Peristiwa Perpindahan Kiblat dan Ujian Ketaatan Umat
Bojonegoro, Peristiwa besar perpindahan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis di Palestina ke Masjidil Haram di Makkah menjadi pokok bahasan dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam, Bojonegoro,Rabu (28/1/2026). Kajian tersebut menekankan bahwa peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban itu bukan sekadar perubahan arah salat, melainkan ujian ketaatan, identitas, dan persatuan umat Islam.
Bojonegoro,
Peristiwa besar perpindahan kiblat umat Islam dari Baitul Maqdis di Palestina
ke Masjidil Haram di Makkah menjadi pokok bahasan dalam kuliah Shubuh di Masjid
Agung Darussalam, Bojonegoro,Rabu (28/1/2026). Kajian tersebut menekankan bahwa
peristiwa yang terjadi pada bulan Sya’ban itu bukan sekadar perubahan arah
salat, melainkan ujian ketaatan, identitas, dan persatuan umat Islam.
Di hadapan jamaah, Ustadz Yogi mengawali
kajian dengan mengajak bersyukur atas nikmat iman dan Islam yang masih
dianugerahkan Allah SWT. Kedua nikmat tersebut, menurutnya, merupakan karunia
terbesar yang harus dijaga hingga akhir hayat agar seorang muslim wafat dalam
keadaan husnul khatimah.
Memasuki bulan Sya’ban, Ustadz Yogi
mengingatkan adanya peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni perubahan
kiblat sebagaimana difirmankan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 144. Ayat
tersebut menegaskan perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memalingkan wajah
ke arah Masjidil Haram, sekaligus perintah yang sama bagi seluruh umat Islam di
mana pun berada.
Berdasarkan tafsir Ibnu Katsir yang
dikutip dalam kajian, dijelaskan bahwa ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah,
mayoritas penduduk kota itu adalah kaum Yahudi. Pada masa awal hijrah, Nabi
Muhammad SAW diperintahkan menghadap kiblat ke Baitul Maqdis selama sekitar 16
hingga 17 bulan. Namun, Rasulullah SAW sejatinya merindukan kiblat Nabi Ibrahim
AS, yakni Ka’bah di Masjidil Haram.
“Rasulullah senantiasa menengadahkan
wajah ke langit, menantikan perintah Allah. Hingga akhirnya turun ayat yang
memerintahkan perpindahan kiblat,” ujar Ustadz Yogi.
Peristiwa itu, lanjutnya, membuat
kaum Yahudi yang semula gembira menjadi kecewa, sementara orang-orang munafik
mempertanyakannya. Dari sinilah tampak bahwa perpindahan kiblat merupakan ujian
keimanan: siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW dan siapa yang justru
berpaling.
Menurut Ustadz Yogi, bulan Sya’ban
dipilih sebagai waktu terjadinya peristiwa tersebut karena bulan ini kerap
dilalaikan, berada di antara Rajab dan Ramadan. Ujian ketaatan justru hadir
pada waktu yang sering diabaikan manusia.
Dalam kajian itu disampaikan pula
sejumlah hikmah dari perpindahan kiblat. Pertama, sebagai ujian ketaatan umat
Islam untuk tunduk sepenuhnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sikap
seorang mukmin sejati, kata Ustadz Yogi, adalah “sami’na wa
atha’na”, mendengar dan menaati, meskipun secara logika manusiawi
terkadang terasa berat.
Kedua, perpindahan kiblat menjadi
penegasan identitas umat Islam sebagai umat yang memiliki tauhid murni, sikap
moderat (wasathiyah), dan syariat yang terjaga orisinalitasnya. Al-Qur’an,
dengan bahasa Arab sebagai sumber tunggalnya, disebut sebagai salah satu
kekhasan yang membedakan Islam dari agama lain.
Ketiga, peristiwa tersebut
merupakan bentuk penghormatan dan penghiburan Allah kepada Rasulullah SAW. Ustadz
Yogi menjelaskan bahwa setiap kali Rasulullah menghadapi kesedihan atau beban
berat, Allah selalu menurunkan ayat-ayat penguat, sebagaimana dalam peristiwa
Isra Mi’raj dan turunnya ayat-ayat penghibur dalam Al-Qur’an.
Keempat, perpindahan kiblat menjadi
simbol persatuan umat Islam. Dengan kiblat yang sama, Tuhan yang sama, dan Nabi
yang sama, umat Islam seharusnya tidak terpecah hanya karena perbedaan cabang
atau persoalan furu’iyah. Perpecahan, menurut Ustadz Yogi, sering kali lahir
dari penyakit hati, fanatisme golongan, dan kepentingan duniawi yang dibungkus
dengan agama.
Kelima, perpindahan kiblat
menghapus fanatisme kesukuan yang menguat pada masa jahiliah. Islam datang
dengan menyatukan umat dalam satu arah dan satu tujuan ibadah.
Kajian Subuh tersebut ditutup dengan ajakan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, serta menjaga adab dalam perbedaan. Jamaah diingatkan bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, kesederhanaan iman, serta persatuan umat adalah fondasi utama dalam menjalani kehidupan beragama.
