Peran Perempuan dan Kepedulian Keluarga dalam Islam
Kajian kitab Riyadhus Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro. Dalam kesempatan tersebut, Ust. Rifki Azmi menyoroti peran penting perempuan dalam Islam, tanggung jawab orang tua, serta nilai kepedulian terhadap anggota keluarga dan kaum lemah, Kamis (12/3/2026).
Kajian
kitab Riyadhus
Sholihin kembali digelar di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro.
Dalam kesempatan tersebut, Ust. Rifki Azmi menyoroti peran penting perempuan
dalam Islam, tanggung jawab orang tua, serta nilai kepedulian terhadap anggota
keluarga dan kaum lemah, Kamis (12/3/2026).
Kajian diawali dengan pembacaan
Surat Al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta
para ulama sebagai bentuk penghormatan terhadap sanad keilmuan.
Dalam
pemaparannya, Ust. Rifki menjelaskan hadits yang menyebutkan bahwa siapa pun
yang merawat dan mendidik dua anak perempuan dengan baik hingga dewasa, maka
kelak akan bersama Rasulullah SAW di hari kiamat.
Menurutnya, hadits tersebut menjadi
bukti bahwa Islam datang untuk menghapus budaya diskriminatif terhadap
perempuan yang terjadi pada masa Arab Jahiliyah.
“Dulu, anak perempuan dianggap
tidak berharga, bahkan ada yang sampai dikubur hidup-hidup. Islam justru
mengangkat derajat perempuan dan menjadikannya jalan menuju surga,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan anak
perempuan dalam keluarga harus disyukuri dan dididik dengan penuh tanggung
jawab, baik dari sisi keimanan maupun pendidikan.
Dalam
kajian tersebut juga disampaikan kisah dari Aisyah
binti Abu Bakar yang menceritakan seorang ibu miskin bersama dua
anaknya. Saat diberi makanan yang sangat terbatas, sang ibu lebih memilih
mendahulukan anak-anaknya daripada dirinya sendiri.
Ust. Rifki menilai kisah ini
sebagai gambaran nyata pengorbanan orang tua, khususnya ibu, dalam membesarkan
anak.
“Kesuksesan anak tidak datang
tiba-tiba. Di baliknya ada pengorbanan orang tua yang sering kali tidak
terlihat,” ujarnya.
Ia
juga mengingatkan pentingnya keadilan dalam memperlakukan anak. Orang tua
dilarang membeda-bedakan kasih sayang karena hal tersebut dapat berdampak buruk
pada hubungan keluarga di masa depan.
“Bisa jadi anak yang kurang diperhatikan
justru yang paling berbakti di kemudian hari. Maka, bersikap adil adalah
kewajiban,” katanya.
Dalam
penjelasan lainnya, Ust. Rifki mengutip hadits yang menyebutkan bahwa
pertolongan dan rezeki seseorang bisa datang karena keberadaan orang-orang
lemah di sekitarnya, termasuk anak-anak dan keluarga.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan
seseorang tidak semata karena kemampuan pribadi, tetapi juga karena doa dan
keberkahan dari orang-orang yang bergantung kepadanya.
“Jangan sombong dengan jabatan atau
kekayaan. Bisa jadi itu semua karena doa anak-anak kita atau orang-orang lemah
di sekitar kita,” tegasnya.
Selain
itu, Ust. Rifki juga menjelaskan hadits tentang perlakuan terhadap perempuan.
Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki karakter khas yang harus dipahami, bukan
dipaksakan untuk berubah.
“Islam tidak merendahkan perempuan.
Justru mengajarkan bagaimana memperlakukan mereka dengan baik, memahami
sifatnya, dan menjaga keharmonisan rumah tangga,” jelasnya.
Kajian
ditutup dengan doa bersama yang ditujukan kepada kaum muslimin, khususnya untuk
almarhumah Ibu Murtini agar mendapatkan ampunan dan kelapangan kubur.
Kegiatan ini berlangsung khidmat dan diikuti jamaah dengan antusias. Diharapkan, nilai-nilai yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam membangun keluarga yang harmonis dan penuh kepedulian sosial.
