-Fatihah

Dalam sesi ceramah, ustadz  Kholil juga menyinggung pentingnya menjaga kualitas bacaan Al-Fatihah sebagai syarat sah salat. Ia mencontohkan sejumlah kekeliruan yang kerap ditemui dalam masyarakat, seperti pengucapan huruf dalam ayat ihdinas shirathal mustaqim atau panjang-pendek bacaan maaliki yaumiddin.

Ustadz Kholil bercerita tentang seorang jamaah yang baru menyadari perbedaan antara huruf sin dan shod setelah bertahun-tahun membaca Al-Fatihah. Pengalaman itu, menurutnya, menjadi bukti pentingnya belajar membaca Al-Qur’an meskipun usia tidak lagi muda.

“Belajar itu tidak ada batasan umur. Yang penting prosesnya, bukan hasilnya. Allah tidak menuntut kita sempurna, tetapi menuntut usaha,” tuturnya.

Mengajak Umat Membaca Al-Qur’an dari Awal hingga Akhir

Ustadz Kholil kemudian berbagi pengalaman pribadi sebagai imam sejak beberapa tahun pasca pandemi. Ia menceritakan bahwa dirinya memulai bacaan salat berjamaah dari Surat Al-Fatihah dan terus berlanjut hingga khatam beberapa tahun kemudian.

Ajakan tersebut ditujukan kepada jamaah agar tidak hanya membaca surat-surat pendek atau surat tertentu saja, tetapi membiasakan membaca Al-Qur’an secara utuh. “Satu hari satu ayat tidak apa-apa. Yang penting dibaca. Yang repot itu bukan karena tidak lancar, tetapi ketika seseorang tidak mau membaca Al-Qur’an,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk seluruh umat, anak muda, orang dewasa, hingga lansia. Bahkan ia mencontohkan seorang tuna netra yang mampu menghafal 30 juz dengan tuntunan gurunya.

Belajar Meski Usia Tidak Lagi Muda

Dalam penjelasannya, Ustadz Kholil memahami bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an memang semakin sulit dipelajari seiring bertambahnya usia. Namun ia menekankan bahwa Allah menghargai proses, bukan semata hasil akhir.

“Orang yang belajar Al-Qur’an lalu meninggal sebelum lancar, itu seperti pohon yang ditebang. Kelak tunasnya tumbuh pada anak dan cucunya. Belajar kita tidak sia-sia,” ujarnya.

Ia mengajak jamaah untuk memulai dari kemampuan yang paling dasar, seperti membaca Al-Fatihah atau surat Al-Mulk sebelum tidur, sembari terus berusaha menambah kemampuan membaca ayat-ayat lain.

Penutup: Mengabdi kepada Allah Lewat Al-Qur’an

Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Kholil berdoa agar Al-Qur’an menjadi sumber keberkahan dalam kehidupan umat. Ia mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an dapat dilakukan di mana pun selama dalam keadaan suci.

“Semoga hidup kita diberkahi Al-Qur’an, dan semoga Allah meridai usaha kita untuk mengabdi melalui Al-Qur’an,” tutupnya.