Detail Berita

Perkuat Ilmu dan Salat sebagai Kunci Keberkahan

Bojonegoro - Ustadz Khafif Ahmaruddin menyampaikan pesan penting mengenai urgensi ilmu agama dan kualitas ibadah di tengah berbagai tantangan moral pada masyarakat modern dalam tausiyahnya dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Selasa (11/11/2025).

Kuliah Shubuh

Bojonegoro - Ustadz Khafif Ahmaruddin menyampaikan pesan penting mengenai urgensi ilmu agama dan kualitas ibadah di tengah berbagai tantangan moral pada masyarakat modern dalam tausiyahnya dalam kuliah Shubuh di Masjid Agung Darussalam Bojonegoro, Selasa (11/11/2025).

 

Dalam tausiyahnya, ustadz Khafif mengutip dawuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menyebut bahwa “orang yang berjalan mencari ilmu agama sama dengan berjalan menuju surga, sementara orang yang menuju kemaksiatan sejatinya tengah berjalan menuju neraka.”

 

Ia menekankan bahwa setan senantiasa menggoda manusia agar menjauh dari dua hal pokok: salat dan talabul ilmi (menuntut ilmu). “Setan tahu, ketika manusia menjaga salat, ia akan mudah mendapatkan pertolongan Allah. Maka salat menjadi godaan pertama,” ujarnya.

 

Selanjutnya, Ustadz Khafif menyoroti fenomena masyarakat yang rajin melakukan amalan tambahan seperti sedekah dan sholawat, namun kurang menjaga kekhusyukan dan konsistensi salat. Ia mencontohkan seorang jamaah yang rajin membaca ribuan sholawat untuk memohon kelancaran rezeki, tetapi salat berjamaahnya masih sering terlewat.

“Amal apa pun, secepat apa pun fadilahnya, tetap harus berpijak pada salat yang berkualitas. Kunci diterimanya seluruh amal adalah salat,” tegasnya.

Ia mengingatkan jamaah agar tidak merasa sia-sia ketika mengikuti pengajian meski merasa kesulitan memahami seluruh materi. Ia menceritakan kisah seorang santri yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari majelis ilmu, lalu diberi perumpamaan oleh gurunya: “Sebutir kurma memang tidak langsung membuat kenyang, tetapi sari-sarinya tetap menjadi energi dalam tubuh.”

Demikian pula ilmu agama, katanya, akan memperkuat hati dan rohani meski tidak selalu terasa secara langsung. “Ilmu itu daharan ruh. Tanpa ilmu, hati akan kering dan rapuh.”

Selain itu, dalam tausiyahnya, Ustadz Khafif juga menyinggung pentingnya menghormati ulama dan mengambil keberkahan melalui layanan, doa, dan sedekah kepada ahli ilmu, sebuah praktik yang banyak dicontohkan para ulama terdahulu.

Ia mengisahkan perjalanan Imam Al-Ghazali yang tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya, seorang pekerja pemintal kapas, rutin mengikuti pengajian, bersedekah kepada para ulama, serta berdoa agar anaknya kelak menjadi ahli agama. “Tirakat bertahun-tahun itu tidak sia-sia. Allah mengangkat derajat anak-anaknya menjadi ulama besar,” ujarnya.

Dibagian lainnya, Ustadz Khafif mengingatkan bahwa dalam hadis disebutkan, akan datang masa ketika umat menjauhi dan mengabaikan ulama. Pada masa itu, menurutnya, Allah menurunkan tiga musibah besar: Pertama, Dicabutnya keberkahan rezeki. Ia menuturkan contoh seorang jamaah yang merasa penghasilannya besar namun terus “menguap” tanpa keberkahan, sebelum akhirnya kembali menata ibadah dan kehidupannya. Kedua, Munculnya penguasa-penguasa zalim. Kebijakan yang merugikan rakyat, menurutnya, sering muncul ketika umat semakin jauh dari ulama. Ketiga, Matinya hati sebelum matinya jasad. Ini disebut sebagai musibah terbesar yang dapat menjerumuskan seseorang pada akhir hidup yang buruk.

Untuk menghindari kekeliruan dalam mengikuti tokoh agama, ia menyebutkan empat ciri ulama yang benar: Pertama, Ulama yang mewakafkan hidupnya untuk ilmu. Waktunya banyak tercurah untuk mengaji dan mengajar. Kedua, Ulama yang memancarkan ketakwaan. Kehadirannya membuat orang lain terdorong untuk beribadah. Ketiga, ulama yang memandang umat dengan kasih sayang dan keempat, ulama yang mengajak pada persatuan dan kerukunan, bukan pertikaian.

Terakhir Ustadz Khafif menutup kajiannya dengan doa agar umat Islam senantiasa dimudahkan dalam menuntut ilmu, menjaga salat, serta selalu berada dalam bimbingan ulama yang lurus.