Perbanyak Zikir dan Jaga Shalat, Kunci Meraih Husnul Khatimah
Bojonegoro — KH. Abdul Aziz Ahmad dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga zikir, memperhatikan adzan, serta menegakkan salat di awal waktu. Menurutnya, kebiasaan tersebut menjadi salah satu tanda keimanan dan jalan menuju husnul khatimah, yakni meninggal dalam keadaan baik, Senin (20/10/2025).
Bojonegoro
— KH. Abdul Aziz Ahmad dalam kajian Shubuh di Masjid Agung Darussalam
Bojonegoro, mengingatkan jamaah untuk selalu menjaga zikir, memperhatikan
adzan, serta menegakkan salat di awal waktu. Menurutnya, kebiasaan tersebut
menjadi salah satu tanda keimanan dan jalan menuju husnul khatimah, yakni
meninggal dalam keadaan baik, Senin (20/10/2025).
“Semoga
keimanan dan keislaman kita tetap terjaga hingga ajal menjemput. Akhir hayat
kita semoga ditutup dengan kalimat la ilaha illallah, agar kelak dapat
masuk surga Allah,” tuturnya membuka ceramah.
Dalam
penjelasannya, KH. Abdul Aziz Ahmad mengutip pandangan Imam As-Suyuthi tentang
pentingnya menjawab adzan. Menurutnya, ketika muadzin mengumandangkan adzan,
seorang muslim hendaknya menjawab seperti ucapan muadzin, kecuali pada lafaz hayya
‘alash shalah dan hayya ‘alal falah yang dijawab dengan la haula
wala quwwata illa billah.
“Siapa
yang tidak memperdulikan adzan, berbicara saat adzan berkumandang, itu
dikhawatirkan akan mendapatkan akhir hidup yang buruk (su’ul khatimah).
Karena adzan adalah panggilan Allah,” ujarnya.
Ia
menambahkan, dahulu masyarakat sangat menghormati suara adzan. Banyak orang tua
di kampung-kampung yang sengaja menghentikan aktivitasnya dan mematikan radio
kecil untuk mendengarkan adzan.
Dalam
kesempatan itu, ia juga menguraikan pendapat sejumlah ulama tentang empat
penyebab utama seseorang meninggal dalam keadaan su’ul khatimah.
Pertama,
meremehkan salat. Kedua, meminum minuman keras. Ketiga, durhaka kepada kedua
orang tua. Dan keempat, menyakiti sesama muslim.
“Orang
yang memperhatikan salat akan bersegera ketika adzan berkumandang. Ia akan
menunaikan salat di awal waktu, bahkan ketika sedang bepergian,” jelasnya.
Menurutnya,
kebiasaan menjaga salat menjadi penentu keimanan seseorang. “Ketika salat sudah
menjadi kebutuhan, hati akan merasa lapang. Imam Al-Ghazali menjelaskan, hati
yang lapang setelah salat adalah tanda dosa diampuni oleh Allah,” lanjutnya.
Dalam
bagian lain, KH. Abdul Aziz Ahmad juga menekankan pentingnya berbakti kepada
orang tua. Ia menuturkan, durhaka kepada orang tua bisa menjadi sebab
ditutupnya pintu rezeki dan kesulitan hidup di dunia.
“Lihatlah
hubungan kita dengan orang tua. Bisa jadi hidup kita sulit karena belum ridha
orang tua,” katanya.
Ia
kemudian menyinggung kisah sahabat Al-Qomah, yang menjelang wafatnya sulit
mengucapkan kalimat la ilaha illallah karena ibunya masih merasa kecewa.
Setelah sang ibu memaafkannya, Al-Qomah akhirnya dapat mengucapkan syahadat dan
meninggal dunia dengan tenang.
“Ridha
Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka
orang tua,” tegasnya.
Selainitu,
KH. Abdul Aziz Ahmad juga mengingatkan agar umat Islam tidak saling menyakiti,
baik melalui ucapan maupun perbuatan. Ia menyoroti maraknya fitnah di dunia
maya dan kehidupan sosial yang kerap menimbulkan permusuhan.
“Fitnah
itu seperti api yang membakar kebaikan. Nabi sudah memperingatkan, fitnah itu
tidur, dan Allah melaknat orang yang membangunkannya,” ujarnya.
Selanjutnya,
ceramah diakhiri dengan doa agar seluruh jamaah diberi keteguhan iman hingga
akhir hayat.
“Semoga kita semua dijaga Allah, diberi kekuatan untuk istiqamah berzikir, dan ditutup hidup kita dengan husnul khatimah,” tutupnya dengan doa penuh harap.
